Menyala Gardanesa 2026

Semangat Baru Generasi Para Juara Unesa

Ribuan wajah penuh harap dan semangat baru resmi memadati kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Tahun ajaran baru ini bukan sekadar pergantian kalender akademik, melainkan titik awal bagi para mahasiswa baru untuk mengepakkan sayap dan mengukir prestasi. Sesuai dengan DNA “Kampus Para Juara”, semangat ‘Menyala Gardanesa’ kini berkobar di dada generasi muda yang siap bertransformasi menjadi pemimpin masa depan.

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) resmi mengukuhkan sebanyak 20.368 mahasiswa baru Tahun 2026 yang tersebar di berbagai fakultas dan program studi. Mengusung visi besar sebagai kampus berprestasi, rangkaian penyambutan tahun ini dirancang khusus berbarengan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia. Selain menanamkan jiwa nasionalisme, juga untuk memperkuat karakter “Generasi Juara” kepada seluruh mahasiswa baru dan memastikan mereka siap mencetak sejarah sejak hari pertama menginjakkan kaki di kampus bertagline satu langkah di depan itu.

Rektor Unesa, Prof Nurhasan atau yang akrab disapa Cak Hasan dalam pembukaan PKKMB Unesa 2026 di Lapangan Rektorat, Senin, 17 Agustus 2026 menyampaikan bahwa “Rumah Para Juara” bukan sekadar slogan, melainkan cerminan dari jejak prestasi nyata mahasiswa di bidang akademik maupun nonakademik pada tingkat nasional dan internasional. “Melalui PKKMB 2026 ini, kami mendorong mahasiswa baru untuk terus memastikan Unesa satu langkah di depan sebagai kampus juara,” ujar Rektor.

Melalui PKKMB 2026, lanjutnya, Maba Unesa tidak hanya dipersiapkan menjadi insan akademik yang unggul. Tetapi juga menjadi bagian dari generasi yang menjunjung prestasi, kolaborasi, inklusivitas, kesetaraan, dan budaya anti kekerasan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. “PKKMB menjadi pintu awal untuk mengenalkan lingkungan akademik, memperkuat tekad, sekaligus membangun cara pandang mahasiswa dalam menghadapi perjalanan studi ke depan,” tegas Cak Hasan.

Dalam momen itu, Cak Hasan mengajak mahasiswa baru menjadikan masa kuliah sebagai ruang untuk membangun kapasitas diri sekaligus memperluas kontribusi. Menurutnya, mahasiswa perlu mampu bekerja sama, membangun jejaring, serta aktif mengambil peran dalam berbagai bidang agar kehadirannya memberikan dampak bagi masyarakat. “Saya ingin kalian menjadi kolaborator untuk perubahan bangsa yang lebih baik,” tandasnya.

Tantangan mahasiswa, kata Cak Hasan, tidak berhenti pada tuntutan akademik. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), turut mengubah kebutuhan kompetensi dan pola kerja. Karena itu, mahasiswa harus punya bisa cepat belajar dan adaptasi sekaligus tetap menjaga daya pikir, kreativitas, dan etika kemanusiaan.

Rektor menambahkan, masa kuliah diarahkan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Mahasiswa didorong memanfaatkan berbagai ruang pengembangan diri yang tersedia di Unesa, mulai dari penelitian, organisasi, kompetisi, kewirausahaan, kegiatan sosial, seni, olahraga, hingga berbagai aktivitas akademik dan nonakademik. “Berbagai fasilitas kampus diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi sekaligus menghasilkan karya yang memberikan dampak,” tegasnya.

Aset Strategis Menuju SDM Unggul

Mahasiswa baru bukan sekadar peserta didik yang memulai perjalanan akademik di perguruan tinggi. Lebih dari itu, mereka merupakan investasi sumber daya manusia (SDM) unggul yang akan menentukan masa depan bangsa. Karena itu, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memandang kehadiran mahasiswa baru sebagai aset strategis yang harus dipersiapkan secara matang melalui ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21.

Hal itu dikemukakan Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof Martadi. Menurutnya, penerimaan mahasiswa baru merupakan wujud komitmen Unesa dalam mendukung agenda besar pembangunan nasional melalui peningkatan kualitas SDM. “Kehadiran mereka (maba) menjadi salah satu aset besar Unesa untuk terus berkontribusi terhadap pembangunan agenda-agenda besar nasional,” ujarnya.

