Sumbangkan Tiga Medali, Kuncinya Tekun Berlatih

Rivaldo Ardistyo, Mahasiswa Tunanetra Unesa Peraih Medali Peparnas 2024 Cabang Catur

Prestasi membanggakan berhasil diraih Rivalldo Ardistyo. Mahasiswa program studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa itu sukses menorehkan prestasi di ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVII Solo pada tahun 2024. Hebatnya, ia berhasil menyumbangkan tiga medali untuk kontingen daerahnya, Sumatera Selatan.

Ketiga medali yang berhasil diraih Rival, sapaan akrabnya adalah satu medali emas nomor beregu catur cepat, satu medali perak nomor perorangan catur cepat, dan satu medali perunggu nomor beregu catur klasik. Sumbangan medali dari mahasiswa kelahiran Surabaya, 31 Oktober 2004 itu menambah panjang daftar prestasi Unesa sebagai Kampus Inklusif sekaligus memperkuat semangat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi.

Selama kompetisi berlangsung, Rival dan para atlet penyandang disabilitas lainnya mendapatkan pendampingan penuh dari National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI). Dukungan itu menjadi bagian dari upaya pelatihan berkelanjutan dalam menjaring bibit-bibit unggul yang diharapkan dapat memperkuat tim Indonesia di ajang Paralimpiade 2028 di Los Angeles.

Rival membagikan pengalamannya selama mengikuti kompetisi Perparnas. Ia mengungkapkan kegembiraannya bisa bertemu teman-teman disabilitas dari berbagai provinsi untuk bertanding. Ia merasakan suasana yang sangat mendukung sehingga membuat perlombaan terasa menyenangkan. “Meski begitu, ada rasa sedih ketika mengalami kekalahan, tetapi tetap semangat meraih kejuaraan lainnya,” ujarnya.

Keberhasilan mendapatkan medali itu. didapatkan Rival dengan jalan yang penuh perjuangan. Apalagi, olahraga Catur, bukan sekadar permainan strategi, tetapi juga ruang pembuktian bahwa ia bisa melakukan yang terbaik di tengah keterbatasan fisik yang dialami. “Tantangan terbesar saat bertanding adalah ketika waktu berpikir saya krisis. Dalam kondisi itu, saya harus bisa membuat langkah tepat, minimal untuk meraih hasil draw,” ungkapnya.

Kecintaan mahasiswa angkatan 2023 pada catur bermula sejak 2017. Ketika ia masih berusia 13 tahun. Saat itu, gurunya di SMP mengenalkan permainan itu. Sejak saat itu, Rival langsung jatuh cinta pada olahraga permainan yang konon berasal dari India itu. “Catur itu unik. Kita dituntut untuk sabar, berpikir jauh ke depan, dan berstrategi. Dari situ, saya semakin tertarik untuk menekuni,” kenangnya.  

Rival menyadari bahwa prestasi yang telah diraih bukan hasil dari memetik buah yang ditanam kemarin sore. Itu adalah buah latihan rutin yang ia jalani dengan penuh kedisiplinan selama ini. “Selain giat berlatih, persiapan mental juga sangat penting. Mental harus kuat dan latihan rutin menjadi kewajiban,” bebernya.

Anak dari pasangan Suparman dan Susterini ini menyebutkan peran keluarga dan orang terdekat menjadi sumber semangat baginya. Ia mengatakan, orang tua, keluarga, dan orang-orang terdekat adalah sosok yang mendukung penuh hingga ia bisa meraih prestasi saat ini.

“Dukungan moral dan doa keluarga menjadi penguat saat saya menghadapi tekanan di arena pertandingan. Saya percaya bahwa keberhasilan meraih medali tidak dapat dipisahkan dari peran orang-orang terdekat yang selalu ada mendampingi dan mendoakan,” ungkapnya.

Menuju Paralimpiade

Prestasi di Peparnas menjadi langkah awal bagi Rival untuk terus mengukir prestasi di level yang lebih tinggi. Ia pun bermimpi bisa lolos ke pelatihan nasional (pelatnas) dan berkesempatan mewakili Indonesia di ajang Paralimpiade 2028 di Los Angeles. “Semoga prestasi ini membuka jalan saya menuju pelatnas, dan bisa membanggakan Indonesia di level dunia. Saya yakin kalau ada usaha dan doa, mimpi itu bisa terwujud,” tekadnya.

Tidak hanya itu, Rival juga ingin membuktikan bahwa disabilitas bukanlah penghalang. Menurutnya, banyak orang masih memandang sebelah mata kemampuan penyandang tunanetra. Lewat catur, ia ingin menunjukkan bahwa potensi akan bersinar jika diberi kesempatan yang sama.

Unesa yang salah satunya dikenal memiliki keunggulan di bidang disabilitas, diakui Rival terus mendukung mahasiswanya, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, untuk berkembang sesuai minat dan bakat yang dimiliki. “Saya adalah contoh nyata bahwa dengan lingkungan akademik yang mendukung, mahasiswa disabilitas bisa tampil percaya diri dan meraih prestasi membanggakan,” tegasnya.

Bagi Rival, prestasi bukan hanya soal medali, tetapi juga tentang memberikan inspirasi kepada banyak orang. Ia pun memberikan pesan motivasi kepada sesama penyandang disabilitas, khususnya dan kepada mahasiswa Unesa seluruhnya bahwa jika ada mimpi maka harus rela berkorban dan harus dikejar dengan semangat pantang menyerah. “Jika ada keinginan untuk untuk belajar, pasti bisa meraih prestasi. Yakinlah, apa yang kita tekuni akan membuahkan hasil di kemudian hari,” katanya penuh semangat.

Prestasi Rival seolah menegaskan bahwa dedikasi, tekad, dan dukungan orang-orang terdekat akan membawa hasil yang maksimal. Perjuangannya membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan cambuk yang dapat menumbuhkan daya juang, keberanian untuk melawan rasa ragu, dan mengalahkan keterbatasan. @ja’far

en_USEN