Ciptakan Buku Interaktif Anak Usia Dini untuk Kewaspadaan Bencana

Inovasi Tim Peneliti Unesa

Sebagai negara yang rawan bencana alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir hingga tanah longsor karena berada di kawasan ring of fire, Indonesia memerlukan upaya sistematis dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana, bahkan sejak usia dini.

Latar belakang itulah yang mendorong sejumlah peneliti Unesa yakni Nanda Nini Anggalih, S.Pd., M.Ds. (Ketua), Kanya Kanya Catya, S.T., M.A. (anggota) dan Muhammad Widyan Ardani (anggota) M.Sn., menghadirkan penelitian berjudul “Peningkatan Kewaspadaan Bencana Melalui Buku Interaktif untuk Anak Usia Dini di Surabaya”.  

Penelitian itu bermitra dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya. Ketua tim peneliti, Nanda Nini Anggalih mengatakan, salah satu kendala pelaksanaan pendidikan dan pelatihan penanggulangan bencana pada kelompok anak usia dini terdapat pada media pembelajaran yang sesuai dengan usia mereka. Ia mengatakan, ada perbedaan dalam edukasi mitigasi bencana bagi anak PAUD. “Anak-anak membutuhkan seperangkat media pembelajaran yang memperhatikan kemampuan kognitif, perhatian, minat, dan keaktifan dalam belajar,” ujarnya.

Dosen D4 Rekayasa Media Edukasi Digital Fakultas Vokasi tersebut menegaskan bahwa media pembelajaran untuk PAUD harus didesain secara khusus dengan memperhatikan kebutuhan dan karakteristik anak usia dini. Edukasi mitigasi bencana pada anak usia dini rentang usia 3-6 tahun, kata Nanda, penting dilakukan karena anak-anak rentan menjadi korban bencana. “Karena itu, perlu adanya pendidikan kebencanaan yang tepat untuk memahami dan mengantisipasi risiko bencana,” ungkapnya.

Nanda menambahkan, dengan memberikan pendidikan kebencanaan dapat memberikan persiapan diri, mengurangi risiko, dan anak-anak menjadi terbiasa serta terlatih memahami risiko bencana, sehingga mereka mampu mengambil tindakan yang benar dan tepat. “Hal ini dapat membantu meminimalkan dampak bencana dan melindungi kehidupan dan keamanan mereka di masa depan, permasalahan tersebut menjadi dasar penelitian ini,” terangnya.  

Buku Interaktif tersebut, terang Nanda, memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan produk serupa. Buku ini dirancang secara kontekstual dengan karakteristik wilayah Surabaya, sehingga materinya memperlihatkan jenis bencana yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Selain itu, buku ini juga menggabungkan konsep pendidikan kebencanaan dengan pendekatan bermain dan interaksi multisensorik melalui elemen seperti flip pages dan permainan sederhana yang melatih respons tanggap bencana.

Dari segi desain dan isi, lanjutnya, buku ini dikembangkan dengan prinsip desain instruksional dan berbasis riset pendidikan anak, sehingga tidak hanya informatif tetapi juga sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif dan emosional anak. Buku ini juga dapat mendukung keterlibatan orang tua dan guru dengan menggunakan panduan dan aktivitas kolaboratif, sehingga proses edukasi kebencanaan dapat dilakukan secara terpadu.

Nanda juga menjelaskan, tahapan selama masa pembuatan produk ini. Dimulai dengan perumusan materi buku interaktif, pengumpulan data awal (feasibility study), pengolahan data, perumusan hasil feasibility study dan analisis data, penyusunan draft materi buku interaktif, penyusunan struktur buku (paper enggineering), penyusunan ilustrasi buku interaktif, penyusunan detailed design buku interaktif, penyusunan layout desktop publishing dan cutting, pembuatan prorotype skala terbatas dan perancangan media (pendukung) video mitigasi bencana.

Model Edukasi Kebencanaan Nasional

Menurut Nanda, penelitian ini memiliki potensi besar untuk menjadi model edukasi kebencanaan nasional berbasis anak usia dini. Buku ini akan menjadi panduan yang dapat diterapkan tidak hanya di kota Surabaya, tetapi juga di berbagai daerah lain dengan menyesuaikan konteks lokal bencana. Nanda mengklaim mendapatkan respon sangat baik dari masyarakat terhadap buku interaktif tersebut karena relevan dengan kebutuhan masyarakat Surabaya yang kerap menghadapi risiko bencana seperti banjir dan gempa. “Buku ini menarik, edukatif dan mudah dipahami oleh anak-anak,” ungkapnya.

Kolaborasi penelitian ini juga berlangsung dengan baik dan terus berlanjut. BPBD Surabaya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya terus mendorong penerapan hasil penelitian dalam cakupan yang lebih luas. Wujud konkret dari keberhasilan ini, kata Nanda, telah terproduksi 6000 eksemplar buku interaktif yang disebarkan ke seluruh lembaga PAUD di Kota Surabaya. “Upaya tersebut mencerminkan dukungan institusional yang solid serta tingginya kepercayaan publik terhadap manfaat penelitian tersebut,” imbuhnya.

Nanda menyampaikan bahwa buku interaktif ini memiliki potensi besar digunakan secara luas. Apalagi, hingga kini belum ada produk serupa yang tersedia secara komersial. Buku tersebut terbukti efektif meningkatkan pemahaman anak mengenai kesiapsiagaan bencana berkat fitur-fitur menarik seperti permainan sederhana dan aktivitas interaktif yang menyenangkan. Dijelaskan Nanda, keberhasilan buku ini diukur melalui perbandingan hasil tes sebelum dan sesudah anak menerima materi kebencanaan. Materi tersebut mencakup pemahaman sebelum bencana terjadi, tindakan yang dilakukan saat bencana berlangsung dan langkah-langkah setelah bencana.

Nanda mengakui adanya tantangan yang dihadapi dalam pembuatan produk ini, utamanya ketika tahap post produksi. Jumlah produksi yang minimum membuat harga buku menjadi mahal. Selain itu, timeline yang ditetapkan sedikit bertabrakan antara pemkot Surabaya dengan tim peneliti. Namun, berkat kerj keras semua tim, tantangan-tantangan tersebut berhasil dilewati dengan baik. “Dukungan dari universitas juga menjadi pelecut semangat tim untuk menyelesaikan dan menyempurnakan buku interaktif ini sehingga mampu menjadi finalis LDIM 2023,” tambahnya.  

Ke depan, Nanda berharap buku ini dapat dikembangkan dengan berbagai model sehingga menjangkau audience yang lebih beragam. Satu di antara rencana yang akan dikembangkan adalah membuat game mobile mitigasi bencana untuk anak sekolah dasar. @hasna

id_IDID