Sebagai aset, lanjut Martadi, mahasiswa baru harus memperoleh pengalaman awal yang positif ketika memasuki lingkungan kampus. Karena itu, pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) dirancang agar mampu memberikan rasa aman, nyaman, sekaligus menyenangkan bagi seluruh mahasiswa baru.

Unesa juga menyiapkan berbagai ruang pengembangan diri bagi mahasiswa baru dengan memfasilitasi potensi, minat, dan bakat mahasiswa agar mampu menyelesaikan studi tepat waktu, meraih berbagai prestasi, hingga siap berkarya di tengah masyarakat. “Perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan beradaptasi serta bekerja sama,” ujar Guru Besar Fakultas Vokasi.

Martadi menambahkan, berdasarkan berbagai masukan dari dunia kerja dan hasil survei, ada sejumlah kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa yakni kemampuan problem solving, kemampuan berkomunikasi dengan baik, memiliki integritas, kemampuan berkolaborasi dalam tim, kejujuran dan kreativitas. “Kemampuan-kemampuan itulah yang paling banyak dibutuhkan di dunia kerja saat ini,” ungkapnya.

Unesa terus memastikan kurikulum mampu membekali mahasiswa dengan berbagai soft skills yang relevan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Penguatan kompetensi tersebut, ujar Martadi, diwujudkan melalui proses pembelajaran yang mengedepankan higher order thinking skills (HOTS), berpikir kritis, dan pendekatan problem based learning serta project based learning. “Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa memecahkan persoalan nyata, bekerja dalam tim, dan mengasah kemampuan komunikasi,” tegasnya.

Selain itu, pengalaman belajar mahasiswa juga diperkuat melalui berbagai program pembelajaran berbasis pengalaman, seperti mobilitas akademik seperti magang, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, riset independen, hingga Program Pengenalan Lapangan (PPL). Beragam pengalaman tersebut menjadi wahana bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi sekaligus membangun kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja.

“Melalui ekosistem pembelajaran yang komprehensif tersebut, Unesa berharap lulusan Unesa mampu beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat, tidak gagap menghadapi tantangan, serta mampu berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tandasnya.

Gardanesa Penggerak Perubahan

Ketua Panitia PKKMB Unesa, Tutur Jatmiko, mengatakan PKKMB 2026 mengusung tema Aktualisasi Garda Unesa, Katalisator Peradaban Bangsa. Tema tersebut mengandung makna barisan mahasiswa yang mampu menjadi penggerak perubahan melalui gagasan, kreativitas, dan keberanian menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan bangsa. “Mahasiswa Unesa diharapkan menjadi penggerak perubahan bangsa di masa mendatang menuju Indonesia Emas 2045 dengan ide-ide muda yang brilian,” ujar Tutur.

Istilah katalisator, terang Tutur, dipilih karena menggambarkan peran mahasiswa sebagai pihak yang mampu mempercepat terjadinya perubahan positif. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi peserta pendidikan tinggi, tetapi juga harus tumbuh sebagai motor penggerak dan sumber inspirasi bagi generasi muda. “Semangat inilah yang ingin ditanamkan sejak hari pertama PKKMB,” tuturnya.

Unesa menghadirkan ciri khas dalam pelaksanaan PKKMB 2026. Meskipun rangkaian kegiatan tetap mengacu pada kurikulum yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Tinggi melalui Belmawa, Unesa menekankan pembentukan mahasiswa yang adaptif, inovatif, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. “Seluruh materi dirancang untuk membantu mahasiswa mengenal kehidupan akademik sekaligus memperluas wawasan mengenai kepemimpinan, kolaborasi, dan pengembangan diri,” jelasnya.

Pelaksanaan PKKMB berskala universitas tentu menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Ribuan mahasiswa baru mengikuti kegiatan secara luring maupun daring, sehingga panitia harus memastikan setiap peserta memperoleh pengalaman belajar yang sama berkualitasnya. “Koordinasi, pengelolaan teknis, hingga penyampaian materi menjadi perhatian utama agar kegiatan tetap berjalan efektif dan inklusif,” tambahnya.

Untuk menjaga kualitas tersebut, kata Tutur, panitia menghadirkan para ahli dari berbagai bidang sebagai narasumber. Kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan perspektif yang relevan mengenai dunia pendidikan tinggi, kepemimpinan, hingga tantangan masa depan yang akan dihadapi mahasiswa. “Kami berharap PKKMB tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pengalaman edukatif yang memberikan bekal nyata bagi kehidupan kampus,” harapnya.

