Menembus Batas Ilmu Jurusan, Ketika Hobi Menjadi Profesi

Dr. Alim Sumarno, M.Pd. Direktur Inovasi Pembelajaran Digital (DIPD) Unesa

“Banyak yang lihat sistemnya lancar dan keren, tapi di balik itu ada perjuangannya sampai kepala mau meledak dan rambut habis,”

Di balik kelancaran proses akademik dan berbagai inovasi pembelajaran digital yang kini dirasakan civitas akademika Universitas Negeri Surabaya (Unesa), ada sosok yang bekerja tekun depan layar penuh kode ditemani segelas kopi di sampingnya. Dialah Alim Sumarno, Direktur Inovasi Pembelajaran Digital Unesa. Jarang orang tahu, kiprahnya di balik trasnformasi digital kampus berawal dari sebuah hobinya yang sederhana: ngoding.

Mungkin banyak orang mengira seorang dibalik layar pengembang platform ‘Sidia Unesa’ berasal dari latar belakang ilmu komputer/IT. Namun, Alim Sumarno justru berasal dari dunia Teknologi Pendidikan. Sejak kuliah, ia dikenal sosok yang akrab dengan teori pembelajaran, desain media, dan strategi pendidikan. Tetapi ketertarikan pada dunia ngoding itu justru tumbuh setelah ia menjadi dosen.

Pria kelahiran Ngawi, 30 Agustus 1977 ini mengenang masa awalnya mengajar. Ia merasakan betul bagaimana repotnya mengurus administrasi dosen, mulai dari menginput nilai, mengelola data mahasiswa, hingga mengatur jadwal perkuliahan.

“Waktu itu saya berpikir, kenapa tidak mencoba membuat alat bantu sendiri lewat ngoding? Di situlah ketertarikan itu tumbuh,” kenangnya.

Baginya, menekuni dunia ngoding tanpa fondasi algoritma dan struktur data bukan perkara mudah. Kesalahan kecil bisa membuatnya pusing berjam-jam. Ia mengaku sering menghadapi eror yang menguji kesabaran. Namun, justru dari sanalah ketangguhan mental dan keterampilan problem solving terbentuk.

“Kalau eror, ya harus sabar. Kadang bikin frustasi, tapi juga jadi momen belajar. justru dari eror-eror itulah saya belajar mencari solusi, baik dari dokumentasi maupun komunitas online,” tuturnya.

Dari kegigihan itu, perlahan ia mulai bisa menciptakan sistem sederhana yang membantu pekerjaan. Bagi Alim, sapaannya ngoding bukan sekedar keterampilan teknis, melainkan ruang kreativitas untuk menghadirkan solusi nyata bagi dunia pendidikan.

Kemampuan ngoding yang terus ia asah akhirnya membuka jalan lebih besar. Sebagai pengajar, ia tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakannya.

“Dengan ngoding, saya bisa melampaui batas pengguna. Saya bisa membuat sistem, dari siakad, e-learning, chatbot, sampai platform integrasi. Semua berawal dari kebutuhan sederhana: bagaimana teknologi bisa membuat pembelajaran lebih efektif,” jelasnya.

Salah satu inovasi yang lahir dari tangannya adalah chatbot AI yang terintegrasi dengan WhatsApp yang ia beri nama ‘Ansia’. Chatbot ini dirancang khusus untuk melayani dosen dan mahasiswa yang menghadapi berbagai masalah akademik, mulai dari informasi jadwal kuliah, magang, hingga prediksi kelulusan. Dengan sistem ini, banyak masalah kecil yang biasanya menumpuk di bagian akademik bisa diselesaikan lebih cepat, praktis, dan efisien.

“Tujuan chatbot itu sederhana, membantu dosen dan mahasiswa mengakses informasi akademik dengan cepat, tanpa harus berbelit-belit. Jadi cukup lewat WhatsApp, kebutuhan mereka bisa langsung terjawab,” ujarnya.

Perjalanan membangun platform digital tidak selalu mulus. Ia bersama tim pernah menghadapi server error, bug yang mengganggu, bahkan serangan virus judi online.

“Kalau cerita suka-dukanya banyak. Pernah server down, pernah kena virus, pernah juga aplikasi penuh bug. Tapi ya itu proses. Dengan semangat kolaborasi, akhirnya bisa melahirkan inovasi digital yang kini dipakai di Unesa,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia megungkapkan ngoding itu ibarat permainan roller coaster, ada sisi stress, ada rasa ingin menyerah, tetapi juga ada kepuasan luar biasa ketika solusi berhasil ditemukan.

“Banyak yang lihat hasil akhirnya saja: aplikasi jalan dan sistem keren. Padahal di balik itu ada banyak lembur, eror yang bikin frustasi, bahkan kadang kepala kayak mau meledak sampai rambut habis karena bug sepele,” ceritanya.

Menurut Alim, rahasia menjadikan hobi sebagai profesinya adalah konsistensi dan keberanian berbagi. Hobi yang hanya dinikmati sendiri akan berhenti di titik “suka.” Tetapi ketika dipraktikkan berulang kali untuk memecahkan masalah nyata, lalu disebarkan kepada orang lain, hobi itu bisa berubah menjadi kontribusi besar bagi sekitarnya.

“Kalau hanya berhenti suka, hobi tidak akan berkembang. Tapi kalau kita konsisten, berani berbagi, lama-lama jadi keahlian yang bermanfaat,” katanya.

Perjalanan akademiknya membuktikan bahwa label jurusan bukanlah batasan. Justru dari sanalah pijakan itu dimulai untuk menjelajah lebih luas. Dengan konsistensi belajar dan keberanian mencoba hal-hal baru, ia mampu menembus ranah pemrograman yang sebelumnya jauh dari latar belakang pendidikannya.

Baginya, kunci utama adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar, keberanian untuk terus belajar, serta tidak takut melakukan kesalahan. Sebab, setiap kesalahan merupakan bagian penting dari proses belajar yang justru memperkuat kemampuan dari waktu ke waktu.

Sebagai Direktur Inovasi Pembelajaran Digital, Alim mempunyai cita besar untuk menjadikan Unesa sebagai pelopor kampus digital di Indonesia, bukan hanya dalam penggunaan teknologi, tapi juga dalam menciptakan inovasi. Hal itu dibuktikan dengan Unesa menjadi juara 1 tingkat Nasional berturut-turut selama 2 tahun dalam kategori Aktifitas Pembelajaran Online di ajang Kemdikbud Award yang diselenggarakan setiap tahun.

“Insa Allah di tahun 2025 ini, jika tidak ada perubahan kategori award di Kemdiktisaintek Unesa akan juara 1 lagi untuk kategori yang sama, karena trend datanya bisa dilihat mulai sekarang di Spada Indonesia,” harapnya.

Ia juga berharap dosen dan mahasiswa semakin terbiasa memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan mutu pembelajaran, dan kita bisa melahirkan ekosistem digital yang inklusif dan mendukung visi internasionalisasi kampus. (Ja’far)

id_IDID