Jepang dikenal memiliki sistem pendidikan yang tertib, budaya kerja yang disiplin, dan manajemen sekolah yang terstruktur.” Salsa
Salsa Bil Allzahra (Salsa), mahasiswi Prodi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya angkatan 2023 mendapatkan kesempatan berharga mengikuti program magang dan volunteer internasional di Jepang melalui Dejavato Group. Pengalaman di Negeri Sakura itu menjadi pembuka sudut pandang baru tentang pendidikan, etos kerja, dan ragam budaya.
Salsa awalnya hanya mencari informasi program internasional melalui media sosial. Begitu melihat Dejavato Group dan membaca pengalaman para alumni yang pernah mengikuti program tersebut, ia semakin yakin untuk mendaftar. Jepang menjadi tujuan utama karena sesuai dengan fokus studinya. “Jepang dikenal memiliki sistem pendidikan yang tertib, budaya kerja yang disiplin, dan manajemen sekolah yang terstruktur,” ujarnya mengenai alasan memilih Jepang.
Selain alasan akademik, ketertarikannya pada budaya Jepang juga menjadi alasan Salsa. Apalagi, selama ini ia hanya mengetahui Jepang melalui film, artikel, atau kelas perkuliahan. Karena itu, kesempatan menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Jepang dalam kehidupan sehari-hari menjadi daya tarik bagi Salsa. “Jepang merupakan tempat yang tepat untuk melihat manajemen pendidikan diimplementasikan secara nyata mulai dari sekolah hingga lingkungan sosialnya,” ungkapnya.
Di Jepang, melalui program Kamodani – Sudachi Project, Salsa ditempatkan di industri pengolahan bahan pangan. Ia belajar mengenai proses produksi, alur distribusi, dan perusahaan mengatur sumber daya manusia secara efisien. Ia juga menyaksikan langsung pekerja Jepang menjaga ketelitian pada setiap proses. Etos kerja ini menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa yang kelak akan berkecimpung dalam dunia pendidikan. “Mereka bekerja dengan sangat teliti. Setiap detail diperhatikan. Budaya kerja itu memberi saya sudut pandang baru tentang profesionalitas,” ungkapnya.
Tidak hanya magang, Salsa juga aktif dalam berbagai kegiatan volunteer. Ia mengikuti aktivitas desa, menghadiri festival lokal, hingga berbaur dengan masyarakat setempat. Melalui kegiatan tersebut, ia belajar memahami nilai-nilai sosial Jepang yang mengutamakan kebersamaan, kesopanan, dan saling menjaga lingkungan. Ia juga bertemu dengan volunteer dari berbagai negara. “Bertemu orang-orang dari berbagai negara membuat saya sadar bahwa pendidikan multikultural itu penting. Kita jadi belajar cara berkomunikasi dan menghargai perbedaan,” ujarnya.
Selama mengikuti program, Salsa juga mendapat kesempatan mengunjungi beberapa sekolah di Tokushima. Observasi tersebut memperkaya wawasannya mengenai sistem pendidikan Jepang yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemandirian, dan tanggung jawab sejak usia dini. Ia melihat guru mengelola kelas dengan rapi, siswa terbiasa membereskan ruangan, dan kedisiplinan yang diterapkan tanpa tekanan.

Relevan dengan Mata Kuliah
Sejumlah mata kuliah yang ia pelajari di Unesa, terbukti sangat relevan. Mata kuliah Manajemen Layanan Pendidikan, misalnya, membantu Salsa memahami alur kerja lembaga pendidikan. Sementara itu, mata kuliah Komunikasi Pendidikan membekalinya keterampilan berinteraksi lintas budaya, sedangkan mata kuliah Sosiologi Pendidikan memperkaya pemahamannya tentang karakter masyarakat Jepang. “Pengalaman magang ini terasa lebih bermakna karena dapat langsung dikaitkan dengan konsep-konsep teori yang saya pelajari di kampus,” bebernya.
Meski mendapat banyak pengalaman positif, perjalanan ini tentu tidak terlepas dari tantangan. Salsa mengatakan, proses adaptasi budaya serta kendala bahasa menjadi tantangan paling berat yang dihadapi. Selain itu, ritme kerja masyarakat Jepang yang serba cepat, juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, ia memilih untuk tidak menyerah. Ia menyesuaikan diri dengan banyak bertanya, tidak ragu meminta bantuan, dan mempelajari kosakata bahasa Jepang setiap hari agar komunikasi lebih lancar.

Untuk menjaga keseimbangan antara tugas kuliah, kegiatan magang, volunteer, dan kebutuhan sehari-hari, Salsa menyusun jadwal harian yang cukup rinci. Ia memanfaatkan waktu luang untuk mengerjakan tugas kuliah dan tetap menjaga waktu istirahat agar tidak kelelahan. “Kemampuan mengatur waktu ini menjadi salah satu keterampilan yang saya asah selama mengikuti program,” ungkapnya.
Di akhir program, Salsa merasakan sejumlah pencapaian pribadi. Ia berhasil melakukan observasi industri pangan secara langsung, menerapkan komunikasi dasar bahasa Jepang, dan aktif terlibat dalam kegiatan sosial masyarakat. Semua pengalaman tersebut memperluas sudut pandangnya sebagai calon pendidik yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki wawasan global dan kepekaan budaya. “Pengalaman ini membuat saya berkembang, bukan hanya sebagai mahasiswa tetapi juga sebagai pribadi. Saya belajar melihat dunia dengan cara yang lebih terbuka,” kata Salsa.
Ia berharap pengalaman internasional ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Unesa lainnya. Baginya, kesempatan seperti ini terbuka untuk siapa saja yang berani mencoba dan bersedia keluar dari zona nyaman. Salsa yakin bahwa pengalaman di Jepang akan menjadi modal penting bagi masa depannya, terutama ketika kelak mengabdi di dunia pendidikan. “Nilai-nilai positif seperti disiplin, kerja sama, dan keterbukaan budaya akan saya terapkan dalam lingkungan pendidikan nantinya,” tandasnya. @Sindy

