Membaca Tanpa Baca

Rokib Mo. Dosen Sastra Indonesia Unesa; Visiting Scholar di National University of Singapore

Ada pemandangan yang semakin dinormalisasi di ruang kuliah. Mahasiswa datang membawa laptop, tablet, atau gawai pintar. Buku cetak semakin jarang terlihat. Ketika dosen memberikan artikel dua puluh halaman, sebagian mahasiswa tidak lagi membacanya dari awal sampai akhir. File PDF dibuka di layar, dicari kata kuncinya, dibaca beberapa bagian yang dianggap penting. Kini bahkan ada jalan yang lebih pendek: unggah dokumen ke kecerdasan buatan (AI), lalu minta ia membuat ringkasan.

Dalam hitungan detik, puluhan halaman berubah menjadi beberapa paragraf. Jika masih terlalu panjang, AI bisa diminta meringkasnya lagi. Mahasiswa bahkan dapat bertanya: Apa argumen utama penulis? Apa konsep terpenting dalam artikel ini? Apa kelemahannya? Bandingkan dengan teori lain. Buatkan lima pertanyaan untuk diskusi kelas.

Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Inside Higher Ed pada 2024 melaporkan bagaimana mahasiswa di Amerika Serikat semakin mengandalkan video, podcast, ringkasan, dan ChatGPT untuk menghadapi bacaan kuliah. Seorang mahasiswa sejarah yang diwawancarai bahkan mengaku memasukkan bacaan wajibnya ke ChatGPT untuk mendapatkan ringkasan. Alasannya sangat masuk akal: terlalu banyak bacaan dan terlalu sedikit waktu.

Penggunaan AI di perguruan tinggi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Survei Inside Higher Ed pada 2025 menemukan 85 persen mahasiswa yang disurvei telah menggunakan AI generatif untuk kegiatan perkuliahan dalam setahun terakhir. Penggunaannya

bermacam-macam, mulai mencari ide, bertanya layaknya kepada tutor, belajar untuk ujian, hingga membuat ringkasan.

Kita sedang menyaksikan perubahan penting. Dahulu perdebatan kita adalah buku cetak versus layar. Sekarang persoalannya bukan lagi di mana kita membaca, melainkan apakah kita masih perlu membaca.

AI memungkinkan kita memperoleh ringkasan, gagasan utama, perbandingan, bahkan interpretasi sebuah buku tanpa sungguh-sungguh menelusuri halaman demi halamannya. Kita mendapatkan hasil bacaan tanpa menjalani proses membaca. Barangkali inilah paradoks baru dalam kehidupan akademik kita: membaca tanpa baca.

Dari Layar ke AI

Kekhawatiran terhadap membaca melalui layar sebenarnya sudah muncul jauh sebelum ChatGPT. Berbagai penelitian membandingkan pemahaman ketika seseorang membaca teks yang sama pada kertas dan layar.

Meta-analisis Yiren Kong, Young Sik Seo, dan Ling Zhai (2018) terhadap 17 penelitian menemukan bahwa membaca melalui kertas menghasilkan pemahaman yang lebih baik daripada membaca melalui layar, meskipun tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam kecepatan membaca.

Penelitian lain oleh Virginia Clinton (2019) yang menggabungkan 33 studi dengan 2.799 peserta juga menemukan keunggulan kecil tetapi nyata pada kertas dibandingkan layar. Menariknya, perbedaan itu terutama terlihat pada teks ekspositoris yaitu jenis teks yang justru banyak kita baca dalam kegiatan akademik.

Namun, AI membawa persoalan ini satu langkah lebih jauh. Layar masih mengharuskan kita membaca. AI menawarkan kemungkinan untuk tidak melakukannya.

Naomi S. Baron, profesor emerita linguistik di American University, menyebut gejala tersebut dalam esainya, “AI Can Make Reading Books Feel Obsolete—and Students Have a Lot to Lose” (2025). Menurut Baron, AI sedang mengubah hubungan kita dengan buku karena teknologi ini bukan sekadar membantu menemukan bacaan. Ia dapat melakukan pekerjaan membaca untuk kita: meringkas, menganalisis, membandingkan, dan menyintesiskan sejumlah teks sekaligus.

