Kedelai menjadi salah satu komoditas penting untuk produk olahan pangan seperti tempe dan susu kedelai. Seiring peningkatan kebutuhan dan perkembangan UMKM di masyarakat, penerapan mesin inovasi yang mampu membantu proses pengolahan menjadi lebih singkat sehingga menghemat waktu dan tenaga tentu sangat diperlukan. Tim peneliti Unesa menghadirkan penelitian berjudul Implementasi Mesin 3P (Pemecah, Pengupas, dan Pemisah) Kulit Ari Kedelai untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Ekonomi Anggota Koperasi Primkopti Sepande Sidoarjo.
Ketua Tim Peneliti, Dr. Andre Dwijanto Witjaksono, S.T., M.Si., mengatakan bahwa penelitian ini merupakan Program Diseminasi Teknologi dan Inovasi (PDTI) Tahun 2024 bersama mitra UKM produsen tempe yang tergabung dalam Primkopti/KOPTI “Karya Mulia” di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Koperasi tersebut menaungi para produsen tempe.
Mesin 3P, terang Andre, hadir sebagai solusi atas permasalahan utama, yaitu pemecahan, pengupasan, dan pemisahan kulit ari kedelai. Selama ini, proses tersebut masih dilakukan secara manual sehingga menguras waktu dan tenaga. Selain itu, alat yang digunakan belum memenuhi standar food grade dan berpotensi menurunkan kualitas serta higienitas produk.
“Keterbatasan tersebut berdampak pada kapasitas produksi, konsistensi kualitas, dan kemampuan UMKM dalam memenuhi permintaan pasar. Karena itulah, kami mengembangkan dan menerapkan Mesin 3P sebagai solusi mekanisasi tiga proses tersebut dalam satu rangkaian,” terangnya.
Andre mengungkapkan bahwa potensi mesin ini cukup besar, khususnya bagi UMKM produsen tempe. Di Desa Sepande, terdapat sekitar 100 UMKM produsen tempe yang menjadi bagian dari ekosistem koperasi. Kehadiran teknologi Mesin 3P dapat mempercepat proses sekaligus menjaga higienitas produk.
Mesin 3P memiliki keunggulan utama berupa integrasi tiga fungsi dalam satu mesin, yaitu memecah kedelai, mengupas kulit ari, dan memisahkan kulit ari dari biji kedelai. Mesin ini juga memiliki sistem double roll atau penggiling ganda yang membantu proses kerja menjadi lebih efektif dan menghasilkan keluaran yang lebih seragam dibandingkan metode manual.
“Bagian utama mesin menggunakan material stainless steel 304 sehingga sesuai untuk pengolahan bahan pangan. Sistem penggeraknya juga relatif sederhana, yaitu motor, pulley, V-belt, bearing, dan roll, sehingga lebih mudah dipahami dan dirawat oleh pelaku UMKM,” jelas Andre.
Mesin ini mendapatkan respons positif dari para mitra. Mereka bersedia menggunakan Mesin 3P, mengikuti pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan, serta terlibat dalam pendampingan BINA SNI dan pemasaran digital. “Dukungan mitra menjadi salah satu faktor penting karena keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh mesin yang berfungsi, tetapi juga oleh kesiapan pengguna untuk mengubah kebiasaan kerja,” tambahnya.
Cara Kerja Mesin, Mudah dan Sederhana
Mesin 3P memiliki cara kerja yang mudah dan sederhana. Proses dimulai dengan memasukkan kedelai melalui hopper sebagai tempat pemasukan bahan. Setelah mesin dihidupkan, motor menjadi sumber tenaga utama. Selanjutnya, putaran motor diteruskan melalui sistem pulley dan V-belt menuju unit penggiling.
“Pada unit double roll, kedelai mengalami proses pemecahan dan pengupasan sehingga kulit ari terlepas dari bijinya. Setelah itu, hasil diarahkan menuju jalur keluaran untuk memisahkan biji kedelai yang telah bersih dari kulit ari kedelai,” jelas Andre.
Dengan mekanisme tersebut, jelas Andre, proses yang semula dilakukan secara manual dapat berlangsung dalam satu rangkaian mekanis. Agar biji kedelai tidak rusak selama pengolahan, gaya mekanis disesuaikan agar cukup untuk memecahkan dan melepaskan kulit ari tanpa menghancurkan biji secara berlebihan.
Dengan adanya Mesin 3P, kapasitas produksi mitra meningkat dari 50 kg kedelai per hari menjadi 150 kg per hari atau tiga kali lipat dari produksi awal. Selain itu, waktu yang dibutuhkan menjadi relatif lebih singkat dan penggunaan tenaga kerja berkurang 50 persen. “Mesin ini memang diarahkan agar mudah digunakan dengan desain yang sederhana,” paparnya.
Peluang Hilirisasi Cukup Luas
Diakui Andre, peluang hilirisasi Mesin 3P cukup luas karena teknologi tersebut telah digunakan oleh mitra dan memberikan manfaat langsung. Didukung dengan paten, teknologi ini dapat dikembangkan menjadi produk siap pasar melalui berbagai kerja sama. Pengembangan mesin juga diarahkan pada penyempurnaan kemudahan operasi, aspek keselamatan, sanitasi, dan konsistensi performa.
“Kami juga melihat peluang untuk meningkatkan kemudahan perawatan dan pemantauan agar pengguna dapat mengetahui kondisi mesin dengan cepat. Tentunya, mesin harus tetap sederhana, mudah digunakan, dan sesuai untuk UMKM,” terangnya.
Andre juga mengungkapkan bahwa dukungan dari UNESA diwujudkan melalui keterlibatan tim dosen, koordinasi kegiatan, pengembangan teknologi, implementasi di mitra, pelatihan, pendampingan, pemantauan, serta diseminasi hasil. Dalam rencana jangka pendek, lanjut Andre, tim ingin memastikan mesin digunakan dengan baik dan memberikan manfaat bagi mitra. “Dalam jangka panjang, kami ingin teknologi ini dapat direplikasi pada sentra produsen tempe lainnya,” bebernya.
Andre berharap Mesin 3P menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat dan berkelanjutan bagi pelaku UMKM tempe. Ia juga berharap Mesin 3P dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih matang, mudah diproduksi ulang, memiliki standar performa yang jelas, mudah dirawat, dan dapat diterapkan di berbagai sentra produksi tempe. Dengan demikian, inovasi perguruan tinggi dapat memberikan dampak ekonomi nyata bagi koperasi, UMKM, dan masyarakat.
Untuk diketahui, Tim Peneliti ini terdiri atas Dr. Andre Dwijanto Witjaksono, S.T., M.Si., Dr. Djoko Suwito, M.Pd., Agung Prijo Budijono, S.T., M.T., Ir. Wahyu Dwi Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Agus Sukoco, S.T., M.M., dan Dr. Muhammad Ikhsan Setiawan, S.T., M.T. @TimHumasUnesa

