Rela Tinggalkan Karier Dosen Demi Dirikan Sekolah ABK

Aprilia Susanti, CEO Ruby Indonesia (Kids Development Center)

Perjuangan alumni Unesa yang satu ini sungguh luar biasa. Demi perhatian pada buah hatinya yang divonis ASD (Autism Spectrum Disorder), ia pun harus rela mengorbankan kariernya sebagai dosen. Ia memilih fokus pada penanganan sang anak, dam bahkan dari situlah terinspirasi mendirikan sekolah Anak Berkebutuhan Khusus.

Aprilia Susanti merupakan alumnus  program studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Unesa. Perempuan yang akrab disapa April ini sejak dulu memang ingin berkarier sebagai pendidik. Karena itu, ketika kuliah, ia memilih Prodi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris pada 2006 dan lulus pada 2010.

Setelah lulus, April sempat menjadi pengajar di salah satu SMP di Bojonegoro dari tahun 2010 sampai 2018. Ia lantas resign menjadi guru ketika menempuh S2 di Unesa karena terkendala waktu bolak-balik Surabaya-Bojonegoro. “Alhamdulillah, waktu mau lulus S2, saya daftar dosen di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro dan diterima,” ujarnya.

Banyak momen berkesan selama April berkuliah di Unesa. Salah satunya, saat bergabung dalam komunitas debat bahasa Inggris. Ia mendapat banyak pengalaman berkompetisi mewakili universitas. Ia pernah meraih Juara 3 Lomba Debat di Universitas Negeri Malang tingkat Jawa Bali.

Ia mengakui, dosen di Unesa juga sangat kompeten dan supportif. Ia mencontohkan ketika harus ujian proposal tesis dua kali, dan kebetulan waktu itu sedang punya bayi, pembimbing dan penguji sangat mendukung, sehingga ia berhasil menyelesaikan studi dengan baik.  

Di UNUGIRI, sebagai akademisi, Aprilia juga mendapatkan segudang prestasi. Puncaknya, pada Juli-Agustus 2022, ia terpilih mewakili Indonesia di program pertukaran akademisi internasional SUSI (Study of United States Institution) di  Seattle University. Selain itu, ia juga pernah terpilih mewakili Asia tenggara.

Namun, ketika momen terbaik dari karier akademiknya itu berhasil didapatkan, April harus menerima ujian berat. Sang anak yang berusia 2 tahun didiagnosa mengidap ASD (Autism Spectrum Disorder). April sempat down. Tapi, ia segera bangkit. Ia terus berjuang mencari tempat terapi terbaik bagi sang buah hati.  

April rela berpindah-pindah tempat terapi demi mencari yang cocok dan terbaik bagi buah hatinya. Sampai pada suatu titik, sebagai dosen, April merasa tidak bisa menjalankan tugasnya karena terlalu sering izin. Ia pun harus memilih antara terus berkarier sebagai dosen atau konsentrasi pada penyembuhan anaknya.

“Itulah momen terberat dalam hidup. Saya pun legowo resign sebagai dosen dan memilih fokus mendampingi anak. Di situ, saya menemukan SLB Anak Autisme di Malang yang cocok. Akhirnya, saya putuskan tinggal di Malang, dan anak saya sekolah di sana selama 1 tahun,” ucapnya berkaca-kaca.

Hikmah dan Pengalaman Baru

Pilihan sulit bagi April karena harus meninggalkan keluarga dan karier demi hijrah ke Malang. Tapi, di balik pilihan sulit itu, ada hikmah dan pengalaman baru didapatlan. Perkembangan sang anak sangat luar biasa. Ia juga menemukan pengalaman baru karena sebelumnya tidak pernah mengenal dunia ABK.  

Pada 2023, April kembali ke Bojonegoro. Ia pun membuat pilihan luar biasa. Ia memutuskan “membawa” apa yang ada di Malang ke Bojonegoro. April mencari terapis dari Bojonegoro yang bisa merawat anaknya, kemudian ia kirim ke Malang untuk belajar. Dari situlah, ia lantas mendirikan SLB sendiri di Bojonegoro, yang diberi nama Ruby Indonesia (Kids Development Center).

April menceritakan, awal berdiri selama 6 bulan, muridnya hanya anaknya saja. Setelah itu, ada anak temannya yang juga autis ikut belajar di sekolahnya. Akhirnya, lambat-laun, semakin banyak yang daftar. “Saat ini, sudah berjalan hampir satu tahun, dan alhamdulillah sudah ada 50 siswa,” ungkapnya.

Di balik keberhasilannya mendirikan SLB, April mengakui banyak tantangan yang harus dilewati, salah satunya orang tua yang kerap mempertanyakan latar  belakang pendidikannya. Ia pun bilang bahwa basic pendidikannya adalah S1 Pendidikan Bahasa Inggris, sedangkan yang diterapkan di bidang manajerial dan terapis. Untuk kebutuhan guru SLB, April mengatakan mencari sesuai bidangnya seperti dari prodi psikologi. “Kita saling melengkapi,” tuturnya.

Kini, sekolah yang didirkan April tidak hanya diisi oleh murid autisme saja tetapi dari murid-murid yang termasuk kategori Neuro Divergent, yaitu jenis ABK nonfisik yang secara fisik luar terlihat baik-baik saja, tapi memiliki kekhususan cara kerja otak, seperti austim, ADHD, down syindrome, dan lain-lain.

April menjelaskan, 50 siswa di sekolahnya adalah total keseluruhan dari dua jenis program yang diberikan. Ada program sekolah dan program terapi. Jika ditotal, kata April, semuanya berjumlah 50. Target ke depan, kata April, lembaganya akan terus memberikan pelayanan pendidikan yang profesional, ramah neuro diversitas, dan memberikan awareness kepada masyarakat terhadap para penyandang neuro diversitas.

Kepada para alumni Unesa, April berpesan agar selalu produktif dan berkarya di bidang apapun meskipun kadang realitas menuntut ke arah yang lain. Yang paling penting, kata April, di manapun berada, harus dapat menebar manfaat bagi masyarakat luas. @azhar

en_USEN