Hadiah Buku untuk Mahaguru Purnatugas

Oleh Much. Khoiri, Dosen Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa

Pada Sabtu, 22 November 2025, sebuah kegiatan langka dihelat di Auditorium Lantai 11 Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa): Bedah buku yang dirangkai dengan temu alumni Doktor dan Magister Fakultas Bahasa dan Seni Unesa. Ternyata, yang hadir bukan hanya alumni, melainkan juga pejabat, dosen, dan mahasiswa aktif.

 Adalah Prof. Dr. Haris Supratno, mahaguru (guru besar) yang baru saja purnatugas, sosok yang kepadanya buku berjudul Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (2025) dipersembahkan. Inilah sosok mahaguru bagi murid-murid kultural yang menulis book-chapter untuk buku bunga-rampai yang dieditori oleh Setya Yuwana Sudikan, Much. Khoiri, dan Riki Nasrullah ini.

“Hadiah paling tepat untuk guru ilmuwan adalah buku, bukan yang lain,“ demikian ungkapan Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A., Ketua SAU Unesa sekaligus editor buku itu. Hadiahnya tidak perlu berupa harta benda yang mahal harganya. Justru buku merupakan harta yang tak ternilai, mengabadi di luar batas ruang dan waktu. Ia akan ikut mencerdaskan bangsa dengan caranya sendiri dari generasi ke generasi.

  Buku persembahan itu tidak hanya dihadiahkan kepada mahaguru, melainkan juga dibedah atau diulas oleh pakar mumpuni: Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Universitas Negeri Malang) dan Prof. Dr. Kisyani, M.Hum (Unesa). Ulasan mereka semakin memperkuat posisi mahaguru dalam dunia keilmuan. Lebih dari itu, mahaguru sendiri menyampaikan orasi ilmiah tentang perantauan akademiknya mulai awal karir hingga purnatugas, dan akan dilanjutkan hingga akhir hayat.

Alangkah bahagianya mahaguru, karena purnatugasnya dirayakan dengan persembahan buku tak terlupakan. Ada kebanggaan dan kebahagiaan terpancar di wajah pada penulis book chapter, mahasiswa aktif, dan dosen sejawat yang menyaksikan. Ada keterharuan di hati sang mahaguru: bahwa lilin ilmu yang pernah disulutnya di masa silam dengan ketulusan kini berkembang menjadi nyala api yang benderang.

Membangun Tradisi Literasi

Sejarah mencatat bahwa tokoh-tokoh dikenal berkat karyanya sendiri. Sophocles (429 SM) dikenal dengan karya Oedipus Rex, Virgil (29-19 SM) dengan Aeneid, Ovid (8 M) dengan Metamorphosis,  Laozi (6 M) dengan Dao De Jing, atau Firdausi (1010 M) dengan Shahnameh. Dewasa ini kita mengenal Daniel Defoe lewat Robinson Crusoe (1719), Mary Shelley lewat Frankestein (1818), atau Charles Dickens lewat Great Expectations (1861). Di Indonesia kita mengenal Iwan Simatupang lewat novel Merahnya Merah atau Budi Darma lewat novel Olenka.

Namun, kita juga mengenal tokoh pemikiran karena ditulis oleh orang lain—dan inilah maksud tulisan saya ini. Adalah filsuf Plato yang telah menuliskan pemikiran dan kebijaksanaan Socrates, mahagurunya. Dalam karya Politeia, Apology, Crito, Phaeo, Symposium, Charmides, Cratylus, dan Euthydemus, Plato menuliskan pemikiran gurunya dan menuangkan pemikiran sendiri. Dari tulisan Plato cendekiawan melakukan penelaahan dan rekonstruksi pemikiran Socrates. Plato menjadi katalisator yang menyalakan lilin ilmu gurunya.

Dalam hal ini, Plato menulis untuk Socrates sebagai persembahan indah seorang murid bagi sang mahaguru. Andaikata Plato tidak menuliskan pemikiran Socrates, amat mungkin Socrates tenggelam dalam sejarah filsafat Yunani, bahkan filsafat dunia. Tanpa perantara tulisan Plato, kebijaksanaan Socrates untuk masyarakat Athena hilang ditelan zaman. Singkatnya, kita tidak akan mengenal Socrates tanpa kehadiran tulisan Plato.

