Universitas Negeri Surabaya (Unesa) semakin meneguhkan komitmennya dalam riset yang berdampak nyata bagi masyarakat. Meski jumlah penelitian, paten, dan publikasi ilmiah meningkat dalam lima tahun terakhir, namun tantangan ada pada hilirasisi. Inilah pekerjaan rumah yang menjadi peluang sekaligus tantangan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Prof Muhammad Turhan Yani mengatakan, tren penelitian dan pengabdian Unesa menunjukkan lonjakan yang signifikan dalam lima tahun terakhir. Capaian ini menandai bahwa atmosfer akademik semakin berkembang sehingga memberikan kontribusi penting terhadap pembangunan nasional. “Peningkatan ini bukan sekadar angka, melainkan bukti keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya.
Guru besar Fisipol Unesa itu menjelaskan, budaya penelitian di Unesa tumbuh melalui pendekatan kolektif. Salah satu strateginya, melalui workshop penyusunan proposal penelitian dan pengabdian. Kegiatan workshop itu bukan hanya forum berbagi pengetahuan, tapi juga wadah kolaborasi yang mampu memantik semangat dosen dan mahasiswa sebagai penggerak inovasi penelitian. “Kalau dikerjakan bersama, ada semangat berbeda, ada ruang diskusi, ada kawan untuk menyusun ide. Hasilnya, jumlah proposal meningkat secara signifikan,” ungkapnya.
Semangat itu membuat jumlah penelitian yang berhasil didanai dan pengabdian masyarakat serta publikasi internasional terus naik setiap tahun. Menurut Turhan Yani, Unesa tidak hanya mengejar target angka, tapi juga menanamkan orientasi bahwa setiap penelitian harus bermakna dan berdampak bagi masyarakat.
Sebagai perguruan tinggi yang memiliki keunggulan pada olahraga, seni, dan disabilitas, Unesa pun terus memperkuat riset-riset pada ketiga bidang strategis tersebut. Meski demikian, bidang sains dan teknologi, sosial-humaniora, serta ilmu terapan lainnya juga menjadi pilar penting yang ikut menopang reputasi akademik kampus.
Penelitian Unesa tidak berhenti pada tataran akademik. Banyak riset, khususnya di bidang sains dan teknologi telah mengarah pada hilirisasi produk. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan jumlah paten yang berhasil didaftarkan. Data menunjukkan, sejak 2020 sampai 2025, jumlah paten Unesa sudah mencapai 257. “Ini bukti bahwa penelitian Unesa tidak hanya berhenti di proposal, tapi benar-benar punya nilai tambah ekonomi,” tegasnya.
Paten-paten tersebut, terang Turhan, diharapkan mampu berkontribusi pada industri sekaligus menjadi indikator riset berdampak. Selain itu, publikasi internasional bereputasi juga menjadi tolok ukur penting. Selama lima tahun (2022 hingga September 2025), kata Turhan, artikel Unesa yang terbit di jurnal bereputasi terindeks Scopus melonjak dari 360 artikel pada 2022 menjadi hampir sekitar 2.550 artikel pada 2025. “Lonjakan ini menandai bahwa kontribusi keilmuan Unesa semakin diakui dunia,” imbuhnya.

Tantangan di Hilirisasi
Meski pencapaian riset dan paten meningkat, Turhan membenarkan bahwa tantangan terbesar penelitian sivitas akademika Unesa, masih terletak pada proses hilirisasi dan komersialisasi. Menurut Turhan, hal itu dikarenakan dunia industri tidak selalu sejalan dengan dunia akademik. Karena itu, sering kali produk riset kampus belum sesuai dengan kebutuhan pasar. “Ibarat kita bisa memproduksi barang, tapi kalau pemasarannya tidak jalan, maka tetap sulit berkembang. Ini menjadi pekerjaan rumah kita,” katanya.
Menghadapi tantangan itu, jelas Turhan, Unesa akan memperkuat kolaborasi dengan dunia industri. Diharapkan, melalui sinkronisasi kebutuhan dan riset, ada titik temu sehingga melahirkan produk inovatif yang bisa diterima masyarakat. “Kerja sama itu juga menjadi kunci agar riset Unesa tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memberi dampak ekonomi nyata,” bebernya.
Turhan menegaskan bahwa riset dan pengabdian merupakan nafas utama perguruan tinggi. Tanpa itu, kampus hanya akan menjadi “menara gading” yang megah namun jauh dari masyarakat. Unesa, tegas Turhan, menolak paradigma tersebut. Karena itu, dengan berbagai penelitian unggulan, Unesa ingin hadir sebagai solusi atas problem dan dinamika di masyarakat secara nyata. “Perguruan tinggi harus bergandengan tangan dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat agar keberadaannya benar-benar dapat dirasakan dan bermakna,” tandasnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa transformasi Unesa dari institut kependidikan menjadi universitas juga memperluas mandat. Unesa tidak hanya mencetak calon guru, tetapi juga menghasilkan sarjana dari berbagai disiplin ilmu yang siap berkiprah di masyarakat. “Perubahan ini semakin meneguhkan Unesa sebagai kampus komprehensif yang kontribusinya melampaui dunia pendidikan,” ujar Turhan.
Unesa menargetkan peningkatan jumlah publikasi internasional dan penguatan hilirisasi produk penelitian. Kedua hal itu, kata Turhan, diharapkan bisa berjalan beriringan yakni kontribusi keilmuan diakui secara global sekaligus kontribusi ekonomi yang dirasakan secara nasional.
“Unesa juga ingin terus memperluas jejaring kolaborasi, baik dengan industri, pemerintah daerah, maupun lembaga masyarakat. Dengan cara itu, penelitian unggulan Unesa akan semakin berdampak, bukan hanya bagi akademisi, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan bangsa,” jelasnya.
Sebagai Kepala LPPM, Turhan juga menitip pesan, khususnya kepada dosen dan mahasiswa Unesa agar memiliki kesadaran bahwa peran mereka (sivitas akademika) adalah untuk memberi manfaat seluas-luasnya. “Jangan sampai menjadi dosen atau mahasiswa yang tidak berdampak. Orientasi kita harus jelas yaitu memberikan manfaat bagi bangsa dan negara,” pungkasnya. @ja’far