Dahulu mahasiswa sastra yang tidak membaca novel mungkin mencari ringkasannya. Tetapi ringkasan hanya memberi jalan pintas menuju isi cerita. Mahasiswa masih harus membandingkan dua novel, menemukan hubungan antargagasan, atau membangun argumentasinya sendiri.

AI dapat mengambil alih pekerjaan intelektual itu sekaligus.

Apa yang Hilang?

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Masalahnya bukan karena ringkasan AI selalu buruk. Justru sebaliknya: semakin baik AI membuat ringkasan, semakin besar godaan untuk tidak membaca sumber aslinya.

Padahal membaca bukan sekadar memindahkan informasi dari halaman ke kepala.

Ketika membaca buku, kita menentukan sendiri bagian mana yang penting. Kita menghubungkan gagasan pada halaman 20 dengan sesuatu yang baru kita temukan pada halaman 150. Kita berhenti karena tidak memahami sebuah kalimat, kembali ke halaman sebelumnya, berubah pikiran, menemukan kontradiksi, atau justru memperoleh gagasan yang tidak sedang kita cari.

Baron mengingatkan bahwa ketika pekerjaan itu diserahkan kepada AI, yang dikeluarkan dari proses tersebut justru kemampuan menilai sendiri apa yang relevan dan membuat hubungan antargagasan.

Dengan kata lain, AI dapat memberikan hasil membaca, tetapi hasil membaca tidak selalu sama dengan pengalaman membaca.

Perbedaannya menjadi semakin jelas ketika yang dibaca adalah sastra. Kita tidak membaca Laskar Pelangi, Bumi Manusia, atau The Old Man and the Sea semata-mata untuk mengetahui apa yang terjadi pada tokohnya. Ringkasan lima paragraf mungkin mampu menjelaskan alur, tokoh, konflik, bahkan tema novel dengan tepat. Tetapi mengetahui semua itu belum berarti kita telah membaca novelnya.

Ada pengalaman bahasa, imajinasi, emosi, kejutan, kebosanan, dan perjumpaan personal dengan teks yang tidak dapat dipadatkan menjadi poin-poin.

Membaca yang Tidak Efisien

AI menawarkan sesuatu yang sangat menggoda dalam kehidupan akademik: efisiensi. Seratus halaman dapat menjadi satu halaman. Lima artikel dapat disintesiskan dalam beberapa menit. Sebuah buku dapat “dipahami” tanpa harus menghabiskan beberapa hari untuk membacanya.

Tetapi mungkin justru di sinilah kita perlu mempertanyakan obsesi kita terhadap efisiensi. Tidak semua kegiatan intelektual harus dipercepat.

Berjalan kaki memang lebih lambat daripada mengendarai mobil, tetapi orang tetap berjalan karena perjalanan itu sendiri mempunyai nilai. Demikian pula membaca. Waktu yang kita habiskan untuk bergulat dengan sebuah buku bukan selalu waktu yang terbuang. Proses lambat itulah yang melatih perhatian, kesabaran, penilaian, dan kemampuan membangun hubungan di antara gagasan.

Karena itu, tantangan pendidikan bukan melarang mahasiswa menggunakan AI. Larangan semacam itu semakin sulit dilakukan dan belum tentu bijaksana. AI dapat menjadi teman membaca yang sangat berguna: menjelaskan konsep yang sulit, memberi konteks, membantu menemukan sumber, atau menjadi teman berdiskusi setelah membaca.

Yang perlu kita cegah adalah perubahan dari AI untuk membantu membaca menjadi AI sebagai pengganti membaca. Jika yang kedua menjadi kebiasaan, “membaca tanpa baca” bukan lagi sekadar jalan pintas menghadapi tugas kuliah, melainkan cara baru kita berhubungan dengan pengetahuan.

Di tengah kecanggihan mesin yang dapat membaca ribuan halaman dalam hitungan detik, membaca buku secara perlahan mungkin tampak sebagai kegiatan yang kuno dan tidak efisien. Tetapi pendidikan bukan hanya soal seberapa cepat seseorang memperoleh jawaban.

Pendidikan juga menyangkut bagaimana seseorang sampai pada jawaban itu.

Jika mesin semakin pandai membaca untuk kita, pertanyaan terpenting bagi universitas mungkin bukan lagi apakah mahasiswa mampu menggunakan AI. Pertanyaannya justru lebih sederhana: apakah mereka masih mau membaca sendiri dengan jenak? @TimHumasUnesa

id_IDID