Menjadi Sponsor Literasi Menulis, Memberdayakan Mahasiswa

Oleh Much. Khoiri, Dosen FBS Unesa

Apakah kita selaku dosen di kampus tercinta sudah termasuk seorang sponsor literasi? Marilah ukur dengan konsep Deborah Brandt (1998) ini: “agen mana pun, baik lokal maupun jauh, konkret maupun abstrak, yang memungkinkan, mendukung, mengajar, menjadi model, sekaligus merekrut, mengatur, menekan, atau menahan literasi—dan memperoleh keuntungan darinya dengan cara tertentu.” Apakah kita cukup memenuhi syarat (eligible)?

Mungkin kita hanya memenuhi sebagian syarat saja, yang secara tak sadar telah bertindak sebagai sponsor literasi (unconscious literacy sponsor). Maksudnya, kita mungkin telah menjalankan tugas sponsor literasi, tetapi tidak menyadari peran sosial sebagai agen perubahan. Tidak ada kesengajaan dalam menjalankan tugas keagenan. Mengalir bersama tugas-tugas keseharian.

Atau, mungkin kita memang conscious literacy sponsor, yang secara sadar menjadi agen perubahan dan menjalankan keagenan sponsor literasi—baik kita individu maupun bagian dari komunitas (kampus) yang mendukung, memfasilitasi, dan menggerakkan kegiatan literasi guna membangun perubahan positif. Jadi, kita tidak hanya menjalani praktik literasi pribadi, melainkan juga mengajak mahasiswa dan warga kampus yang lain.

Dalam praktiknya, marilah ukur seberapa kita memenuhi kerangka ORIM Peter Hannon (1995/2005), yakni memberikan Opportunity, Recognition, Interaction, dan Model. Opportunity: memberikan fasilitas berupa bahan cetak, buku, tulisan awal, dan bahasa lisan —dan saya tambahkan strand baru: digital sources. Recognition: memberikan rekognisi kepada orang lain ketika mereka menggunakan fasilitas tersebut. Interaction: melakukan interaksi seputar kegiatan literasi yang dijalani. Terakhir, Model: menjadi role model dalam berliterasi.

Mungkin cukup mudah bagi kita untuk memberikan fasilitas, rekognisi atas penggunaan fasilitas, atau interaksi dengan penggunanya. Tetapi, sudahkah kita menjadi role model berliterasi, yang doyan membaca untuk menulis? Padahal itu itulah bukti kelayakan integritas sponsor literasi. Tanpa role model dosen, mahasiswa kurang mempercayai dosen dan tidak terdampak secara signifikan.

Untuk sementara, tampaknya kita perlu menghibur diri: yakni memaklumi bahwa kita belum seutuhnya menghayati tugas sebagai sponsor literasi menulis. Namun, kita wajib terus berbenah dan meningkatkan diri. Istilah “menjadi sponsor literasi” mengimplikasikan sebuah journey—bahwa dosen mengalami evolusi secara aktif, tidak hanya dalam kompetensi personal (menulis), melainkan juga kompetensi mengajarkannya kepada orang lain. Ujungnya, kita berdaya dan mampu memberdayakan mahasiswa.

Mengapa memberdayakan mahasiswa lewat menulis? Sejumlah riset telah terbukti bahwa menulis berdampak positif bagi pelakunya, yakni membangun pengembangan diri (Hoey, 2020), meningkatkan kepercayaan diri (Maloney, 2022), dan mengkonstruksi identitas diri (Harte & Hazley, 2021). Secara khusus, peran sponsor literasi menulis mempengaruhi signifikan praktik-praktik menulis (maha)siswa (Loretto, 2015). Oleh sebab itu, jika sudah menjadi sponsor literasi menulis, kita sudah berada di jalur yang benar. Jika belum, jawablah sendiri.

Ketika kita memberdayakan mahasiswa melalui menulis, sebenarnya kita memberi mereka lebih dari sekadar keterampilan menulis. Sebaliknya, kita memberi mereka tiga hal: Pertama, suara (voice), yakni kepercayaan diri untuk mengungkapkan kebenaran tentang diri dan lingkungan. Kedua, wahana atau alat (tool), suatu cara untuk memproses lanjut emosi dan pengalaman-pengalaman yang kompleks. Ketiga, senjata (weapon), kemampuan untuk menantang stereotipe, menulis kembali narasi-narasi yang telah diketahuinya, dan mendefinisikan diri dengan caranya sendiri.

Untuk itu, mari ajak mahasiswa bersuara dengan memasukkan 17 Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai isu konten tulisan mereka, semisal no poverty, zero hunger, quality education, gender equality, clean water and sanitation, life on land, peace-justice-and-strong institutions, and so on. Di samping itu, mahasiswa tentu wajib ditingkatkan kemampuan menulisnya. Dosen bisa menerapkan integrasi SDGs tersebut melalui sesi-sesi pembelajaran di kelas atau di luar kelas.

Sekarang, apa strategi kunci untuk pemberdayaan yang layak diterapkan? Pertama, dosen perlu menciptakan ruang (space) yang aman dan berani. Mahasiswa harus berani bersuara lewat tulisan—ibaratnya berbicara bebas curhat di atas kertas. Kedua, dosen perlu memberikan pilihan dan otonomi. Mahasiswa diberi kebebasan untuk menentukan genre apa yang akan ditulis—apakah menulis flash fiction, climate fiction, puisi bebas, atau journal. Yang penting, kontennya isu SDGs.

Ketiga, dosen juga fokus pada proses daripada produk. Mahasiswa didorong untuk menulis dengan teknik menulis bebas, seakan mereka berbicara lancar di atas kerta. Jika dosen mendapati draf-draf tulisan yang kacau, it is fine! Kesalasan menulis bukan kegagalan, melainkan bagian dari proses pembelajaran. Dosen tetap membaca, mengoreksi, dan memberikan feedback.

Selanjutnya, dosen menggunakan teks penulis sebagai inspirasi. Dosen menggunakan karya-karya sastra dan nonfiksi kreatif karya penulis yang dikenal dengan baik oleh mahasiswa. Dengan contoh karya tersebut, mahasiswa tidak diberi beban berat. Mahasiswa menemukan inspirasi form and structure untuk diadaptasi menjadi karya barunya berdasarkan topik pilihannya.

Terakhir, dosen wajib membingkai ulang umpan balik dan penilaian. Dosen fokus pada kelebihan-kelebihan tulisan. Jika ada kesalahan dalam tulisan, dosen menanyakannya kepada mahasiswa seputar kesalahan itu. Ada baiknya dosen juga melakukan asesmen protofolio untuk melihat perkembangan tulisan mahasiswa. Malah akan lebih baik jika dosen memberikan reward yang menggugah semangat menulis.

Sebagai penutup, memberdayakan mahasiswa lewat menulis tidak enteng diamalkan, namun semua itu tantangan dosen selaku sponsor literasi. Selain kita wajib berdaya dulu, baik keterampilan menulis maupun konten SDGs, kita juga harus sengaja dan sungguh-sungguh memberdayakan mahasiswa. Hanya, mari meyakini, pada saatnya kita akan mendapati bahwa kita telah membantu mahasiswa menjadi bagian warga dunia yang peduli kemanusiaan.[]

*Much. Khoiri (nama pena Dr. Much. Koiri, M.Si) adalah dosen FBS Universitas Negeri Surabaya, sponsor literasi, certified editor/writer, founder Rumah Virus Literasi, dan ketua Apebskid Jawa Timur. Buku terbaru (ke-81) berjudul Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (2025).

id_IDID