Lepas Lelah dengan Ikan dan Satwa, Ingatkan Masa Kecil di Kampung Halaman

Wakil Dekan 1 Fakultas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. Anas Ahmadi, M.Pd.

Kesibukan sebagai akademisi yang juga menjadi salah satu pimpinan fakultas, tentu membutuhkan energi prima. Kadang, lelah dan penat kerap menghampiri. Itu pula yang dialami Wakil Dekan I Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Prof Dr Anas Ahmadi, MPd. Untuk mengatasi itu, ia punya cara sederhana, yakni selalu menyempatkan diri menikmati gemericik air kolam, memberi pakan ikan, atau sekadar mengamati ikan-ikan berenang tenang.

Kecintaan dosen kelahiran Sidoarjo, 11 Mei 1980 terhadap ikan dan satwa bukanlah hobi yang muncul begitu saja. Semua berawal dari masa kecilnya di kampung halaman. Rumah orang tuanya yang berada tepat di depan sungai membuatnya akrab dengan kehidupan perairan sejak usia taman kanak-kanak.

Sepulang sekolah, Anas kecil lebih sering menghabiskan waktu menyusuri sungai bersama teman-temannya. Dengan membawa serok sederhana, ia berburu berbagai jenis ikan lokal seperti betik, kutuk, lele, hingga keting. Pengalaman itu terus berlanjut ketika ia tinggal di Madura. Laut, tambak, hingga pesisir menjadi wahana bermain baru yang mempertemukannya dengan beragam biota seperti kepiting, rajungan, hingga lobster.

“Sejak kecil memang senang mencari ikan. Habis pulang sekolah langsung ke sungai. Dulu, rasanya senang sekali kalau bisa membawa pulang ikan untuk dimasak bersama keluarga,” kenangnya.

Kebiasaan berburu ikan perlahan berkembang menjadi kegemaran memelihara. Dari membuat kolam sederhana hingga kini memiliki dua kolam di rumah. Kecintaannya terhadap ikan terus tumbuh. Satu kolam digunakan untuk ikan-ikan kecil, sedangkan kolam lainnya menjadi rumah bagi ikan koi yang telah dirawat selama bertahun-tahun.

Menikmati Tenang dari Gemericik Air

Berbeda dengan sebagian pencinta ikan yang gemar memancing, Anas justru lebih menikmati proses mencari dan merawat ikan. Baginya, melihat ikan berenang jauh lebih menghadirkan ketenangan dibandingkan dengan menunggu kail disambar ikan.

Ia tertarik memelihara ikan karena perawatannya relatif mudah. Selama kualitas air terjaga dan pakan tersedia, ikan dapat tumbuh dengan baik. Bahkan seluruh anggota keluarga pun dapat ikut merawatnya. Kedua anaknya yang duduk di bangku SMP dan SMA, turut membantu memberi pakan, membersihkan kolam, hingga mengganti air ketika mulai keruh. “Saya ingin anak-anak belajar bahwa binatang juga harus dirawat. Mereka juga bisa belajar disiplin, sabar, dan punya rasa peduli kepada makhluk hidup,” ujarnya.

Baginya, memelihara binatang merupakan bagian dari pendidikan karakter. Humanisme, menurutnya, tidak hanya diwujudkan melalui hubungan antar manusia, tetapi juga melalui kepedulian terhadap tumbuhan dan satwa.

Di halaman rumahnya, kolam ikan dirancang menyerupai sebuah ekosistem kecil. Ikan koi hidup berdampingan dengan ikan lele, ikan betik, hingga ikan sapu-sapu. Masing-masing memiliki peran. Lele membantu menghabiskan sisa pakan koi, ikan betik memakan jentik dan organisme kecil, sedangkan ikan sapu-sapu menjaga lumut agar tidak menumpuk di dinding kolam.

Bagi Anas, keseimbangan itu menghadirkan pelajaran sederhana tentang harmoni. Setiap makhluk memiliki fungsi yang saling melengkapi dan saling membutuhkan. Meski demikian, memelihara koi bukan tanpa tantangan. Ia pernah kehilangan beberapa ikan kesayangannya akibat listrik padam selama beberapa hari ketika sedang bepergian bersama keluarga. “Koi itu seperti ikan priyayi. Perawatannya lebih rumit dibanding ikan lokal. Airnya harus dijaga, kualitasnya diperhatikan, makannya juga harus teratur,” katanya.

Anas memilih menikmati hobi ini secara proporsional. Ia tidak tergoda membeli ikan dengan harga fantastis hanya demi prestise. Baginya, hobi tetap hobi, tapi tidak sampai mengalahkan kebutuhan yang lebih penting. “Saya menikmati sesuai kemampuan saja,” tutur Guru Besar bidang Kritik Sastra tersebut.

Dari Bawean hingga Kangean

Pengalaman paling berkesan selama menekuni hobinya terjadi ketika membawa lobster hidup dari Pulau Bawean menuju rumahnya di Sidoarjo. Lobster berbobot sekitar tiga kilogram itu sempat bertahan beberapa waktu, meski akhirnya mati karena kolam yang dimilikinya belum cukup memadai.

Selain itu, ia juga pernah memelihara iguana, kura-kura, hingga penyu yang dibawa dari wilayah kepulauan Madura pada masa lalu. Namun, seiring meningkatnya kesadaran mengenai satwa yang dilindungi, ia tidak lagi memelihara penyu.

Kini, koleksi satwanya lebih sederhana. Selain ikan koi dan beberapa ikan lokal, masih ada seekor kura-kura yang telah menemaninya sejak sebelum anak-anaknya lahir. Ia pernah ingin melepas kura-kura itu ke sungai, tetapi anaknya tidak mengizinkan. Akhirnya, sampai saat ini tetap dipelihara.

Bagi Anas, hobi memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengisi waktu luang. Menurutnya, setiap orang membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi dan pikirannya ke arah yang positif. Ia berpandangan bahwa hobi yang dijalani secara sehat dapat menjadi benteng agar seseorang tidak mudah terjerumus pada aktivitas yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. “Yang penting tetap terukur, tidak berlebihan, dan tidak mengabaikan prioritas,” tandasnya.

Di balik ikan-ikan yang berenang tenang di kolam rumahnya, tersimpan filosofi yang selalu ia pegang. Merawat binatang berarti belajar tentang kesabaran, ketelatenan, tanggung jawab, sekaligus kepedulian terhadap kehidupan.

Seperti halnya mendidik manusia, setiap makhluk hidup membutuhkan perhatian, waktu, dan kasih sayang untuk dapat tumbuh dengan baik. Bagi Anas, justru dari kolam kecil di rumah itulah ia menemukan ruang teduh yang membuat dirinya kembali segar sebelum menjalani berbagai tanggung jawab di kampus. @TimHumasUnesa

id_IDID