Kira-kira begitulah posisi Prof. Dr. Haris Supratno di mata para murid-murid kultural yang menulis untuk buku Seni, Sastra, dan Budaya Lokal: Pendekatan Multi-, Inter-, dan Transdisipliner (2025). Sebagaimana Plato menyalakan ilmu yang diwarisi dari Socrates lewat tulisan, para penulis buku ini hadir untuk menyalakan lilin ilmu pengetahuan dan kajian yang telah diwarisi dari guru kultural mereka, dengan pendekatan masing-masing.

Mahaguru dari para penulis buku tersebut amat boleh jadi bahagia dan terharu. Mengapa? Inilah keistimewaannya: Berbeda dengan Socrates, Prof. Haris sendiri juga menulis pemikiran-pemikirannya, sehingga para murid kultural telah bertugas menyalakan lilin ilmu yang ada di berbagai tempat di negeri ini. Ibaratnya, lilin ilmu yang dinyalakan di kampus kini telah melintas batas ruang dan waktu, tumbuh dan berkembang di sebanyak tempat alumni tinggal dan mengabdi.

Dengan demikian, di samping praktik literasi menghasilkan karya buku sendiri sebagaimana Sophocles (429 SM) menulis Oedipus Rex atau Budi Darma menulis Olenka, ada praktik literasi menuliskan pemikiran mahaguru oleh murid-muridnya, sebagaimana Plato menulis untuk Soicrates. Dua praktik literasi inilah yang patut kita hidupkan sebagai tradisi ilmiah dalam momentum kreatif—mungkin salah satu langkah kecil untuk turut membangun peradaban.

Gagasan utamanya adalah menulis buku bagi mahaguru ilmuwan yang purnatugas kali ini diharapkan akan menjadi tradisi keilmuan di kampus Unesa. Bahkan, hal ini bakal menginspirasi insan-insan akademik di institusi lain untuk melakukan hal sama: Menulis buku persembahan dan membedahnya dalam diskusi ilmiah yang inspiratif. Terjadilah intellectual dialog yang produktif di dalamnya. Pada saatnya rantai pengetahuan akan terbentang dari generasi ke generasi.

Penutup

Terus terang, saya tidak akan jemu mengkampanyekan pemberian hadiah buku untuk momentum-momentum penting bagi diri sendiri dan orang-orang tercinta. Saya telah menghadiahi diri buku karya sendiri pada hari ulang tahun saya—kini memasuki tahun kedelapan; dan saya telah mengajak pembaca untuk mentradisikannya. Saya mengajak menulis buku tidak hanya untuk ulang tahun diri sendiri, melainkan juga untuk keluarga dan kerabat. Itu warisan (legacy) pengetahuan yang akan hidup di masa mendatang.

Kali ini saya mengajak Anda sekalian untuk berniat menulis buku untuk hadiah persembahan bagi guru-guru Anda yang telah menanamkan benih-benih pengetahuan dan kini berkembang dalam diri Anda. Hidupkan jariyah ilmu guru Anda, dan tularkan kepada murid dan masyarakat. Buatlah guru Anda tersenyum dan terharu menyaksikan Anda telah menjadi ilmuwan yang bersedekah ilmu—sebagaimana Plato menebarkan pemikiran Socrates lewat karya-karyanya.*

Surabaya, 25 November 2025

*Much. Khoiri (nama pena dari Dr. Much. Koiri, M.Si.) adalah dosen Creative Writing dan Kajian Sastra/Budaya dari FBS Unesa; Penulis dan editor berlisensi; Ketua Satupena Gresik, Founder Rumah Virus Literasi (RVL), dan Ketua Apebskid Jatim. Menerbitkan 81 buku tentang budaya/sastra, menulis kreatif, dan literasi. Buku solo terbaru “Becoming a Creative Writer: Proses Kreatif Menuju Buku Paling Dicari” (2025).

id_IDID