Menjaga Tradisi: Padukan Seni, Spiritualitas, dan Kebersamaan

Di tengah derasnya arus budaya populer dan gaya hidup modern mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Rebana Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tetap bertahan sebagai ruang yang menautkan seni, spiritualitas, dan kebersamaan dalam satu irama. UKM ini tumbuh menjadi wadah pembentukan karakter sekaligus ruang menjaga tradisi.

Pembina UKM Rebana Unesa, Wahyu Ariyanto, menilai kekuatan utama organisasi tersebut terletak pada budaya rutinan dan rasa kekeluargaan yang terus dijaga dari waktu ke waktu. Baginya, rebana bukan sekadar persoalan ketukan musik atau lantunan sholawat, melainkan medium untuk mempererat solidaritas antaranggota.

“UKM Rebana menjadi ruang berkesenian sekaligus tempat membangun kebersamaan dan penguatan spiritual antaranggota,” ujar dosen S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Unesa itu.

Nuansa tersebut tampak dalam aktivitas rutin yang dijalankan para anggota. Setiap Senin, mereka menggelar latihan rutin di Masjid Baitul Makmur Unesa bersama pelatih profesional. Sementara pada Kamis malam, suasana masjid kembali hidup melalui rutinan diba’ yang menjadi agenda istiqomah para anggota.

Ketua UKM Rebana Unesa, M. Daffa Razan Al Firdaus atau akrab disapa Razan, mengatakan konsistensi menjadi hal paling penting dalam menjaga eksistensi komunitas seni religi di lingkungan kampus umum seperti Unesa. “Lingkungan kampus memang bukan kampus berbasis islamic, tetapi kami tetap ingin menanamkan nilai-nilai Islami melalui seni,” katanya.

Mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2024 itu menambahkan, tantangan lain muncul dari perbedaan jadwal antaranggota yang berasal dari berbagai program studi. Namun, menurutnya, komunikasi menjadi kunci agar seluruh kegiatan tetap berjalan.

Merawat Tradisi, Membuka Ruang Inovasi

Di balik konsistensi tersebut, UKM Rebana Unesa terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Wahyu menjelaskan, strategi pembinaan yang diterapkan berpegang pada prinsip “Al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdu bil Jadidil Ashlah”, yakni menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil inovasi baru yang lebih baik.

Prinsip itu diwujudkan melalui pengembangan variasi ketukan, eksplorasi nada, hingga kolaborasi dengan musik modern dan kontemporer. Wahyu mencontohkan semangat kolaborasi tersebut seperti yang pernah disampaikan Gus Zastrouw mengenai bagaimana musik tradisional dapat berdialog dengan musik populer, sebagaimana kolaborasi Ki Ageng Ganjur bersama Slank dalam konser kebangsaan. “UKM Rebana harus tetap relevan dengan generasi muda tanpa kehilangan akar tradisinya,” imbuhnya.

Semangat itu pula yang membuat UKM Rebana mulai memiliki mimpi lebih besar. Selain aktif dalam festival albanjari, mereka ingin merilis karya orisinal berupa rekaman sholawat agar dakwah melalui seni dapat menjangkau lebih banyak kalangan. Pengembangan bidang sholawat kontemporer pun mulai dipersiapkan sebagai langkah memperluas daya tarik seni Islami di kalangan anak muda. “Kami ingin membumikan sholawat dengan gaya modern supaya lebih dekat dengan generasi sekarang,” kata Razan.

Selain aktif dalam pengembangan kreativitas, UKM Rebana juga mencatat sejumlah capaian. Salah satu prestasi yang pernah diraih ialah Juara Harapan 2 Festival Albanjari SMAN 1 Gresik. Di luar kompetisi, mereka rutin mengisi berbagai kegiatan internal maupun eksternal kampus, mulai dari kajian, acara Ramadan, hingga kegiatan keagamaan lainnya.

Wahyu, sang pembina menambahkan, momen paling berkesan hadir ketika UKM Rebana dipercaya terlibat dalam Festival Banjari Nasional pada rangkaian Ramadan di Kampus yang digelar Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Unesa. Saat itu, ia menjadi PIC dosen dalam kegiatan tersebut. “Festival itu mendapat respons positif dari berbagai peserta dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar UKM Rebana,” terangnya bangga.

Menjadi Ruang Tumbuh Mahasiswa

Meski identik dengan seni musik Islami, pembinaan di UKM Rebana tidak berhenti pada aspek musikal semata. Wahyu menekankan pentingnya keseimbangan antara organisasi dan akademik. Para anggota didorong tetap berprestasi di ruang kelas sambil aktif dalam kegiatan seni.

Menurutnya, mahasiswa perlu berkembang dalam bakat, kapasitas intelektual, serta karakter secara beriringan. Karena itu, UKM Rebana menjadi ruang belajar mengenai manajemen organisasi, kepemimpinan, hingga pengabdian kepada masyarakat melalui seni Islami.

Razan menyebut, anggota yang bergabung datang dari latar belakang kemampuan berbeda. Ada yang benar-benar baru belajar rebana, ada pula yang telah memiliki dasar bermusik religi sebelumnya. Seluruh anggota kemudian diproses bersama dalam semangat saling belajar dan bertumbuh.

Ke depan, UKM Rebana Unesa ingin memperluas jejaring kolaborasi dengan berbagai UKM maupun organisasi mahasiswa lain. Sebab, menurut Wahyu, tantangan generasi saat ini tidak cukup dihadapi dengan kemampuan individu semata, melainkan membutuhkan kemampuan berkolaborasi dan saling menguatkan.

Di tengah perubahan zaman, UKM Rebana Unesa memilih tetap menabuh irama tradisi sambil membuka ruang bagi inovasi. Dari sudut Masjid Baitul Makmur, lantunan sholawat itu terus dijaga agar menjadi penanda bahwa seni Islami tetap memiliki tempat di hati generasi muda kampus. @TimHumasUnesa

en_USEN