Pemerintah sedang gencar mengembangkan program biodiesel B-50 pada 2025. Sejalan dengan itu, guru besar Unesa Prof Dr Muhaji ST MT yang juga pakar ilmu teknologi pembakaran dan bahan bakar telah belasan tahun melakukan riset biodiesel dan bioetanol dengan memanfaatkan berbagai komoditas lokal. Berikut perbincangannya?
Sejak kapan Prof melakukan penelitian terkait biodiesel dan bioetanol ini? Perjalanan penelitian saya tentang bahan bakar biofuel (biodiesel aplikasinya pada mesin motor diesel mulai tahun 2014 – 2025, sudah berjalan selama kurun waktu 11 tahun. Saya meneliti biodiesel dari minyak nabati yaitu dari biji kapuk randu, biji kapuk kapas, biji kelapa, biji jarak pagar, biji bunga matahari, biji kemiri dan biji nangka. Sedangkan mulai 2017-2025, saya juga meneliti bahan bakar bioethanol dan aplikasinya pada mesin motor bensin mulai 2017 – 2025 dengan menggunakan bahan baku dari bonggol pisang, kulit pisang, ubi talas, ubi walur, ubi suwek, ubi garut, nira siwalan, nira surgum, bekatul padi dan jerami padi.
Hasil penelitian prof terkait biodiesel dari tumbuhan/biji jarak pagar yang optimal adalah B30. Bagaimana perjuangan penelitian itu?
Penelitian aplikasi biodiesel dari minyak jarak pagar pada mesin motor diesel untuk pemakaian campuran biodiesel 30% (B30) kinerja mesin rata-rata naik/meningkat 7,78%, kadar emisi gas buang mesin rata-rata turun 22,57%, konsumsi bahan bakar mesin rata-rata naik 2,61%, mesin masih bekerja normal tanpa modifikasi sistem bahan bakar. Perjuangan penelitian bahan bakar biodiesel maupun bioethanol ini cukup panjang dan memerlukan keuletan, disiplin, dan kreatif untuk memilih bahan baku dari limbah hasil perkebunan dan pertanian.
Bisa dijelaskan apa yang menjadi tujuan penelitian ini?
Tujuan saya ingin menemukan bahan dasar bahan bakar alternatif yang lebih murah, bahan bakunya mudah didapat, bisa diperbaruhi, dan bisa nenurunkan emisi gas buang/ramah lingkungan serta untuk meningkan nilai ekonomi dari masyarakat.
Sejauh ini, untuk proses pembuatan biodiesel dan bioetanol seperti apa?
Proses pembuatan biofuel (biodiesel) selama ini masih sebatas skala laboratorium. Dimulai dari mengepres biji-bijian dengan menggunakan mesin pres dan dilanjutkan memproduksi biodiesel melaui esterifikasi atau tranesterfikasi. Selanjutnya dilakukan pengujian karakteristik bahan-bahan, lalu dilakukan eksperimen pada mesin motor diesel. Sedangkan untuk produksi bioetanol melalui proses sakarifikasi, permentasi, dan distilasi serta aplikasinya pada motor bensin dilaksanakan di laboratorium bahan bakar dan laboratorium pengujian Teknik mesin FT Unesa. Alhamdulillah, mulai2023 saya diamanahi untuk mengelola laboratorium bahan bakar dan pengujian performa mesin sehingga hal ini sangat membantu kelancaran penelitian bahan bakar tersebut.
Keberlanjutan penelitian tersebut bagaimana? Apakah akan dikomersilkan dengan produksi secara massal?
Supaya bisa dikomersialkan dan harganya kompetitif memang tidak mudah. Kita harus melakukan yang pertama pembenahan dan perluasan laboratorium dan penambahan mesin produksi biodiesel dan bioethanol dalam skala industri. Kemudian, yang kedua kerja sama dengan industri bahan bakar terbarukan seperti dengan PT Vilmar Nabati Indonesia, PT Vilmar Bioenergi Indonesia, PT Cemerlang Energi Perkasa serta dengan Kementerian ESDM.

Bagaimana rencana pengembangan penelitian biodiesel ke depannya?
Pengembangan penelitian tentang biodiesel sempai sekarang masih berlanjut. Tahun 2025 ini kami mencoba menggunakan bahan baku dari CPO kelapa sawit dengan metode tranesterifikasi non-katalis agar biaya produksi bisa ditekan lebih rendah lagi.
Bagaimana pandagan prof terkait program B50 yang akan berjalan pada 2026? Apakah Biodiesel B50 dengan Harga Indeks Pasar (HIP) sebesar 12.874 liter sudah baik atau ada yang perlu diperbaiki?
Terkait program biosolar bersubsidi (B30) selama ini harganya sudah kompetitif dan sesuai dengan jenis mesin diesel baik untuk mesin diesel putaran rendah mapun mesin diesel putaran tinggi dengan tanpa merubah system bahan bakarnya. Biodiesel B50 dengan Harga Indeks Pasar (HIP) sebesar 12.874 liter/liter semoga masih bisa bisa diturunkan sehingga harganya kompetitif.
Sebenarnya apa kelebihan bahan bakar B50?
Bahan bakar B50 mempunyai kelebihan dan kekurangan jika dibandingkan dengan bahan bakar solar. Kelebihan dari B50 adalah sifat pelumasanya tinggi dan emisi karbonnya lebih rendah dan ramah lingkungan, sedangkan kekurangannya adalah titik nyalanya lebih tinggi sehingga jangka panjang bisa merusak mesin karena spesifikasi mesin tidak sesuai dengan karakteristik bahan bakar, selain itu biodiesel B50 tidak bisa digunakan untuk bahan bakar seluruh mesin diesel karena terkait nilai cetan, densitas dan viskositasnya yang tinggi, sehingga untuk B50 tersebut cocok untuk mesin diesel baru dengan rasio kompresi tinggi, di atas 21:1 agar pembakaran terjadi secara efektif dan efisien. Kekurangan lainnya, biodiesel (B50) diperlukan penambahan zat aditif untuk menurunkan titik nyalanya..
Bagaimana harapan untuk pengembangan biodiesel di Indonesia ke depannya?
Pengembangan bahan bakar biopdiesel di Indonesia harus dilanjutkan dan ditingkatkan penggunaan maupun produksinya, mengingat bahan dasar biodiesel di Indonesia sangat melimpah dan diprediksi persediaan bahan bakar fosil seperti solar pada tahun 2050 sangat tipis, sehingga akan terjadi krisis energi dari bahan fosil, itu yang pertama. Kedua, pemerintan/Pertamina harus bekerja sama dengan industri mobil supanya industri mobil bisa mengikuti dengan perkembangan bahan bakarnya. @TimMajalahUnesa

