Cyber Learning Model Berbasis Project untuk Meningkatkan Kemampuan Edutechpreneurship

Penelitian Berdampak

Meningkatnya perkembangan teknologi dan cepatnya era digital menuntut mahasiswa mampu menangkap peluang di bidang Edutechpreneurship. Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti Unesa yang terdiri atas Dr Utari Dewi, S.Sn M.Pd (ketua), Prof. Dr Andi Kristanto, M. Pd serta mahasiswa Teknologi Pendidikan Tinezia Cendani dan Mihnatus Zaroh menghadirkan penelitian berjudul Pengembangan Cyber Learning Model Berbasis Project untuk Meningkatkan Kemampuan Edutechpreneurship Mahasiswa.

Ketua Tim Peneliti, Utari Dewi mengatakan bahwa Edutechpreneurship berorientasi terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa dalam Teknologi Pendidikan dan fokus pada pembentukan jiwa wirausaha dengan pengintegrasian pengetahuan dan skill di bidang teknologi. Untuk meningkatkan kemampuan edutechpreneurship, pembelajaran dikemas dalam cyber learning model (CLM) berbasis projek pada mata kuliah produksi.

Utari menambahkan, untuk memperkuat jiwa edutechpreneurship, Model pembelajaran CLM berbasis proyek diterapkan pada mata kuliah produksi pengembangan media grafis bagi mahasiswa teknologi pendidikan. Dengan berbasis pada learning management system (LMS), mahasiswa diajak menghasilkan luaran berupa produk media grafis untuk pendidikan/ pembelajaran sekaligus proposal bisnis terkait produk yang dihasilkan. “Ini juga membantu memenuhi indikator kinerja utama (IKU) 2 perguruan tinggi, yakni berkaitan dengan persentase lulusan Perguruan Tinggi yang langsung bekerja, berwirausaha atau melanjutkan studi,” terangnya.

Menurut Utari, cyber learning dipilih karena dianggap sangat relevan dengan cara belajar mahasiswa pada era digital. Cyber learning flexible, artinya dapat diakses lintas ruang dan waktu, dapat diselenggarakan secara daring maupun hybrid, tanpa terpaku pada kelas tatap muka/ konvensional, selain itu cyber learning portable, artinya memungkinkan mobilitas pembelajar lintas institusi pendidikan/ antar perguruan tinggi. Dengan segala kemudahan yang dimiliki, Cyber Learning Model Berbasis Project memiliki potensi besar menjadi model pembelajaran di era digital saat ini dan masa mendatang.

Melalui penerapan Cyber Learning Model Berbasis Project, lanjutnya, mahasiswa didorong mentransformasi gagasan menjadi produk media grafis yang komersial dan solutif bagi dunia pendidikan yang dapat dimanfaatkan industri pendidikan. Proses pembelajaran mengombinasikan teknologi, kolaborasi, dan praktik langsung. Alur belajar akan diawali dengan pengenalan tujuan, kemudian melakukan need assesment dan riset pasar untuk memetakan kebutuhan. “Selanjutnya, mahasiswa akan diajak melakukan pengembangan ide yang terpantau via LMS,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga dilatih berkolaborasi melalui uji umpan balik sejawat dan penyempurnaan karya sesuai standar industri. Pembelajaran diakhiri dengan strategi publikasi dan promosi/ pameran karya. Kemudian, memastikan karya mahasiswa tak sekadar jadi tugas kuliah, melainkan menjadi produk yang siap diserap dunia industri.

Keunggulan pada Fleksibilitas

Cyber Learning Model Berbasis Project memailiki keunggulan pada fleksibilitas yang memungkinkan proses pembelajaran dilakukan secara daring karena luaran yang dihasilkan mahasiswa Teknologi Pendidikan umumnya berbentuk produk media digital yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran. Model ini sangat cocok memfasilitasi pengerjaan proyek, kolaborasi hingga penyelesaian karya secara online tanpa batas ruang luring. Selain keunggulan tersebut, Cyber Learning Model Berbasis Project dilengkapi fitur yang mudah diakses mahasiswa dan dosen.

Cara kerja Cyber Learning Model Berbasis Project, ungkap Utari,dijalankan melalui LMS yang telah disesuaikan. Platform digital tersebut mengintegrasikan sintaks pembelajaran, interaksi sosial, prinsip reaksi dan sistem pendukung untuk memastikan pencapaian dampak instruksional maupun dampak pengiring bagi mahasiswa. Cyber Learning Model Berbasis Project memiliki peluang pengembangan di masa mendatang yang bisa dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses pembejalaran, khususnya pembelajaran berbasis proyek secara online.

Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam Edutechpreneurship, jelas Utari, perlu adanya feedback atau masukan yang membangun baik dari rekan sejawat maupun dari dosen pada produk media yang dihasilkan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menyatakan bahwa produk media yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kriteria untuk konversi nilai mata kuliah  namun juga memenuhi kriteria layak jual dan bisa digunkaan oleh masyarakat industri pendidikan.

Utari mengakui ada beberapa tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan Cyber Learning Model Berbasis Project, di antaranya pengembangan aset yang cukup menguras waktu dan akses internet masih terbatas dalam mendukung keterlaksanaan model. Namun, dengan segala tantangan itu, Cyber Learning Model Berbasis Project berhasil mendapatkan HKI dan menghasilkan buku ISBN.

Penelitian yang dilakukan sejak Januari hingga Desember tersebut, ujar Utari, mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui platform BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) dengan skema penelitian KATALIS, kerja sama antarperguruan tinggi yang dinaungi konsorsium Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APSTPI)

Cyber Learning Model Berbasis Project telah diuji coba di Universitas Negeri Surabaya; Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Padang (UNP), dan Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam riset KATALIS dan APSTPI. Dalam proses penelitian, Utari mengakui mendapat beberapa dukungan dari universitas, di antaranya memberikan fasilitas studio beserta alat-alat rekaman untuk produksi video dan mengembangkan LMS. “Dukungan itu membantu kami dalam proses penelitian dan pengembangan model pembelajaran,” ungkapnya.

Koorprodi S1 Teknologi Pendidikan itu menambahkan bahwa tim peneliti Unesa memiliki beberapa rencana ke depan terkait penelitiannya.Ia dan tim akan mengembangkan Cyber Learning Model Berbasis Project guna memperkuat jiwa kewirausahaan berbasis teknologi pendidikan (Edutechpreneurship) pada mahasiswa. Selain itu, perlu adanya sosialisasi Cyber Learning Model Berbasis Project melalui kegiatan PKM, dan untuk kuliah bersama antarperguruan tinggi prodi sejenis untuk mendukung IKU 2.

“Kami berharap Cyber Learning Model Berbasis Project yang felsibel dan portabel ini bisa dimanfaatkan dalam memfasilitasi mahasiswa dalam proses pembelajaran di era digital dan bisa digunakan untuk kuliah bersama antar perguruan tinggi/ lintas institusi,” pungkasnya penuh harap. @hasna

id_IDID