Kuatkan Riset Berdampak bagi Masyarakat Luas

Prof Titik Taufikurohmah, Raih WIPO National Awards for Inventors

Sivitas Akademika Unesa kembali menorehkan penghargaan bergengsi di tingkat nasional. Kali ini, apresiasi tersebut diraih Prof Titik Taufikurohmah, dosen Program Studi S1 Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unesa. Ia berhasil mendapatkan WIPO National Awards for Inventors, sebuah penghargaan bergengsi dari Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) bekerja sama dengan World Intellectual Property Organization (WIPO).

Penghargaan itu merupakan bentuk pengakuan atas dedikasi, konsistensi, dan karya inovatifnya dalam menghasilkan puluhan paten yang telah memberi manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat luas. Penghargaan diterima langsung oleh Titik Taufikurohmah pada Rabu, 13 Agustus 2025, bertempat di Gedung SMESCO, Jakarta dalam rangkaian Intellectual Property Expose Indonesia 2025 (IP Expose).

Titik menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja keras dan konsistensi riset yang ditekuni sejak 2016. Selama hampir satu dekade, ia aktif menghasilkan inovasi di bidang kimia terapan hingga berhasil mencatatkan lebih dari 40 paten granted dan sekitar 70-80 paten terdaftar di bidang kimia terapan. “Saya agak kaget sekaligus senang, karena ternyata penelitian yang dilakukan sejak 2016 dengan rajin mendaftarkan paten membuahkan hasil,” ujarnya.

Guru Besar Bidang Kimia Analitik Material Kosmetik itu menambahkan, pencapaian itu bukan semata soal kuantitas, tetapi bukti nyata bahwa karya akademisi Unesa dapat diterapkan dan dirasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyatakan banyak paten yang sudah diimplementasikan menjadi produk nyata, mulai dari kosmetik, suplemen, hingga inovasi kesehatan berupa nanogold dalam bentuk suntikan intravena.

“Inovasi nanogold inilah yang menjadi sorotan utama dalam meraih penghargaan ini. Berbasis teknologi nano dengan bahan emas, nanogold memiliki aktivitas biologis tinggi yang dapat berperan sebagai antioksidan, antiinflamasi, hingga mendukung proliferasi sel dan sintesis kolagen,” jelasnya.

Lebih lanjut, guru besar kelahiran kota Kediri itu menjelaskan bahwa manfaat nanogold sangat banyak, mulai dari dunia kosmetik untuk mengatasi bekas jerawat, memperbaiki tekstur kulit, hingga mencegah penuaan dini, sampai dunia medis seperti membantu pemulihan pasien stroke, meredakan gejala penyakit ringan, hingga meningkatkan daya tahan tubuh. “Nanogold ini relatif lebih aman karena tidak berbahan kimia sintetik. Efek samping yang biasa ditimbulkan obat-obatan kimia dapat diminimalisir,” jelasnya.

Budaya Lokal ‘Susuk Emas’

Gagasan nanogold lahir dari tradisi nusantara. Nenek moyang bangsa Indonesia, kata Titik, telah lama mengenal praktik ‘susuk emas’ sebagai terapi kesehatan. Jika dahulu masih dikaitkan dengan praktik tradisional dan hal mistis, kini melalui riset ilmiah dan teknologi nano, praktik itu diperbarui menjadi temuan yang ilmiah, modern, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun medis.

“Kalau dulu orang sakit diberi susuk emas yang dalam praktiknya tidak sejalan dengan ajaran Islam, sekarang kita kembangkan melalui teknologi nano yang merupakan salah satu teknologi tercanggih di bidang pengobatan,” imbuhnya.

Meski sudah terbukti memberi dampak signifikan, perjalanan riset ini tidak selalu mulus. Tantangan terbesar, katanya, adalah minimnya dukungan, baik dari sisi kebijakan maupun pengembangan komersial. “Kalau masyarakat sih antusias. Tapi dukungan dari kolega, pemerintah, sampai sistem kesehatan ini yang masih terbatas,” bebernya.

Semangat Riset Berdampak

Ia mengungkapkan bahwa dampak dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas menjadi semangat baginya untuk terus berkarya dan berinovasi. Meski menghadapi berbagai keterbatasan, ia tetap teguh melanjutkan riset dan aplikasinya. Hingga kini, ribuan masyarakat telah merasakan manfaat nanogold melalui layanan yang diberikan, baik secara berbayar maupun gratis bagi yang kurang mampu. “Yang miskin tidak bayar, yang mampu bisa berkontribusi. Prinsipnya, karya saya harus benar-benar dirasakan masyarakat,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pola tersebut menjadi cara baginya untuk menjaga keberlanjutan riset sekaligus memastikan bahwa inovasinya tidak hanya dinikmati kalangan tertentu, tetapi bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. “Ke depan, saya berharap ada dukungan lebih luas dari pemerintah dan pemangku kepentingan agar produk berbasis nanogold ini dapat diaplikasikan secara masif dalam pelayanan kesehatan di Indonesia,” ujarnya.

Selain produktif penelitian, ia juga aktif menularkan semangat inovasi kepada mahasiswa. Pada mata kuliah Kimia Kosmetik dan Kimia Industri, ia mendorong mahasiswa tidak hanya menghasilkan skripsi, tetapi juga paten. Mahasiswa diajari cara menyusun paten. Jika punya ide inovatif, jangan hanya berhenti di laporan penelitian, tetapi harus dilindungi agar bisa dimanfaatkan lebih luas.

Menurut Titik, dosen memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan riset dan inovasi di era globalisasi dan teknologi. Namun, ia menyadari tidak semua dosen bisa mengkomersialkan hasil penelitiannya sehingga berdampak luas di masyarakat. Di sinilah, menurut Titik, peran pemerintah penting menjembatani hasil riset dengan implementasi nyata di masyarakat. 

Kesuksesan ini, kata Titik, juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari keluarga hingga institusi. Ia menyebut Unesa dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unesa, sebagai mitra penting dalam penyaluran pendanaan penelitian. “Tanpa dukungan itu, tentu saya tidak bisa berprestasi sejauh ini,” ungkapnya.

Atas pencapaiannya itu, Titik mengajak sivitas akademika Unesa untuk berani berkarya dan mengekspresikan ide melalui riset. Ia mengegaskan, keberhasilan itu membutuhkan pengorbanan, termasuk dalam memasarkan produk. “Mari bersama membangun Unesa dengan karya inovatif hasil penelitian di laboratorium hingga menjadi produk yang dibutuhkan dan berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. @ja’far

en_USEN