Kekhasan pada Mitigasi Bencana Kebumian dan Pengelolaan SDA Berkelanjutan

Lebih Dekat dengan Prodi Geofisika Unesa

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan Program Studi S1 Geofisika, yang merupakah langkah strategis menjawab tantangan kebencanaan, pengelolaan sumber daya alam, hingga transisi energi berkelanjutan.

Koorprodi S1 Geofisika, Muhammad Nurul Fahmi, S.Si., M.Si. mengatakan bahwa prodi ini dirancang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga membekali mahasiswa keterampilan analisis data, pemodelan, komputasi, dan kewirausahaan berbasis geosains.

Ia menjelaskan, Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang menghadirkan berbagai potensi bencana seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung api. Karena itu, membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia yang mampu memahami proses-proses kebumian secara ilmiah dan aplikatif.

Menurut Fahmi, pendirian program studi Geofisika menjadi kontribusi nyata Unesa menyiapkan generasi geofisikawan muda yang mampu membaca dinamika bumi, mengelola sumber daya alam secara bijak, dan menghadirkan inovasi untuk masa depan Indonesia yang berkelanjutan.

Geofisika merupakan cabang ilmu yang mempelajari bumi menggunakan prinsip-prinsip fisika. Ilmu ini digunakan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan tanpa harus melakukan penggalian langsung. Penerapannya sangat luas, mulai dari mitigasi bencana hingga eksplorasi air tanah, mineral, minyak dan gas bumi, serta energi panas bumi.

Berbeda dengan beberapa program studi geofisika di perguruan tinggi lain yang banyak berfokus pada eksplorasi hidrokarbon atau geoteknik, Fahmi menjelaskan bahwa S1 Geofisika Unesa hadir dengan kekhasan pada mitigasi bencana kebumian dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

“Karakter utama kami adalah aplikatif, berkelanjutan, dan inovatif. Mahasiswa tidak hanya belajar memahami bumi, tetapi juga memanfaatkan data untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” jelas Fahmi.

Keunggulan lainnya adalah penerapan konsep geo-technopreneurship, yaitu integrasi antara geosains, teknologi digital, dan semangat kewirausahaan. Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk menciptakan layanan, aplikasi, maupun produk berbasis data geofisika.

Mahasiswa Program Studi S1 Geofisika Unesa akan mempelajari berbagai bidang, mulai dari sains dasar hingga teknologi geofisika modern. Pada tahap awal, mahasiswa dibekali dasar-dasar fisika, matematika, kimia, dan geologi. Setelah itu, mereka mempelajari metode-metode geofisika seperti seismik, gravitasi, magnetik, elektromagnetik, dan inversi geofisika.

Selain itu, mahasiswa juga belajar mengenai seismologi, sistem peringatan dini bencana, penginderaan jauh, Sistem Informasi Geografis (GIS), pemrograman, geostatistik, serta machine learning untuk geofisika. “Mahasiswa juga belajar menggunakan Python, MATLAB, GIS, dan berbagai perangkat lunak pemodelan geofisika,” kata Fahmi.

Pendekatan Outcame Based Education (OBE)

Proses pembelajaran di S1 Geofisika Unesa menerapkan pendekatan Outcome-Based Education (OBE), yaitu sistem pendidikan yang berfokus pada capaian kompetensi lulusan. Perkuliahan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui praktikum laboratorium, simulasi komputasi, studi kasus, proyek kolaboratif, kerja lapangan, magang, dan penelitian.

“Mahasiswa akan dilatih melakukan akuisisi data di lapangan, mengolah data geofisika, memodelkan struktur bawah permukaan, hingga menyusun peta risiko bencana. Kami menerapkan pembelajaran yang student-centered. Mahasiswa aktif berdiskusi, memecahkan masalah, dan menghasilkan produk atau solusi berbasis data,” ungkap Fahmi.

Sebagai program studi baru, S1 Geofisika Unesa telah didukung oleh dosen-dosen dengan kepakaran yang relevan di bidang kebumian, seismologi, mitigasi bencana, komputasi, dan instrumentasi. Tim dosen merupakan gabungan dosen senior dan dosen muda.

Selain dosen, prodi juga didukung oleh tenaga kependidikan, laboran, serta pustakawan yang menunjang kelancaran proses pembelajaran dan penelitian. Sementara, untuk mendukung pembelajaran, mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai laboratorium di lingkungan FMIPA Unesa, seperti Laboratorium Fisika Dasar, Geologi Dasar, Seismologi dan Mitigasi Bencana, Laboratorium Kimia Dasar, serta laboratorium komputasi.

Program studi S1 Geofisika juga menjalin kerja sama dengan berbagai mitra strategis, seperti BMKG, BPBD, BASARNAS, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan industri. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan magang, kuliah praktisi, penelitian bersama, KKN tematik, hingga pengabdian kepada masyarakat. “Kerja sama ini sangat penting agar mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung dan memahami kebutuhan dunia kerja,” tutur Fahmi.

Lulusan S1 Geofisika Unesa memiliki prospek karier yang luas dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Mereka dapat bekerja sebagai konsultan mitigasi bencana, analis seismologi, geofisikawan eksplorasi, peneliti, data scientist, hingga pengusaha di bidang geosains. “Peluang karier bisa di lembaga seperti BMKG, BNPB, BPBD, BRIN, Badan Geologi, Kementerian ESDM, perusahaan energi, perusahaan tambang, konsultan lingkungan, hingga industri teknologi berbasis data” tambah Fahmi.

Tahun 2026 menjadi tonggak awal pelaksanaan perkuliahan S1 Geofisika Unesa. Mahasiswa angkatan pertama memiliki peran penting sebagai generasi perintis yang akan membangun budaya akademik dan identitas program studi. Mahasiswa angkatan pertama memiliki kesempatan besar untuk ikut membentuk tradisi dan karakter Geofisika Unesa.

Fahmi mengatakan, untuk tahun 2027, S1 Geofisika Unesa menargetkan penguatan tata kelola, peningkatan kualitas pembelajaran, perluasan kerja sama, dan pengembangan sarana-prasarana. Prodi juga ingin memperkuat budaya riset dan inovasi pada bidang seismologi, sistem peringatan dini, mitigasi bencana, eksplorasi geotermal, dan machine learning untuk data geofisika. @TimHumasUnesa

id_IDID