Ada berbagai jenis kasus seperti penipuan investasi bodong, kejahatan perbankan, pemalsuan uang, dan penipuan online. Pada 2023, misalnya, OJK menyelesaikan 101 perkara tindak pidana sektor jasa keuangan, sementara Bareskrim Polri menindak 2.079 kasus penipuan online di semester pertama 2022. Kerugian akibat investasi bodong mencapai Rp132 triliun dalam lima tahun terakhir. Berikut bincang dengan guru besar bidang ilmu akuntansi forensik sektor publik Unesa mengenai berbagai kejahatan di sektor perbankan!
Bagaimana esensi ilmu akuntansi forensik sektor publik ini?
Akuntansi itu seni membuat laporan sehingga menghasilkan informasi keuangan dan bisa mengambil keputusan secara logis. Seiring berkembangnya waktu, akuntan mulai menghadapi banyak isu, di antaranya kecurangan, termasuk penipuan seperti transaksi bisnis palsu. Bahkan, di pengadilan muncul keilmuan yang diturunkan dari akuntansi yaitu akuntan spesifikasinya menggunakan keahlian akuntansi dan audit untuk membantu menyelesaikan sengketa terkait laporan keuangan dan akuntansi lainnya, itu secara umum.
Seiring berkembangnya waktu juga, objeknya berkembang. Dulu, yang umum perusahaan, tapi semakin ke sini semakin seimbang kondisinya antara perusahaan, pemerintah, yayasan, lembaga keagamaan. Kapan hari itu malah ada badan pengelola haji. Itu wilayah sektor publik, dan ternyata tidak sedikit kecurangan di bidang keuangan sektor publik.
Penelitian terbaru terkait akuntansi forensik sektor publik yang dilakukan?
Beberapa waktu yang lalu, ada yayasan pengumpulan dana bantuan gempa bumi. Itu sangat rawan untuk penyelewengan. Kebetulan, kami sebagai akuntansi fraud tidak berpraktik. Ada beberapa dosen yang juga berpraktik sebagai akuntansi forensik. Saya lebih pada riset. Jika praktik langsung, kita ada sertifikasinya sebagai tim ahli akuntansi forensik. Kalau dipanggil sebagai tim ahli kami berperan sebagai tim yang ahli dalam menangani.
Terbaru, peran CFO (chief finansial officer) yang wanita. Hasil studinya menarik. Menunjukkan kalau direktur wanita kecenderungan melakukan kecurangan atau fraud wanita lebih rendah melakukan kecurangan daripada direktur keuangan pria. Kalau dari teori diketahui bahwa perempuan lebih rendah melakukan itu karena keterhati-hatiannya tinggi atau sangat mempertimbangkan resiko, sedangkan pria itu lebih suka mengambil resiko karena fraud itu bisa terjadi tidak hanya disengaja tapi juga bisa tanpa disengaja.
Karena mereka tidak hati-hati, akhirnya terjerumus dalam fraud atau kecurangan dianggap merugikan, contoh kegagalan dalam investasi. Jika dilakukan dalam jangka lama maka diindikasikan dalam kegagalan. Kalau kita salah satu kali tidak disengaja, tapi kalau 10 kali maka ada indikasi apakah itu disengaja. Kalau perempuan salah sedikit saja akan takut, kalau laki-laki lebih berani mengambil resiko atau kerugian jangka panjang. Makanya kalau di parpol itu juga ada kontrol berapa persen itu pengambilan keputusannya harus perempuan agar menjaga keseimbangan, tidak sekadar kesetaraan gender tetapi juga keseimbangan.

Tanggapan terkait peran ilmu akuntansi forensik sektor publik di tengah ere digital saat ini, bagaimana?
Sebetulnya, digitalisasi dimanapun itu juga selalu ada kemudahan, tetapi di balik itu kalau tidak diterapkan secara hati hati kerugiaanya besar. Kejahatan digital itu bentuknya makin variatif. Dulu, orang mencuri uang di CCTV kelihatan. Akuntansi forensik hari ini tantangannya adalah harus jauh lebih mengerti tentang digital, semisal hacker dalam meretas data dan mengelabuhi sistem. Jika tidak belajar tidak akan mengerti. Maka, kami harus belajar. Tantangan kejahatan digital informasi palsu terkait dokumen bernilai keuangan, contoh dokumen kontrak mana asli mana yang palsu. Contoh lain, di lembaga sumbangan kemanusiaan qris bisa dipalsukan tidak masuk rekening organisasi masuk rekening pribadi. Tantangannya adalah kejahatan digital membuat kejahatan semakin mudah.
Bagaimana penerapan ilmu akuntansi forensik sektor publik secara real dan manfaatnya?
Di gadget, contoh sederhananya adalah m-banking, harus ada keamanan berlapis. Ada sandi, ada face recognituon, dan finger print. Itu agar menjaga keamanan karena AI sekarang bisa membobol sandi. Maka literasi digital fraud harus dimiliki. Kita harus sadar, misalkan mau sumbangan ini harus dipastikan qrisnya. Kalau main game muncul pop up, jangan langsung diklik, takutnya itu penipuan. Contoh di rekening saya ada pemberitahuan transaksi keluar, mungkin ini dari hasil klik kita secara tidak sadar. Karena itu, kita harus mulai waspada. Kebiasaan itu harus ditanamkan.
Contoh kecil adalah fokus dalam mengecek laporan rekening koran. Apakah ada kelainan atau tidak. Maka, kita harus aware tentang hal ini. Contoh lagi, saat telpon kita ditawari kartu kredit. Jangan mengiyakan saja, karena perusahaan tidak bisa dikenakan fraud kalau itu kita sendiri yang menjawab atau mengklik karena dianggap sudah setuju. Maka, kita harus aware dengan hal-hal ini. Kalau kita buka di web KPK itu ada training hal ini, secara online, dan nanti dijadikan duta KPK terhindar dari cyber crime.
Langkah pengembangan dan harapan terkait ilmu akuntansi forensik sektor publik di Indonesia?
Langkah pengembangan akuntansi forensik ini bisa dikembangkan ke arah budaya, politik, dan pendidikan. Sekarang ada hubungan atau tidak antara pendidikan dengan penerapan literasi. Sejak awal harus ditanamkan kewaspadaan dan kehati-hatian menggunakan digital keuangan. Kami berharap ilmu akuntansi forensik lebih dipahami secara luas, termasuk karakter yang kuat menghadapi dan mewaspadai kejahatan keuangan, terutama cyber. Kalau sudah cyber, itu tidak hanya dilakukan satu orang tetapi sudah tersistem atau terstruktur. Dengan pendidikan karakter, semua itu dapat diatasi. @azhar

