Wujudkan Kemandirian Pangan melalui Inovasi Farmora

Tim PKM VGK Unesa, May Trheya Kasih

Guna mendukung ketahanan pangan masyarakat, sejumlah mahasiswa Unesa menemukan inovasi dalam penelitian berjudul Farmora: Smart Aquaponic Reservoir Berbasis Artificial Intelligence of Things dengan Pendekatan Bioremediasi Mewujudkan Kemandirian Pangan di Morokrembangan Kota Surabaya.

Farmora merupakan inovasi yang digagas tim PKM-VGK Unesa terkait Pertanian dan Perikanan Pintar yang pengelolaannya memanfaatkan teknologi AIoT dan bioremidiasi untuk menetralisir air Bozem di Morokrembangan Surabaya. May Trheya Kasih, Ketua Tim mengungkapkan bahwa isu ketahanan pangan dipilih karena berkaitan dengan masalah kisis pangan global, krisis air bersih dan perubahan iklim.

Ia menyebut urgensi penelitian ini terletak pada kesenjangan yang ada, dimana kondisi perkotaan yang semakin padat, membuat lahan pertanian dan perikanan semakin terbatas. Dari kegelisahan itulah, tim PKM-VGK Unesa menggagas Farmora sebagai solusi minimnya lahan pertanian dan perikanan pintar.  

“Inovasi ini dapat mendukung terwujudnya ketahanan pangan. Seba, Farmora memiliki potensi yang sangat besar, karena inovasi tersebut dapat diterapkan oleh pemerintah dari 3-5 tahun ke depan,” ujar May, yang meruoakan mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi Negara tersebut.

Mahasiswi asal Kabupaten Malang tersebut menjelaskan, sistem kerja Farmora dimulai dari air bozem di Morokrembangan yang telah dinetralkan oleh bioremidiasi dan nano teknologi sebelum masuk ke bangunan Farmora.  Selanjutnya, air bozem akan digunakan untuk mengairi perikanan Farmora yang dikolaborasikan dengan aquaponik, sehingga kolam ikan berada di bagian bawah dan di atasnya terdapat tanaman seperti padi.

“Semua sistem seperti saluran air, pemberi makan ikan, panen, dan pengatur kelembaban diatur otomatis menggunakan AIoT, sehingga data akan langsung dikirimkan ke komputer yang ada di ruang operasional,” ungkapnya.

Farmora, lanjutnya, memiliki banyak kelebihan daripada aquaponik konvensional. Keunggulan itu, seperti pada efisiensi ruang, waktu, dan kualitas karena detail kecil dapat diperhatikan menggunakan AIoT seperti masa tumbuh ikan, sayuran, dan rencana panen. Selain itu, adanya fitur cerdas Farmora pada sistem bioremidiasi, pemupukan, pembibitan, pemberian pakan, pengatur kelembaban, dan panen otomatis sudah dilakukan oleh AIoT.

“Data hanya boleh diakses oleh pemerintah dan pegawai operasional sebagai bentuk monitoring serta evaluasi. Selain itu, masyarakat luas dapat langsung mengunjungi Farmora untuk melihat cara kerja sistem pertanian dan perikanan pintar serta melakukan wisata petik sayur,” jelasnya.

Sistem Formora tersebut, kata May, mendapatkan respon positif dan dukungan dari masyarakat Surabaya. Apalagi, inovasi ini dapat diaplikasikan secara luas oleh pemerintah dengan kolaborasi bersama sektor swasta dan masyarakat umum.

Budidaya Perikanan dan Pertanian

Selaras dengan yang disampaikan May, Okta Dwi Kasmadi sebagai leader dan researcher mengungkapkan bahwa Farmora terebut bisa digunakan untuk budi daya perikanan dan pertanian. Jenis ikan yang dapat dikembangkan di antaranya Lele, Nila, dan Kerapu, sedangkan untuk sayuran yang dapat ditanam seperti Selada, Tomat, dan Kangkung, juga tanaman padi.

“Penanaman padi ini bertujuan untuk meningkatkan produksi beras di Jawa timur supaya dapat meningkatkan produksi pangan dalam negeri, sehingga dapat menunjang ketahanan pangan nasional,” tambahnya.  

Lokasi Morokrembangan, terang Okta, dipilih karena tempat tersebut sebelumnya sempat dikembangkan oleh pemerintah, namun belum ada perkembangan. Berdasarkan jurnal terkait, air di bozem Morokrembangan telah banyak terkontaminasi zat-zat buruk yang disebabkan oleh limbah. “Kondisi itu mendorong kita membuat inovasi terkait mengatasi limbah,” lanjutnya.  

Okta dan May sendiri menjelaskan bahwa produk Farmora berbentuk video pendek berdurasi 2-4 menit ditayangkan ke youtube. Prosesnya tentu melalui praproduksi, produksi video, dan pascaproduksi. Video pendek ini mengambarkan masalah, inovasi Farmora sebagai solusi yang divisualisasikan dengan Animasi 3 D, serta manfaat yang d dapatkan dari implementasi farmora.

“Farmora sendiri menargetkan pemerintah dan pihak swasta untuk meralisasikan inovasi ini, sedangkan masyarakat berperan sebagai penerima inovasi. Inovasi ini dapat menjadi percontohan di daerah dekat waduk atau yang minim lahan. Apabila ingin dikembangkan di tempat yang lain, dapat diadaptasi dengan menyesuaikan kondisi daerah masing-masing,” jelas Okta.  

Selama melakukan penelitian, tim PKM-VGK Unesa juga banyak mendapati fakta asli di lapangan terkait bozem dan dampak yang dirasakan masyarakat sekitar. Penelitian tim PKM-VGK Unesa juga mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti dosen pembimbing dan masyarakat di sekitar bozem Morokrembangan. “Penelitian ini bersifat independen, hanya saja kami melibatkan pemerintah dan masyarakat untuk memberikan testimoni terkait inovasi ini,” ungkap May.  

Selain itu, May dan tim mengakui mendapat banyak dukungan dari Universitas, diantaranya mendukung dengan memberikan fasilitas pendampingan, monitoring, dan incash seperti hak cipta, peminjaman gedung, dan sebagainya. May dan tim berharap ide ini dapat membawa dampak positif bagi Indonesia, khususnya terkait ketahanan pangan.  

Untuk diketahui, penelitian yang dilakukan tim PKM-VGK Unesa ini terdiri atas Okta Dwi Kasmadi (Leader and Researcher), May Trheya Kasih (Secretary and Managing), Karna Abadi (Researcher and Copywriter), Tri Murdihafan (Grafis Designer and Video Editor), Dimas Galih Saputra (Promotion Strategy) dan Dwi Anggorowati Rahayu, SSi MSi (dosen pembimbing). @TimHumas

id_IDID