Lahir dari Tiga Tantangan Besar (Digitalisasi, Ketahanan Pangan, dan Tuntutan Pasar Global)

Prodi Agribisnis Digital Unesa

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memiliki prodi baru yakni S1 Agribisnis Digital. Prodi yang baru dibuka pada tahun akademik 2025/2026 ini berada di bawah naungan Fakultas Ketahanan Pangan (FKP). Seperti apa kiprah dan prospeknya!

Koordinator Program Studi, Amirusholihin, mengatakan bahwa kehadiran prodi ini lahir dari tiga tantangan besar, yaitu digitalisasi, ketahanan pangan, dan tuntutan pasar global. Saat ini, dunia pertanian bukan lagi urusan lokal, tapi sudah kebutuhan global. Teknologi digital menjadi kunci untuk memenuhi permintaan pasar internasional, keberlanjutan lingkungan, dan efisiensi. “Melalui prodi ini, Unesa ingin menghadirkan SDM yang bisa menjawab kebutuhan global itu,” ujar Amirusholihin.

Progam studi ini dibuka, terang Amirusholihin, bertujuan mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memahami agronomi, tetapi juga piawai dalam memanfaatkan teknologi digital. Apalagi, produk pertanian kini menembus pasar internasional, sehingga juga dibutuhkan pengetahuan ekspor-impor dan e-commerce pertanian.

“Selain itu, prodi ini ingin memastikan generasi muda mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian lingkungan. Jadi, lulusannya nanti diharapkan tidak hanya berhenti di sektor produksi, tetapi memahami rantai pasok hingga pemasaran berbasis data,” terangnya.

Di Indonesia, lanjutnya, sejumlah kampus mulai merambah ke isu pertanian digital. Namun, Unesa memiliki perbedaan (ciri khas) karena sejak awal program studi ini telah dirancang secara khusus sebagai ‘agribisnis digital’, baik dari segi penamaan resminya maupun isi kurikulumnya. Kurikulum tersebut antara lain Smart Agribusiness, Agripreneurship End-to-End, dan Akses Pasar Global. “Di kampus lain, digital biasanya hanya sisipan. Sementara di Unesa, digital adalah jantung kurikulum,” jelasnya.

Mahasiswa yang masuk ke Prodi S1 Agribisnis Digital, terangnya, akan mendapatkan kurikulum yang memadukan teori, praktik, dan teknologi. Beberapa mata kuliah unggulan antara lain Pertanian Presisi Berbasis Digital, Manajemen Rantai Pasok Digital, E-commerce Pertanian, Analisis Big Data Pertanian, Agripreneurship dan Inovasi Start-up Pertanian, dan Pertanian Berkelanjutan.

Meski baru berdiri, tapi prodi ini sudah dihuni SDM dosen dan tenaga kependidikan dengan kompetensi beragam. Ada yang ahli di bidang ekonomi pertanian, ada pula yang fokus pada teknologi agribisnis, peternakan, manajemen keuangan, hingga agroekologi berkelanjutan. Setiap dosen membawa perspektif unik. “Kami mengkombinasikan pengalaman agronomi, bisnis, dan digital agar mahasiswa benar-benar siap menghadapi dunia kerja,” papar Amirusholihin.

Unesa menerapkan pendekatan Outcome-Based Education (OBE). Artinya, setiap mata kuliah diarahkan pada capaian nyata yang relevan dengan industri. Mahasiswa tidak hanya kuliah, tetapi juga praktikum di laboratorium, magang di perusahaan agribisnis, hingga riset bersama mitra. Beberapa mitra yang sudah bekerja sama antara lain Bulog, BUMDes, PT Kreasi Tani Bumiaji, hingga Islamic Development Bank Institute (IsDBI). “Dengan cara ini, mahasiswa tak hanya paham teori, tapi bisa langsung mengaplikasikan ke dunia nyata. Ini juga membuka peluang jaringan profesional sejak dini,” jelasnya.

Ruang dan Fasilitas Memadai

Untuk mendukung pembelajaran, Fakultas Ketahanan Pangan telah menyiapkan fasilitas lengkap, seperti ruang kelas modern dengan smart TV, AC, dan sistem presentasi interaktif, laboratorium agribisnis digital untuk praktik teknologi pertanian, area belajar nyaman dengan akses internet cepat, parkir luas dan fasilitas penunjang mahasiswa.

Meski baru dibuka pada tahun ajaran perdana 2025/2026, tapi prodi ini langsung disambut antusias calon mahasiswa. Dari catatan tim. Sebanyak 980 yang mendaftar di prodi Agribisnis Digital. Dari jumla pendaftar itu, hanya 90 mahasiswa yang diterima. “Luar biasa peminatnya. Tapi memang kuota kita sebagai prodi baru, belum banyak,” ujarnya.

Para mahasiswa pun tak hanya sibuk belajar, tetapi juga aktif berorganisasi. Saat ini sedang dibentuk Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) yang menjadi wadah pengembangan diri. Salah satu capaian membanggakan datang dari dunia olahraga. Mahasiswa Agribisnis Digital menyabet Juara 3 Kejuaraan Nasional Junior Hockey Outdoor di Bandung.

Amirusholihin optimistis lulusan prodi ini bisa berkarier di banyak bidang, antara lain: wirausaha agribisnis digital, manajer profesional di perusahaan pertanian, konsultan big data dan SIG pertanian, fasilitator pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi. “Dengan kompetensi digital, lulusan tak hanya dibutuhkan di sektor pertanian, tetapi juga di industri teknologi, logistik, hingga kebijakan publik,” tutur dosen kelahiran Blitar itu.

Amirusholihin menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi Program Studi S1 Agribisnis Digital Unesa. Beberapa target besar telah disiapkan untuk menguatkan posisi prodi ini di tingkat nasional maupun internasional. Pertama, prodi menargetkan pencapaian akreditasi Unggul sebagai bentuk pengakuan terhadap kualitas akademik yang ditawarkan.

Kedua, kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) akan terus dikembangkan agar semakin adaptif terhadap kebutuhan industri agribisnis digital yang dinamis. Ketiga, perluasan kerja sama internasional menjadi  fokus, termasuk kolaborasi riset dan pertukaran akademik dengan kampus-kampus luar negeri.

Selain itu, Unesa juga berkomitmen untuk meningkatkan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi, terutama laboratorium digital sebagai tulang punggung praktik mahasiswa. Tak kalah penting, prodi ini terus mendorong agar mahasiswa menjadi pribadi yang aktif dan produktif, baik dalam karya akademik maupun prestasi non-akademik yang mencerminkan kompetensi dan daya saing global.

“Visi kami adalah menjadi prodi yang mengembangkan ilmu agribisnis digital menuju SmartAgritrade dengan reputasi nasional dan internasional. Kami ingin melahirkan generasi tangguh, adaptif, dan inovatif di bidang ketahanan pangan,” tutupnya. @prisma

id_IDID