Lebih lanjut, Tutur menegaskan bahwa keberhasilan PKKMB tidak diukur dari selesainya rangkaian acara, melainkan dari perubahan sikap mahasiswa. Ia berharap mahasiswa baru mampu membangun kemandirian dalam menjalani proses pendidikan tinggi, sekaligus mengembangkan berbagai kompetensi di luar bidang akademik. “Mahasiswa perlu mengembangkan soft skill, kepemimpinan, kemampuan berbicara di depan umum, dan manajemen diri,” terangnya.

Melalui PKKMB 2026, Unesa menanamkan pesan bahwa perjalanan menjadi sarjana bukan hanya tentang meraih gelar. Lebih dari itu, mahasiswa adalah Garda Unesa yang diharapkan tumbuh sebagai katalisator peradaban, yaitu pribadi yang mampu menginspirasi, memimpin, dan menciptakan perubahan bagi masyarakat serta masa depan Indonesia.

Sementara itu, pengalaman PKKMB dirasakan Nabila Emilia Putri. Mahasiswa baru FIP prodi S1 Pendidikan Nonformal mengaku senang karena bisa bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah yang memiliki latar belakang, bahasa, dan kebiasaan berbeda.

Baginya, PKKMB menjadi ruang pertamanya untuk memahami bahwa keberagaman bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan untuk dipelajari. Karena itu, ia  ingin lebih banyak mendengar, mengamati, dan menyesuaikan diri sebelum membangun relasi yang lebih luas.  

Selain itu, Nabila juga berharap Unesa bisa menjadi tempat yang membantunya terus berkembang, dipertemukan dengan dosen dan teman yang suportif, serta memberinya kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Mahasiswa Baru, Generasi Baru Calon Pemimpin Masa Depan

Kehadiran mahasiswa baru di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tidak sekadar menambah jumlah sivitas akademika. Lebih dari itu, mereka merupakan generasi baru yang dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan. Unesa berkomitmen menghadirkan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan kapasitas akademik, karakter, dan kepemimpinan mahasiswa sejak hari pertama masuk kampus.

Wakil Rektor Bidang Hukum, Ketatalaksanaan, Keuangan, Sumber Daya, dan Usaha, Prof. Dr. Bachtiar Syaiful Bachri, M.Pd mengatakan, mahasiswa baru merupakan generasi yang memiliki peluang besar untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus menjadi bagian dari pembangunan bangsa di masa depan. “Mahasiswa baru adalah generasi baru, calon pemimpin masa depan. Unesa harus menyambut mereka dengan baik,” ujarnya.

Menurut Bachtiar, Unesa telah memiliki berbagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan mahasiswa mengembangkan potensinya secara optimal. Unesa memiliki dosen-dosen yang berkualitas dan berpengalaman. Selain dukungan tenaga pendidik, mahasiswa juga didorong memanfaatkan berbagai fasilitas dan organisasi kemahasiswaan yang tersedia di lingkungan kampus. “Beragam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan hard skills, soft skills, kemampuan berorganisasi, hingga kepemimpinan,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik. Kemampuan berempati, berkomunikasi, bekerja sama, dan membangun karakter juga menjadi bekal penting dalam menghadapi kehidupan setelah lulus. Bachtiar mengajak seluruh mahasiswa baru menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan kampus. “Kampus ini adalah rumah kita. Rumah bukan hanya dimaknai sebagai tempat secara fisik, tetapi juga tempat yang menghadirkan kenyamanan dan keharmonisan. Di sinilah kita berbagi pengalaman, saling mendukung, dan bertumbuh bersama,” jelasnya.

Bachtiar berharap mahasiswa baru turut menjaga berbagai fasilitas kampus sebagai aset bersama. Apabila menghadapi persoalan selama menjalani perkuliahan, mereka diimbau memanfaatkan berbagai saluran komunikasi yang telah disediakan kampus, seperti dosen pembimbing akademik maupun layanan pembinaan kemahasiswaan.

