Keputusan Eko Prasetyo memilih IKIP Surabaya—kini Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada akhir 1980-an memang bukan keputusan yang populer di kalangan teman-teman seangkatannya. Namun, justru dengan keputudsn itu, lulusan SMA Negeri 1 Sidoarjo itu berhasil menggapai cita-citanya menjadi guru, dan bahkan kini sukses berkarier sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.
Alumni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesiaangkatan 1989 itu mengawali pendidikan di SDN Kalipecabean 1 Candi. Ia lalu melanjutkan pendidikan menengah pertama dan menengah atas di di SMPN 1 Candi dan SMAN 1 Sidoarjo. Kecintaannya pada dunia pendidikan, memantapkan Eko memilih S1 IKIP Surabaya (Unesa) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, dan lulus pada 1994.
Selama berkuliah, Eko tak hanya duduk di ruang kelas. Ia juga menjalani aktivitas kemahasiswaan dengan aktif di Senat Fakultas, bahkan sempat dipercaya sebagai Ketua IV. Perpaduan kecerdasan akademik dan aktivis organisasi, ia pun menjadi salah satu penerima beasiswa Gudang Garamdan Beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas (TID), sebuah beasiswa yang kala itu hanya diberikan kepada mahasiswa berprestasi dan aktivis kampus.
Sebagai penerima beasiswa TID, tak lama setelah wisuda, Eko menerima SK penempatan mengabdi di daerah. Ia mendapatkan penempatan sebagai guru di SMAN 1 Padang Ratu, Lampung Tengah, selama lima tahun. Bagi seseorang yang belum pernah merantau jauh, Lampung Tengah menjadi pengalaman hidup yang tak mudah. Namun, ia menjalaninya tanpa ragu. “Karena niat awalnya memang jadi guru, ya berangkat saja meskipun jauh,” ujarnya.
Bagi suami dari Suryaningrum Saidah tersebut, masa tugas tersebut menjadi sekolah kehidupan yang membentuk karakter, ketangguhan, serta pemahaman mendalam tentang keragaman kondisi pendidikan di Indonesia. Selama lima tahun (1994–1999)mengabdi di Lampung menjadi bekal penting sebelum ke tanah kelahirannya, Sidoarjo.
Pada 1999, ia kembali ke Jawa Timur dan bertugas di SMAN 1 Sidoarjo yang merupakan sekolah almamaternya. Namun, Eko menceritakan, proses kembali ke Sidoarjo pun tidak instan. Ia terlebih dahului harus bolak-balik mengurus mutasi hingga tiga kali ke Jakarta. “Alhamdulillah, senang akhirnya berkesempatan mengabdi di almamater saya dulu, SMAN 1 Sidoarjo,’’ ujarnya mengenang.
Sebelum mendapat amanah sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang, Eko telah meniti karier yang panjang. Pada 2006, ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah. Ia juga pada 2009, lolos seleksi Program Pertukaran Guru Indonesia–Australia (BRIDGE)danselama lebih dari satu bulan ditempatkan di sekolah-sekolah Australia, terutama di New South Wales, salah satunya Hamilton College.
Menariknya, sekolah tempat ia mengajar tidak memiliki mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal itu memaksanya berkomunikasi penuh dalam bahasa Inggris, sebuah tantangan yang justru memperkaya pengalamannya sebagai pendidik. “Tentu seleksinya juga dilihat dari TOEFL. Jadi mau tidak mau harus siap,” tuturnya.
Raih Berbagai Prestasi
Sepulang dari Australia, prestasi terus berdatangan. Ia meraih Juara 1 Guru Berprestasi Kabupaten Sidoarjo pada 2010 dan 2011. Pada 2012, ia mengikuti seleksi kepala sekolah, dan pada 2013 resmi dilantik sebagai Kepala SMA Negeri 1 Waru. Selanjutnya, ia memimpin SMA Negeri 3 Sidoarjo (2017–2020), lalu SMA Negeri 1 Sidoarjo hingga Desember 2025.
Perjalanan Eko berlanjut ke ranah birokrasi pendidikan. Setelah melalui proses panjang profiling dan assessment, pada 21 November 2025 ia dilantik oleh Gubernur Jawa Timur sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Jombang, dan mulai berdinas efektif 2 Januari 2026. Kini, tugasnya tidak hanya mengurus siswa, tetapi juga lembaga pendidikan SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di Kabupaten Jombang. “Tugas saya sekarang bukan hanya mengurus siswa, tapi juga lembaga-lembaga yang mengurus siswa. Dan tidak semua lembaga itu punya frame berpikir yang sama,” jelasnya.
Menurut Eko, pendidikan hari ini menuntut pendekatan yang lebih humanis, memberi ruang kreativitas, dan tidak sekadar mengejar capaian akademik seperti UTBK. “Kalau tujuan akhirnya hanya UTBK, ngapain repot-repot sekolah? Bimbel selesai,” ujarnya lugas.
Tak berhenti pada tugas mengajar, Eko terus mengembangkan kapasitas akademiknya dengan menempuh pendidikan S2 dan S3 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di bidang Pendidikan dan Sastra. Sambil tetap menjalankan tugas sebagai pendidik, Eko mengenang betul bagaimana kuliah sore di Unesa yang sangat membantunya membagi waktu antara dinas dan akademik. “Saya pulang dari sekolah langsung ke Unesa sampai malam. Sangat terbantu,” katanya.
Ia juga menyebut peran dosen-dosen Unesa bukan hanya mengajar teori, tetapi memberi keteladanan hidup yang ditunjukkan dari cara berbicara, berpakaian, hingga bersikap. Bagi Eko, pendidikan itu tidak hanya lewat omongan, tapi lewat contoh (teladan). “Itu yang baru terasa setelah kita jadi alumni,” ungkapnya.
Eko masih ingat sewaktu masih kuliah S1, di sela kuliah, ia sudah memiliki penghasilan sendiri dari menjahit dan menjual pakaian. Keterampilan itu diwarisinya dari sang ibu. Sebuah pengalaman hidup yang membentuk kemandirian dan empati. Kini, dengan pengalaman panjang sebagai guru, kepala sekolah, hingga pejabat pendidikan, Eko menegaskan bahwa pendidikan bukan semata urusan sekolah.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah saja, tetapi semua orang di tiap dirinya harus memiliki kesadaran untuk menjadi seorang guru-seorang yang bisa memberi contoh, bisa berbagi pengalaman, dan lain-lain. Harus menularkan ilmu yang baik. Maka pendidikan selesai kalau sudah seperti itu,” pungkasnya. @TimHumas

