Mahasiswa Unesa menghadirkan inovasi media pembelajaran ramah lingkungan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Kewirausahaan. Inovasi tersebut bernama RUPA (EduPlay Kit), media pembelajaran interaktif berbasis sensory play yang memanfaatkan lumpur Lapindo sebagai bahan utama.
Tim PKM yang terdiri dari Fairuz Chalisa Calya Molia dari S1 Agribisnis Digital, Nailah Savie Azarine dari S1 Pendidikan Kimia, Lailatul Muna dari S1 Pendidikan Kimia, Irfan Laifulmuna dari S1 Teknologi Pendidikan, mengembangkan RUPA sebagai solusi media belajar yang edukatif, kreatif, sekaligus mendukung pengurangan limbah lingkungan.
Keunggulan utama RUPA terletak pada penggunaan lumpur Lapindo sebagai bahan dasar produk. Selama ini, lumpur Lapindo identik dengan limbah bencana yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui inovasi tersebut, tim PKM Unesa mencoba mengubah material tersebut menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Salah satu anggota tim, Fairuz Chalisa Calya Molia, menjelaskan bahwa lumpur Lapindo dipilih karena memiliki kandungan mineral silika yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan produk edukasi. Selain itu, pemanfaatan lumpur Lapindo diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi limbah lingkungan.
“Kami ingin menunjukkan kalau lumpur Lapindo itu sebenarnya masih bisa dimanfaatkan jadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat,” ujarnya.
Dalam proses pembuatannya, lumpur Lapindo dicampur dengan semen dan air menggunakan komposisi sekitar 45 persen lumpur Lapindo. Setelah itu, bahan dibentuk dan dibakar hingga menghasilkan material yang kuat dan aman digunakan sebagai media pembelajaran anak.
“Lumpur Lapindo ini tidak berbahaya karena sudah melalui proses pengolahan dan pembakaran,” jelas Calya.
RUPA hadir dalam bentuk EduPlay Kit bertema hewan, anatomi tubuh manusia, dan tata surya. Produk tersebut dilengkapi puzzle, miniatur edukasi, serta aktivitas sensory play yang membantu anak belajar secara lebih interaktif dan menyenangkan.
Konsep tersebut lahir dari perpaduan latar belakang anggota tim yang berasal dari bidang Pendidikan Kimia dan teknologi pendidikan. Mereka ingin menghadirkan media pembelajaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu melatih kreativitas dan motorik anak melalui pengalaman belajar langsung.
Selain inovatif, RUPA juga dinilai lebih terjangkau dibanding media pembelajaran interaktif lain di pasaran. Penggunaan bahan lokal menjadi salah satu faktor yang membuat produk ini memiliki nilai ekonomis sekaligus unik.
Tidak hanya fokus pada edukasi, inovasi ini juga membawa konsep keberlanjutan lingkungan melalui pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna. Dukungan masyarakat sekitar lokasi lumpur Lapindo pun menjadi motivasi tersendiri bagi tim dalam mengembangkan produk tersebut.
“Kami berharap RUPA bisa berkembang menjadi brand edukasi yang lebih besar dan mampu berkolaborasi dengan UMKM di Sidoarjo maupun Dinas Pendidikan agar pemanfaatan lumpur Lapindo semakin dikenal luas oleh masyarakat,” tukasnya. @TimHumasUnesa