Budaya Riset dan Nalar Kritis

Memasuki perguruan tinggi bukan hanya tentang mempelajari teori, tetapi juga membangun cara berpikir ilmiah. Karena itu, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendorong mahasiswa baru mengenal budaya riset dan inovasi sejak awal masa perkuliahan sebagai bekal menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Pemeringkatan, Publikasi, dan Science Center, Dr. Bambang Sigit Widodo, M.Pd menegaskan ketika memasuki pendidikan tinggi, mahasiswa dituntut memiliki pola pikir sebagai seorang saintis yang mengedepankan bukti dalam setiap proses berpikir dan pengambilan keputusan.

Menurut Bambang, pengenalan riset sejak awal bertujuan menumbuhkan rasa ingin tahu (curiosity) dan kemampuan berpikir kritis. Rasa ingin tahu akan mendorong mahasiswa mencari jawaban berbagai persoalan melalui metode ilmiah, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau informasi yang belum terverifikasi. “Di sinilah kemampuan berpikir kritis akan terbentuk,” terangnya.

Komitmen Unesa mengembangkan budaya riset, kata Bambang, juga diwujudkan melalui keterlibatan langsung mahasiswa dalam penelitian, inovasi, maupun pengabdian kepada masyarakat. Setiap tahun, kampus menyediakan kuota pendanaan riset dan pengabdian yang dapat diikuti mahasiswa secara kompetitif melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unesa. “Peluangnya sangat besar. Kami menyediakan kuota bagi mahasiswa untuk mengikuti kompetisi pendanaan riset maupun pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Bambang mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi saat ini harus diimbangi dengan kemampuan memverifikasi dan mengevaluasi kebenarannya. Menurutnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan lagi akses terhadap informasi, melainkan kemampuan menilai validitas informasi tersebut. “Jangan sampai nalar kritis mahasiswa hilang hanya karena menerima informasi tanpa proses validasi,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, hasil riset yang pernah dilakukan menunjukkan sebagian besar generasi muda memanfaatkan berbagai platform berbasis AI untuk mencari informasi, tetapi belum semuanya melakukan proses konfirmasi terhadap informasi yang diperoleh. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi dalam membangun budaya akademik yang kuat. “Inilah pentingnya pendekatan humanistik dalam proses pembelajaran,” tandasnya.

Menuju Panggung Dunia

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Unesa, Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, S.Pd., M.Kes berharap mahasiswa baru menunjukkan karakter seorang juara yang dapat menunjang tiga keunggulan Unesa yaitu olahraga, disabilitas, dan seni.

Predikat sebagai mahasiswa, kata Cahyo, membawa tanggung jawab untuk menjaga nilai dan marwah almamater. Perubahan lingkungan dari SMA atau SMK menuju perguruan tinggi menuntut mahasiswa lebih mandiri, dewasa, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan akademik yang baru. “Iklim ketika di SMA atau SMK tentu berbeda dengan ketika di kampus. Setelah menjadi mahasiswa harus segera menyesuaikan diri,” ujar Cahyo.

Kemampuan beradaptasi tersebut, kata Cahyo, menjadi penting di tengah dunia yang semakin terbuka. Mahasiswa tidak lagi hanya berkompetisi di tingkat lokal maupun nasional, tetapi juga berhadapan dengan talenta dari berbagai negara. Karena itu, Unesa terus memperluas kerja sama dan jejaring internasional untuk membuka ruang bagi mahasiswa memperoleh pengalaman akademik maupun profesional di luar negeri.

Menurut Guru Besar FIKK Unesa itu, pengalaman internasional bukan sekadar kesempatan belajar di negara lain, tapi menjadi ruang bagi mahasiswa memperluas wawasan, membangun jejaring, meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya, melatih kemandirian dan adaptasi. Selain itu, kesempatan internasionalisasi juga hadir melalui penguatan kelas internasional yakni International Undergraduate Program (IUP) dan program double degree.

Unesa menargetkan setiap fakultas memiliki minimal satu kelas internasional dan satu program double degree, dengan mitra perguruan tinggi luar negeri yang memiliki reputasi akademik kuat. Karena itu, mahasiswa baru didorong tidak menunggu hingga akhir masa studi dalam mempersiapkan diri menuju lingkungan global. “Banggalah menjadi mahasiswa Unesa. Manfaatkan momentum ini sebaik mungkin, junjung nilai-nilai baik lembaga, dan jaga marwah Unesa di panggung global,” pungkasnya memberi pesan.

