Magang bukan sekadar kesempatan untuk mencicipi dunia kerja, tapi juga menjadi ajang mengimplementasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, beradaptasi dengan lingkungan profesional, dan memberikan kontribusi yang berdampak nyata.

Itulah yang dialami Kirana Yasmin Azizah, mahasiswi Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) angkatan 2023 yang menjalani Program Magang Berdampak di PT Bersama Zatta Jaya Tbk, sebua perusahaan yang bergerak di bidang industri mode.
Di tempatnya magang, Kirana dipercaya menjadi staff intern selama lima bulan. Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya, sekaligus membuka ruang bagi Kirana untuk merasakan langsung bagaimana teori yang selama ini dipelajari diterapkan di dunia kerja. Apalagi, sejak menjadi mahasiswa baru, ia telah menetapkan target untuk memanfaatkan program Mobilitas Akademik sebagai bagian dari perjalanan akademiknya.
Keberhasilan Kirana tembus program magang tidak lepas dari dukungan program studinya, yang turut menguatkan langkah tersebut. Ketika kesempatan magang di PT Bersama Zatta Jaya Tbk terbuka, Kirana pun tidak menyia-nyiakana. Ia langsung mendaftar dan mengikuti proses seleksi hingga akhirnya berhasil menjadi bagian dari program tersebut.
Menurutnya, hal yang membuat pengalaman magang di perusahaan tersebut menarik bukan hanya pekerjaan yang dijalankan, tetapi juga lingkungan yang mendorong pengembangan diri secara lebih utuh. Di tengah rutinitas pekerjaan, terdapat sejumlah program internal yang membuat pengalaman magang terasa lebih berwarna.
Salah satunya Sharing Session, sebuah forum interaktif bersama karyawan profesional untuk bertukar wawasan dan pengalaman di luar pekerjaan sehari-hari. Ada pula kajian rutin yang tidak hanya memberikan ruang untuk memperdalam pemahaman keagamaan, tetapi juga membahas berbagai topik pengembangan diri. Sementara Warrior Connect menjadi ruang bagi para peserta magang untuk berinteraksi, bermain, dan membangun kedekatan satu sama lain.
Baginya, rangkaian kegiatan tersebut menciptakan suasana kerja yang hangat dan tidak monoton. Pengalaman profesional berjalan beriringan dengan kesempatan untuk membangun relasi dan mengembangkan diri.
Namun, lima bulan di dunia kerja tentu tidak selalu berjalan mulus. Sebagai pengalaman magang pertamanya, tantangan terbesar Kirana justru hadir dari proses adaptasi. Pindah ke Bandung membuatnya perlu memahami kultur lokal, cara berkomunikasi, hingga etika bertutur kata agar dapat berbaur dengan lingkungan baru.
Di sisi pekerjaan, ia juga harus memahami tugas dan tanggung jawab yang sebelumnya belum pernah dijalani. Kebingungan di awal menjadi bagian dari proses belajar. Kirana memilih untuk bersikap proaktif dengan tidak segan bertanya kepada mentor ketika menemui kendala. Ia juga membangun kerja sama dengan sesama peserta intern dan membiasakan diri meminta evaluasi setelah menyelesaikan tugas. “Evaluasi dari mentor membantu saya mengetahui kekurangan dan memperbaikinya. Dari situ saya bisa belajar lebih cepat dan terus berkembang,” tuturnya.
Sebagai mahasiswa prodi Akuntansi yang ditempatkan di bagian Asset Management, ilmu dari bangku kuliah pun mendapat ruang untuk benar-benar diuji. Mata kuliah Akuntansi Keuangan menjadi salah satu bekal yang paling terasa manfaatnya.
Ketika mendapat tugas mengelola hingga menjual aset perusahaan, Kirana harus menghitung nilai perolehan awal, memperkirakan masa manfaat, hingga menentukan nilai depresiasi atau penyusutan aset. Rumus-rumus yang sebelumnya dipelajari di kelas kini tidak lagi sekadar menjadi materi ujian, melainkan menjadi instrumen yang digunakan dalam pekerjaan nyata.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang membuatnya merasakan hubungan antara teori dan praktik secara langsung. Apa yang dipelajari di ruang kuliah ternyata dapat menjadi alat ukur yang presisi ketika diterapkan di dunia kerja.
Dari sisi manajemen waktu, program Magang Berdampak yang memberikan konversi penuh 20 SKS membuat Kirana dapat memusatkan energi pada kegiatan magang. Jam kerja dimanfaatkan secara optimal untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor, sedangkan waktu luang dan akhir pekan digunakan untuk mengerjakan logbook serta laporan akhir magang.
Di antara berbagai pengalaman selama magang, keterlibatannya dalam program Waste Management menjadi salah satu yang paling berkesan. Melalui program itu, Kirana berkesempatan terlibat langsung dalam pengolahan limbah makanan kantor menjadi pupuk organik. Hasilnya tidak berhenti pada proses pengolahan limbah. Pupuk tersebut kemudian digunakan untuk menanam bibit stroberi hingga berhasil tumbuh dan berbuah.
Bagi Kirana, keberhasilan tersebut menghadirkan makna tersendiri. Dari sebuah aktivitas sederhana di lingkungan kerja, muncul manfaat yang dapat dirasakan secara nyata dan berkelanjutan. Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan baginya bagaimana semangat Magang Berdampak dapat diwujudkan. Bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga bagaimana mahasiswa dapat menghadirkan kontribusi yang memiliki manfaat lebih luas.
Berbekal pengalaman tersebut, Kirana mengajak mahasiswa Unesa agar tidak ragu mengambil kesempatan Magang Berdampak. Menurutnya, program tersebut bukan hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun portofolio, memperluas pengalaman profesional, serta membuka peluang karier setelah lulus.
“Jadikan program ini sebagai batu loncatan strategis. Beranilah melangkah keluar dari zona nyaman hari ini demi membuka jalan karier yang jauh lebih luas di masa depan,” pesannya.
Kirana menjadikan pengalaman lima bulan tersebut bukan sekadar kesempatan untuk mengenal dunia kerja, tetapi juga ruang untuk menguji ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, beradaptasi dengan lingkungan profesional, sekaligus memberikan kontribusi nyata. @TimHumasUnesa

