Prof Dr Sunarto MSc yang telah berpulang pada Sabtu, 14 Maret 2026 lalu, meninggalkan jejak panjang pengabdian dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Sebagian besar hidup Guru Besar pada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa itu diabdikan untuk dunia pendidikan.
Prof Sunarto yang lahir di Klaten, Jawa Tengah pada 4 Juli 1939 itu mengawali karier akademiknya sejak diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 1 Januari 1966. Sejak saat itu, ia menapaki jenjang karier dengan penuh dedikasi, mulai dari dosen hingga mencapai jabatan tertinggi sebagai profesor.
Selama pengabdiannya di Unesa, ia beberapa kali dipercaya mengemban amanah jabatab struktural. Di antaranya, sebagai Pembantu Rektor IV Unesa selama dua periode, yakni pada periode 2001 s.d 2005 dan 2005 s.d 2010.
Di balik ketokohan akademiknya, Prof Sunarto dikenal memiliki komitmen kuat dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi. Ia menempatkan keseimbangan antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai landasan utama dalam setiap kiprah dan amanah yang diberikan.
Dalam bidang pembelajaran, Prof Sunarto dikenal sangat memperhatikan kualitas. Ia mempersiapkan materi dengan matang dan mampu mentransformasikan ilmu secara mendalam kepada mahasiswa, mulai dari jenjang sarjana hingga doktoral. Pola pembelajaran yang terstruktur dan berorientasi pada pemahaman itu menjadikan sosoknya dikenang sebagai pengajar yang inspiratif.

Prof Sunarto juga memiliki peran dalam membimbing mahasiswa yang menjadi salah satu kontribusi penting dalam dunia pendidikan. Dengan kesabaran dan ketelitian, ia mendampingi mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai dari S-1 hingga S-3. Banyak mahasiswa bimbingannya yang berhasil menyelesaikan studi dengan baik, bahkan kemudian berkembang menjadi akademisi, profesor, dan pemimpin di berbagai daerah.
“Setelah Bapak berpulang, banyak sekali yang menyampaikan pesan melalui media sosial tentang kebaikan beliau, mulai jenjang S-1 hingga S-3. Khususnya dari jenjang S-3, mengenang bagaimana Bapak membimbing disertasi mereka dengan sabar dan totalitas hingga tuntas,” tutur Prof Dr Ir Aisyah Endah Palupi, MPd, putri almarhum Prof Sunarto.
Selain itu, di tengah kesibukannya sebagai pengajar dan pembimbing, Prof. Sunarto tetap produktif dalam berkarya. Ia memanfaatkan waktun untuk menulis sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kegiatan menulis tersebut menjadi bagian dari komitmennya untuk terus memberikan sumbangsih intelektual bagi dunia pendidikan.
“Bapak selalu mengisi waktunya dengan menulis. Laptop menjadi teman setia beliau ke mana pun pergi. Insyaallah, karya terakhir yang ada di laptop akan kami terbitkan sebagai kenangan sekaligus warisan intelektual,” ujar Guru Besar Fakultas Teknik (FT) Unesa itu.
Role Model Bagi Keluarga
Di balik kiprahnya sebagai akademisi, Prof Sunarto dikenal sebagai sosok yang hangat dalam keluarga. Bagi anak-anaknya, ia adalah figur ayah yang menyenangkan, mandiri, dan penuh kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ia jarang mengeluh dan selalu berusaha menyelesaikan berbagai persoalan dengan kepala dingin, cermat, serta penuh kehati-hatian.
Nilai-nilai kehidupan yang ia tanamkan kepada anak-anaknya sederhana. Ia senantiasa menekankan pentingnya bekerja dengan baik, tidak menunda pekerjaan, dan tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai agama. Prinsip-prinsip tersebut kemudian menjadi pegangan hidup yang terus diwariskan dan dijaga oleh anak, cucu, hingga cicitnya.
Kedisiplinan dan spiritualitas menjadi bagian tak terpisahkan dari kesehariannya. Selama puluhan tahun, Prof Sunarto menjalankan rutinitas ibadah dengan penuh konsistensi. Seperti terbiasa bangun pada sepertiga malam untuk melaksanakan salat tahajud, dilanjutkan membaca Al-Qur’an hingga menjelang subuh, kemudian menutup pagi dengan aktivitas ringan seperti berjalan kaki.
“Rutinitas ini menurut saya mencerminkan keteguhan prinsip serta komitmen beliau dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat,” ujarnya.
Prof Aisyah menyebut sang bapak memiliki cara pandang yang futuristik terhadap kehidupan. Ia kerap membagikan berbagai pemikiran dan arah kompas kehidupan kepada anak-anaknya sebagai bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan hidup, baik masa kini maupun masa depan, agar dapat tertata dan terencana dengan baik.
Bagi keluarga, Prof Sunarto tidak hanya teladan seorang pendidik bagi mahasiswa, tetapi juga sosok ayah yang penuh kasih, teratur dalam menata hidup, serta sosok yang sederhana dan hangat bagi siapa pun. Nilai kejujuran dan kedisiplinan menjadi pelajaran hidup paling berharga yang diwariskan.
“Pesan yang selalu ia titipkan kepada keluarga adalah pentingnya menjaga kerukunan dan silaturahmi antar anggota keluarga, anak, cucu, hingga cicit,” terang Prof Aisyah dengan suara yang tertahan. @TimHumas

