Pengamat Hubungan Internasional UNESA Soroti Eskalasi Konflik Israel–AS–Iran dan Dampaknya bagi Indonesia

Ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan Israel kembali memunculkan kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Dalam perspektif hubungan internasional, konflik tersebut bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba, melainkan bagian dari dinamika panjang hubungan antarnegara yang sarat dengan persilangan kepentingan politik, sejarah, dan perebutan wilayah.

Pengamat hubungan internasional sekaligus Koordinator Program Studi S-1 Hubungan Internasional Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Maya Mustika Kartika Sari, S.Sos., M.IP., menjelaskan bahwa konflik bersenjata dalam hubungan antarbangsa pada dasarnya memiliki pola yang berulang. Menurutnya, setiap perang memiliki siklus yang dimulai dari peningkatan ketegangan hingga mencapai puncaknya dalam bentuk konflik terbuka, sebelum akhirnya mereda. “Dalam hubungan internasional, perang bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ia merupakan proses panjang yang dipengaruhi oleh berbagai kepentingan negara, baik politik, ekonomi, maupun keamanan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sejak masa peradaban awal, seperti pada era negara-kota Yunani kuno seperti Sparta dan Athena, konflik antarnegara sudah menjadi bagian dari dinamika politik global. Oleh karena itu, konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses historis yang panjang. Menurutnya, ketegangan antara Iran dan Israel juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan konstelasi politik di kawasan Timur Tengah, baik pada level domestik maupun regional. Salah satu faktor penting adalah dinamika politik domestik di negara-negara kawasan tersebut, termasuk Revolusi Iran yang turut mengubah peta politik regional.

Selain itu, konflik Palestina–Israel yang telah berlangsung lama juga memiliki dimensi sejarah dan etnis yang kompleks. Persoalan perebutan wilayah serta identitas kebangsaan menjadi faktor yang memperpanjang konflik tersebut. “Pada dasarnya ini adalah konflik regional. Namun ketika negara-negara besar mulai terlibat dengan kepentingannya masing-masing, dinamika konflik menjadi jauh lebih besar,” jelasnya. Ia juga menilai bahwa perhatian masyarakat internasional terhadap konflik tersebut masih belum cukup kuat untuk mendorong penyelesaian yang konkret. Akibatnya, konflik yang awalnya bersifat regional berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Dampak terhadap Indonesia

Meskipun konflik terjadi di kawasan Timur Tengah, Maya menilai dampaknya tetap dapat dirasakan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia. Dampak yang paling nyata, menurutnya, berada pada sektor ekonomi global. Isu yang saat ini berkembang di tingkat global, kata dia, salah satunya berkaitan dengan persoalan nuklir Iran yang menjadi salah satu justifikasi politik dalam dinamika konflik tersebut. Namun dalam studi hubungan internasional, persoalan tersebut tidak dapat dilihat hanya dari sudut pandang nilai-nilai normatif seperti demokrasi atau moralitas. “Dalam politik internasional, yang sering digunakan adalah perspektif realisme. Perspektif ini melihat bahwa negara akan melakukan apa pun selama itu dianggap penting bagi kepentingan nasionalnya,” jelasnya. Dalam konteks Indonesia, eskalasi konflik juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, terutama terkait harga energi. Ketegangan geopolitik dapat memicu negara-negara produsen minyak untuk menahan pasokan sebagai langkah antisipatif, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga di pasar global.

Potensi Perang Dunia Ketiga

Keterlibatan negara-negara besar seperti Amerika Serikat juga menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih besar, bahkan kemungkinan perang dunia ketiga. Namun, Maya menilai hingga saat ini skenario tersebut masih relatif kecil. Ia menjelaskan bahwa negara-negara besar umumnya akan berhati-hati dalam terlibat langsung dalam konflik berskala besar karena perang modern memiliki biaya ekonomi yang sangat tinggi. Selain itu, konflik bersenjata juga dapat membuka peluang bagi negara lain untuk memetakan kekuatan militer suatu negara.

“Perang justru bisa menjadi ruang bagi negara lain untuk memproyeksikan kekuatan atau membangun aliansi baru. Karena itu, sebagian besar negara besar cenderung menghindari keterlibatan langsung,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa beberapa negara besar juga sedang menghadapi fokus geopolitik masing-masing, seperti Rusia yang masih terlibat konflik dengan Ukraina serta China yang memiliki kepentingan strategis di Laut China Selatan.

Peran Negara Besar dalam Perdamaian

Menurut Maya, negara-negara besar sebenarnya memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk turut berperan dalam menciptakan stabilitas global. Dengan kapabilitas dan pengaruh yang mereka miliki, negara-negara tersebut seharusnya dapat menginisiasi langkah-langkah baru yang mengarah pada perdamaian. Namun hingga saat ini, ia menilai negara-negara besar masih cenderung mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan kepentingan strategis sebelum mengambil langkah yang lebih konkret.

Sikap Indonesia dalam Perspektif HI

Dalam konteks Indonesia, Maya menjelaskan bahwa setiap kebijakan luar negeri pada dasarnya merupakan keputusan politik yang berada di tangan pemimpin negara. Namun dalam praktik hubungan internasional, pengambilan keputusan idealnya melalui proses analisis yang matang dari berbagai level kebijakan. “Biasanya analisis dimulai dari level kementerian atau para ahli, kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi pemimpin negara untuk mengambil keputusan,” jelasnya.

Indonesia sendiri berada pada posisi yang cukup dilematis. Di satu sisi, Indonesia tidak dapat sepenuhnya terlepas dari dinamika geopolitik global karena masih bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Namun di sisi lain, kapasitas Indonesia sebagai negara berkembang juga memiliki keterbatasan dalam mengambil peran yang lebih besar di arena konflik internasional. Dalam teori hubungan internasional, kondisi tersebut berkaitan dengan konsep kekuatan nasional, di mana setiap negara akan memaksimalkan kapabilitas yang dimilikinya dalam menentukan posisi dan kebijakan luar negeri.

Peran Masyarakat

Di tingkat masyarakat, Maya menilai bahwa kontribusi yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap dinamika geopolitik global. Menurutnya, penyebaran informasi yang akurat dan edukatif menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh opini yang tidak berdasar. Salah satu yang bisa dilakukan masyarakat adalah menyuarakan perdamaian. Namun yang lebih penting adalah meningkatkan awareness terhadap isu geopolitik global agar bisa memahami situasi dengan lebih jernih. @TimHumas

en_USEN