Tim Peneliti Unesa Ciptakan Mesin Produksi High Capacity Berbasis Sistem Kontrol

Dukung Produksi UMKM Sepatu

Saat ini sepatu bukan sekadar sebagai pelengkap kebutuhan sehari-hari, tapi sudah menjadi simbol gaya hidup dan identitas individu. Industri sepatu di Indonesia pun terus berkembang pesat, bahkan menjadi salah satu dari tiga besar eksportir dunia setelah Tiongkok dan Vietnam. Karena itu, keberadaan UMKM pengrajin sepatu perlu dukungan teknologi tepat guna seperti mesin-mesin produksi berkapasitas tinggi untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi.

Untuk mendorong kemajuan industri sepatu yang diproduksi UMKM, Tim peneliti Unesa membuat penelitian berjudul “Pengembangan Inovasi Mesin-Mesin Produksi Sepatu High Capacity berbasis sistem kontrol untuk mendorong produktivitas UMKM Sepatu”. Penelitian itu menghasilkan prototype mesin-mesin produksi sepatu high capacity berbasis sistem control.

Ketua Tim Peneliti, Iskandar, ST, MT mengatakan bahwa penciptaan mesin ini lahir dari permasalahan yang dihadapi pengusaha sepatu. Pertama, proses selep sepatu menggunakan motor listrik terbuka oleh gerindra kasar dapat menghasilkan banyak debu yang berbahaya bagi kesehatan. “Selain itu, hasil selep kurang rapi karena posisi tangan yang tidak stabil dan kurang ergonomis sehingga menyebabkan operator cepat lelah,” terangnya.

Kedua, proses pengeringan lem sepatu masih terbilang lambat atau tidak merata yang disebabkan penggunaan kompor gas kapasitas kecil. Ketiga, pengepresan upper dengan sol dilakukan dengan manual memakai palu dan pres ulir. “Cara ini memakan banyak tenaga dan waktu, sementara daya lekat kurang maksimal akibat tekanan yang tidak merata,” ujarnya.

Keempat, setelah pengepresan, dibutuhkan pemanasan tambahan untuk merapikan tekstur kulit agar kembali kencang dari kondisi berkerut. Kelima, poles sepatu umumnya memakai mesin rakitan sederhana berbasis motor listrik terbuka dengan gerinda poles. “Proses ini berisiko karena menimbulkan debu yang mencemari udara dan membahayakan pernafasan. Hasil poles juga tidak konsisten karena bergantung pada kestabilan tangan,” tambahnya.

Dan, keenam, pembuatan label sepatu masih dilakukan manual dengan menjahit merk hasil sablon pada insole. Proses ini, kata Iskandar, cukup lama, hasilnya tidak seragam, mudah pudar, dan kurang memberikan kesan mewah atau menarik.

Penelitian ini, terang Iskandar, juga menggandeng mitra penelitian, yaitu CV Mentari Pagi Engineering. Mitra ini bertugas menciptakan prototype automatic shoe dryer machine with timer and thermo control, pneumatic shoe press machine with automatic pressure censor, shoe polishing machine integrated with dust collector dan electric embossing machine. “Keempat mesin tersebut terintegrasi dengan sistem penyimpanan cloud,” terangnya.

Memiliki Empat Keunggulan

Kelima inovasi tersebut, jelas Iskandar, memiliki keunggulan dan keunikan dibandingkan dengan mesin lainnya. Setidaknya, ada empat keunggulan dari mesin tersebut. Pertama, Shoe Polishing Machine integrated with Dust Collectormerupakan mesin selep sepatu berfungsi untuk menghaluskan sisi keliling sepatu dengan motor listrik berkecepatan tinggi yang dilengkapi blower penghisap debu. “Mesin ini mampu memberikan abrasi pada karet untuk memperkuat daya rekat lem, sekaligus dapat digunakan sebagai mesin poles finishing. Hasilnya, profil sepatu tampak lebih rapi dan halus, proses lebih cepat, serta lingkungan kerja tetap sehat,” tambahnya.

Kedua, Automatic Shoe Dryer Machine with Timer and Thermo Control. Merupakan mesin pengering sepatu otomatis dilengkapi timer dan pengatur suhu, mampu mengeringkan lem hingga 15 pasang sepatu dalam ±3 menit.  “Kapasitas ini sekitar 15 kali lebih besar dibandingkan dengan pengering berbasis kompor gas LPG yang hanya mampu menangani 1 pasang dalam waktu sama,” terangnya.

Ketiga, Pneumatic Shoe Press Machine with Automatic Pressure Censor.Mesin pres sepatu ini berkapasitas 2 pasang permenit dan bekerja dengan sistem tekanan udara (pneumatik). Tekanan merata yang dihasilkan membuat rekatan antara sol dan upper lebih kuat dan rapi. Keempat, Electric Embossing Machine, mesin press panas untuk mencetak label pada kulit sepatu, dilengkapi pengatur suhu dan waktu. Prosesnya hanya ±5 detik per sepatu, 24 kali lebih cepat dibanding cara lama. Hasil cetakan lebih rapi, elegan, dan meningkatkan nilai serta daya saing produk. “Keempat inovasi ini juga terhubung dengan sistem database berbasis cloud yang memantau kapasitas produksi secara real-time,” urainya.

Iskandar bersama dengan anggota tim lainnya (Dr Nur Kholis, ST MT dan Dr I Made Arsana, SPd, MT) memulai penelitian dari tahun 2022 hingga 2023. Selain bekerja sama dengan CV Mentari Pagi Engineering, tim juga melakukan kunjungan ke beberapa UMKM dan home industry sepatu di daerah Sidoarjo. Kunjungan itu bertujuan mengetahui kebutuhan dan urgensi para UMKM.  

Menurut Iskandar, penetian ini menjadi ajang bagi mahasiswa Unesa untuk ikut berpartisipasi terjun langsung dan dapat menjadikan pengalaman berharga. Selain itu, juga menjadi sarana saling bertukar informasi yang bermanfaat untuk peningkatan industri UMKM sepatu di Indonesia.

“Tantangan pasti ada. Tapi, dengan segala upaya dan kerja keras, kami tim peneliti dapat menjalankan dengan lancar. Sejalan dengan perkembangan industri sepatu di Indonesia, saya berharap dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan industri sepatu di Indonesia. Selain itu, kami juga berharap ke depan ada pengembangan lebih baik dari penelitian ini sehingga dapat semakin memajukan UMKM Sepatu di Indonesia,” pungas Iskandar. @hasna

id_IDID