Spirit dan Motivasi Pimpinan Fakultas untuk Mahasiswa Baru

Menyambut mahasiswa baru Unesa 2026, dekan selingkung Unesa turut menyampaikan pesan dan motivasi yang dapat menjadi bekal dalam menjalani perjalanan perkuliahan. Meski berasal dari bidang keilmuan yang berbeda, pesan yang disampaikan memiliki satu benang merah: mahasiswa perlu berani bertumbuh dan mengambil tanggung jawab atas prosesnya sendiri.

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Prof. Dr. Mochamad Nursalim, M.Si

Agen Perubaha di Dunia Pendidikan

“Kami menyambut dengan hangat mahasiswa baru FIP 2026. Saya melihat semangat luar biasa serta potensi besar pada generasi baru untuk menjadi agen perubahan di dunia pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan bukan hanya tempat belajar, tapi rumah untuk kalian bertumbuh menjadi pendidik, peneliti, dan pemimpin pendidikan masa depan. Saya berpesan agar meniatkan kuliah bukan sekadar meraih ijazah, tapi mengabdi bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Saya juga mengingatkan pentingnya sikap pantang menyerah dalam menghadapi tantangan perkuliahan. Sukses adalah yang bangkit satu kali lebih banyak dari jumlah dia jatuh.

Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Dr. Diana Rahmasari, S.Psi., M.Si

Motivasi Berprestasi dan Manajemen Stres

Saya menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang terus meningkat dari mahasiswa Fakultas Psikologi setiap tahunnya. Animo yang tinggi itu menjadi motivasi bagi fakultas untuk terus meningkatkan layanan. Saya berpesan agar mahasiswa baru memiliki motivasi berprestasi yang kuat dan memiliki kemampuan menajemen stres yang baik karena tunttan akademik di perguruan tinggi sangat berbeda daripada SMA. Perkuat hubungan dengan Tuhan karena dia yang akan mendampingi dan menolong kita untuk meraih kesuksesan. Jangan lupakan pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat, khususnya orang tua selama menjalani proses perkuliahan.

Dekan FBS, Syafi’ul Anam, Ph.D

Insan Akademik yang Adaptif di Era Global Digital

Para mahasiswa baru merupakan individu terpilih dari banyak peminat. Mereka adalah ada aset berharga bagi fakultas. Saya berharap mahasiswa baru FBS dapat menghayati nilai-nilai inti fakultas yang disingkat KREATIF yakni kolaboratif, ramah, empatik, adaptif, tangguh, inovatif dan fleksibel. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jadikan masa studi ini sebagai proses untuk menempa diri menjadi insan akademik yang adaptif di era global digital.

Dekan FK, Dr. dr. Endang Sri Wahjuni, M.Kes

Tenaga Medis Butuh Tekun, Sabar, dan Komitmen

Mahasiswa baru FK Unesa tahun ini memiliki semangat belajar tinggi meskipun berasal dari berbagai jalur penerimaan. Saya berharap perbedaan jalur tersebut tidak menjadi penghalang untuk saling beradaptasi dan berkembang bersama. Saya berpesan agar mahasiswa baru belajar dengan rajin dan terus mengikuti perkembangan ilmu di bidang kedokteran dan kesehatan, sekaligus menggunakan teknologi secara bijak. Perjalanan menjadi tenaga medis membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan komitmen yang kuat.

Dekan FIKK, Dr. Irmantara Subagio, M.Kes

3 Kunci Sukses; Konsistensi, Keseimbangan, dan integritas

Saya bangga dan optimis melihat antusiasme mahasiswa baru FIKK tahun ini. Sebagian dari mereka bahkan telah mengukir prestatasi di tingkat nasional maupun internasional. ahasiswa baru FIKK Unesa tidak hanya datang membawa semagat akademik, tetepi juga kesiapan prestasi. Saya mengajak mahasiswa baru menjadikan kampus sebagai laboratorium kehidupan membangun karakter dan kerja keras. Kunci sukses di FIKK Unesa terlatak pada tiga hal yaitu, konsistensi, keseimbangan, dan integritas.

Dekan FKP, Prof. Dr. Nining Widyah Kusnanik, S.Pd., M.Appl.Sc

Lima Pesan Utama untuk Meraih Keberhasilan

Kepada mahasiswa baru, saya menitipkan lima pesan utama untuk meraih keberhasilan, yakni mulai dari fokus akademik, aktif berorganisasi, memiliki jiwa kompetitif, memupuk jiwa kepemimpinan, hingga berkontribusi bagi fakultas. Semoga para mahasiswa baru kelak dapat menjadi garda terdepan yang mampu mengawal swasembada dan ketanan pangan Indonesia.

