Bermula dari keprihatinan terhadap maraknya kasus gagal ginjal akut (Acute Kidney Injury/AKI) yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia, tim PKM Mahasiswa melakukan penelitian berjudul “Potensi Ekstrak Daun Bakung (Hymenocallis littoralis) sebagai Antiinflamasi pada Acute Kidney Injury: Studi In Silico dan In Vivo”.
Tim yang bernama Aki.heal itu terdiri atas lima mahasiswa dari program studi berbeda. Mereka adalah Yestyas Ramadiah Hanum (S1 Pendidikan Biologi, Ketua Tim), Aruna Nur Setiawan (S1 Pendidikan Biologi), Syafri Musthofa (S1 Pendidikan Biologi), Tresa Rhisma Izzata (S1 Pendidikan Biologi) dan Amrina Rosyada (S1 Kimia) dengan dosen pembimbing Dr Wirdatun Nafisah, SSi MSi.
Topik tentang gagal ginjal menarik karena kasusnya yang sedang naik daun dan sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Awalnya, Tim PKM ini berencana menggunakan daun kopi excelsa, komoditas lokal dari daerah Jombang. Namun, setelah dikaji lebih lanjut, latar belakang penggunaan tanaman tersebut masih terlalu lemah dan akses ke lokasi pengambilan sampel pun cukup menyulitkan. “Kami akhirnya mencari alternatif tanaman lain yang mudah dijumpai dan memiliki potensi farmakologis, yakni daun tanaman bakung,” ujar Yestyas, Ketua Tim.

Tanaman Bakung sangat mudah ditemukan di taman-taman sekitar kampus dan biasanya hanya dianggap sebagai tanaman hias. Setelah didiskusikan dan mendapatkan persetujuan, tim menyusun ulang proposal dengan tanaman bakung sebagai objek utama. Mereka lantas merekrut dua anggota tambahan, Tresa dan Amrina, untuk memperkuat tim dari sisi biologi dan kimia.
Yestyas mengatakan, penelitian ini dijalankan dalam skema PKM-Riset Eksakta (PKM-RE) dan menekankan pada bidang fisiologi hewan, biokimia, serta bioinformatika. Mereka menggunakan metode in silico dan in vivo untuk menguji efektivitas ekstrak daun bakung sebagai agen antiinflamasi. Salah satu keunggulan utama dari penelitian ini adalah bahwa topik gagal ginjal sangat urgen dan dekat dengan realita masyarakat.
Selain itu, belum pernah ada kajian yang memanfaatkan daun bakung sebagai agen anti inflamasi untuk gagal ginjal menggunakan pendekatan in silico dan in vivo. “Penelitian ini cukup unik dan berpotensi memberikan kontribusi baru dalam dunia kesehatan berbasis herbal,” bebernya.
Proses penelitian ini tidak berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah saat mempelajari teknik in silico dan in vivo karena masih sangat baru. Yestyas dan tim harus mempelajari bioinformatika dari dasar untuk memahami proses molecular docking dan analisis data. Begitu pula dalam tahap in vivo, perlakuan terhadap hewan uji seperti mencit menjadi tantangan tersendiri.
“Kami harus memastikan hewan-hewan uji tetap hidup selama proses pengujian ekstrak daun bakung berlangsung sampai nantinya dilakukan pemanenan ginjal. Ini menjadi pengalaman pertama kami bekerja langsung dengan hewan coba dalam waktu yang lama, sehingga dibutuhkan kehati-hatian dan tanggung jawab yang besar,” jelasnya.
Meski penuh tantangan, semangat tim ini tidak pernah padam. Apalagi, Yestyas dan tim mendapatkan banyak dukungan dan motivasi sehingga tim dapat menyelesaikan seluruh rangkaian penelitian tepat waktu dan dengan hasil yang memuaskan. “Kami sangat bersyukur karena meski sempat gagal di Liga-PKM Unesa, kini justru berhasil terdanai oleh Belmawa. Ini membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah kesuksesan yang lebih besar,” ungkapnya.
Dari penelitian yang dilakukan, gagal ginjal ternyata tidak hanya menyerang orang tua, bahkan kini penyakit itu juga menyerang kelompok usia muda hingga anak-anak. Salah satu faktor yang menjadi pemicu adalah gaya hidup modern yang tidak sehat seperti banyak mengonsumsi minuman ataupun makanan yang instan. Tingginya konsumsi makanan cepat saji yang kaya gula dan garam, ditambah kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, menjadi faktor-faktor utama penyebab gangguan ginjal.
Dari data yang diperoleh Yestyas dan tim, sekitar dua juta kematian pertahun secara global disebabkan oleh gagal ginjal, sementara di Indonesia sendiri, angka kematian akibat penyakit ini mencapai lebih dari 50 persen dengan jumlah pasien lebih dari 300 orang pada 2023. Fakta-fakta tersebut, kata Yestyas, menjadi dasar utama untuk mencari alternatif pengobatan yang lebih alami dan minim efek samping.
“Di sinilah tim ini menemukan peluang besar untuk meneliti tanaman bakung, tanaman hias yang sering dipandang sebelah mata, namun menyimpan potensi luar biasa sebagai antiinflamasi pada kasus gagal ginjal,” tandasnya. @TimHumas

