Buktikan Ilmu Sosial Bisa Bicara di Dunia Teknologi

Wilda Suwaiya, Magang Berdampak di Perusahaan Konsultan

“Pas dinyatakan lolos, aku sampai bengong. Rasanya kayak bukti kecil kalau Sosiologi juga bisa bersaing di dunia teknologi.” Wilda Suwaiya

Tak banyak mahasiswa Sosiologi yang membayangkan diri bekerja di perusahaan teknologi. Namun, Wilda Suwaiya justru memilih jalan itu. Melalui program magang kampus berdampak, ia membulatkan tekad melangkah jauh ke Jakarta Timur—ke sebuah perusahaan konsultan yang bergulat dengan smart city, data, dan kebijakan publik PT Citiasia Inc.

Mahasiswa yang akrab disapa Wawa itu terdorong memilih perusahaan teknologi itu karena rasa ingin tahu tentang manusia. Mulanya, ia merasa masing asing dengan teknologi. Namun, setelah hampir 3 bulan (sejak Agustus), ia mulai merasa nyaman dan cepat beradaptasi. “Di perusahaan ini, saya belajar bahwa di balik sistem yang canggih dan data yang rumit, selalu ada dimensi sosial yang menunggu untuk dipahami,” ujarnya.

Awalnya, Wawa merasa tidak percaya diri. Apalagi, posisi magang yang dibuka jarang banget untuk anak Sosiologi. Kebanyakan, perusahaan mencari mahasiswa IT atau manajemen. Di antara rasa ragu itu, ada sedikit keyakinan yang terus tumbuh bahwa ilmu sosial juga punya ruang di dunia digital. Ia pun nekat mendaftar, mengikuti seleksi administrasi dan wawancara lewat Simbelmawa. “Pas dinyatakan lolos, aku sampai bengong. Rasanya kayak bukti kecil kalau Sosiologi juga bisa bersaing di dunia teknologi,” ujarnya sambil tersenyum.

Motivasinya sederhana, tapi kuat. Wawa ingin membuktikan bahwa teori tentang masyarakat, relasi sosial, dan pembangunan yang selama ini hanya berputar di kelas, ternyata bisa bernafas di ruang-ruang kerja nyata. Ia ingin melihat sendiri bagaimana teori-teori itu hidup dalam kebijakan publik. Bagaimana konsep sosial bisa diterjemahkan jadi keputusan konkret.

Hari-harinya di tempatnya bekerja berjalan cepat dan dinamis. Pagi, ia sibuk mengumpulkan data riset, siang rapat koordinasi, dan sore menulis laporan. Ritme kerja di Jakarta itu sempat membuatnya kewalahan. Tapi perlahan, Wawa belajar beradaptasi. Ia mulai membuat sistem kecil untuk dirinya sendiri — menulis to-do list, menyusun waktu, dan yang terpenting, belajar untuk jujur ketika butuh bantuan. “Dulu, aku pikir produktif itu berarti harus sibuk terus. Sekarang, aku tahu bahwa produktif itu tentang bagaimana tetap fokus tapi juga punya ruang buat nafas,” katanya lirih.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika dipercaya menjadi Liaison Officer (LO) dalam ajang Indonesia Smart Nation Award (ISNA). Ia mendampingi delegasi dari berbagai daerah di Indonesia. “Seru banget! Tiap daerah punya budaya kerja dan gaya komunikasi yang beda. Kadang super formal, kadang santai tapi tetap profesional,” tuturnya. Dari situ, ia belajar memahami karakter manusia, hal yang justru menjadi inti dari ilmu yang ia pelajari di kampus.

Magang di Citiasia membuat Wawa menyadari bahwa ilmu sosial tak hanya tentang teori, tapi juga tentang kepekaan. Ia belajar melihat pola di balik angka dan memahami emosi di balik data. Ternyata, teori Sosiologi itu sangat relevan. Salah satu contohnya, ketika ia membuat stakeholder mapping untuk proyek Smart Province Bali dan Smart City Mamminasata serta Banjarbakula. Ia menggunakan konsep struktur sosial dan relasi kekuasaan untuk menganalisis siapa yang berperan penting dan bagaimana dinamika antar lembaga pemerintah bekerja. “Kalau kita ngerti relasi sosialnya, keputusan yang diambil bisa lebih tepat sasaran,” tambahnya.

Jembatan Teori dan Realita

Wawa juga sempat terlibat dalam penyusunan Naskah Urgensi Museum dan Cagar Budaya bersama Kementeria Kebudayaa. Selain itu, ia tengah mengerjakan mini proyek pribadi berjudul “Best Practice SOP Komunikasi LO dalam ISNA”, yang kelak akan ia jadikan artikel jurnal untuk keperluan akademik. “Buatku, kontribusi terbesar bukan cuma di laporan, tapi di pengalaman memahami dunia kerja lewat perspektif sosial. Bagaimana nilai-nilai manusia tetap hadir dalam sistem yang serba digital,” ujarnya pelan tapi penuh makna.

Ia menyebut magang sebagai jembatan antara teori dan realita. Di kampus, ia belajar berpikir kritis, tapi di dunia kerja ia belajar tentang ritme, adaptasi, dan tanggung jawab. Dua-duanya penting dan tidak bisa dipisahkan. Dari magang, ia belajar bahwa dunia kerja tak selalu ideal seperti bayangan di kepala. “Ada dinamika, perbedaan cara pandang, dan keharusan menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai yang dibawa dari dunia akademik,” bebernya.

Melalui magang, ia juga belajar membagi waktu dengan bijak. Meski, awalnya keteteran, ia akhirnya berhasil menemukan pola kerja yang efektif. Dan, masih memiliki waktu buat diri sendiri. “Soalnya kalau kita kehilangan waktu untuk diri, semangat kerja juga bisa padam,” urainya.

Setelah menjalani magang selama beberapa bulan, Wawa semakin yakin dengan arah langkahnya. Ia ingin menapaki dunia riset sosial dan analisis kebijakan dengan membawa semangat Sosiologi ke ranah kebijakan publik. “Aku pengin terus berada di ruang yang menghubungkan masyarakat dan pemerintah. Di situ aku ngerasa ilmunya hidup,” katanya.

Meski pada awalnya sempat minder bersaing di program nasional yang pesertanya dari seluruh Indonesia, dan mayoritas bukan dari bidang sosial, namun pengalaman itu justru mengajarkannya arti keberanian. Kemampuan analisis sosial dan komunikasi itu justru jadi keunggulan tersendiri. “Jadi jangan takut jadi berbeda. Yang penting tahu arah, dan terus belajar dari setiap prosesnya,” ucapnya menyampaikan pesan.

Wilda Suwaiya membuktikan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, ilmu sosial tak pernah kehilangan tempatnya. Sebab di balik data, selalu ada manusia. Di balik algoritma, ada nilai-nilai kemanusiaan yang tak bisa digantikan mesin. Lewat tangan-tangan seperti Wawa, dunia teknologi bisa lebih peka. Bukan hanya pintar, tapi juga bijak. @sindy

id_IDID