Dekan FH, Arinto Nugroho, SH, S.Pd, MH

Bekal Ketangguhan dan Etika

Kehidupan mahasiswa sangat berbeda dibandingkan ketika masih SMA. Jika sebelumnya saat SMA banyak mendapatkan arahan dari guru, di perguruan tinggi mereka dituntut lebih proaktif dalam menentukan langkah akademiknya. Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan masa studi untuk memperdalam ilmu sekaligus belajar menjadi pribadi yang dewasa. Ketika menghadapi persoalan, mahasiswa tidak seharusnya mudah menyerah, tetapi perlu belajar mencari solusi. Selain ketangguhan, bagi mahasiswa hukum, etika menjadi bekal penting karena kelak mereka dapat menjalani profesi yang memiliki tanggung jawab besar di tengah masyarakat.

Dekan Fisipol, Prof Dr Wiwik Sri Utami, MP

Karakter, Mandiri, Kritis, Peduli dan integritas

Menjadi mahasiswa bukan sekadar pindah bangku dari SMA ke perguruan tinggi. Mahasiswa harus mulai bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, lingkungan, masyarakat, hingga bangsa. IPK tetap penting, tetapi tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran. Mahasiswa juga perlu memiliki karakter, kemandirian, sikap kritis, kepedulian, dan integritas. Di tengah derasnya informasi digital, mahasiswa juga dituntut mampu memilih dan memilah sumber informasi secara bijak. Ketika menjadi mahasiswa harus menebalkan rasa percaya diri dan mandiri. Kemandirian akan membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang tangguh, kreatif, mampu berpikir kritis, dan memiliki kemampuan berinovasi di tengah berbagai ketidakpastian.

Dekan FV, Dr Suprapto, S.Pd MT

Kata kuncinya Tumbuhkan Rasa Percaya Diri

Mahasiswa baru perlu memahami bahwa pendidikan vokasi memiliki karakter yang berbeda karena berorientasi pada ilmu terapan. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga menguasai keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung. Porsi praktik yang lebih besar, pengalaman magang, serta keterlibatan industri dipersiapkan agar mahasiswa memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk menjalani proses tersebut kata kuncinya satu, yakni tumbuhkan rasa percaya diri.

Dekan FT, Prof Dr Suparji, SPd, MPd

Berani Berprestasi dan Lulus Cepat

Saya mendorong mahasiswa untuk berani berprestasi. Berbagai kompetisi dan kegiatan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kompetensi sekaligus menghasilkan karya. Bahkan, prestasi tertentu dapat direkognisi menjadi tugas akhir sehingga berpotensi memperpendek masa studi. Jangan lama-lama lulusnya, sehingga mahasiswa harus tetap memiliki tujuan dan tidak kehilangan fokus dalam menjalani perkuliahan.

Dekan FEB, Prof Dr Anang Kistyanto, SSos, MSi

Tumbuhkan Nilai Entrepreneurship Leadership

Mahasiswa baru perlu meninggalkan kebiasaan lama yang sudah tidak relevan dengan pendidikan tinggi dan mulai membangun pola pikir yang lebih mandiri. Mahasiswa harus mampu menghadapi persoalan yang kompleks, berpikir kritis dan analitis, memiliki resiliensi, serta mampu menciptakan inovasi. Hal tersebut sejalan dengan nilai entrepreneurship leadership yang dikembangkan FEB melalui lima karakter, yakni adaptif, inovatif, kreatif, resilien, berani mengambil risiko, dan menjadi pemimpin perubahan.

Dekan FMIPA, Prof Dr Wasis, MSi

Kembangkan dengan Organisasi dan Kegiatan

Saya mengajak mahasiswa baru untuk mensyukuri kesempatan menempuh pendidikan tinggi sekaligus tidak berhenti pada pencapaian akademik. Ilmu MIPA perlu terus dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan nyata agar memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan. Kehidupan mahasiswa tidak seharusnya hanya berorientasi pada IPK. Memang kuliah adalah tujuan akademik, tapi jangan dijadikan satu-satunya tujuan. Maka ikutlah organisasi, kembangkan hobi, ikut berbagai macam kegiatan. @TimHumasUnesa

id_IDID