Ciptakan Mesin Pemanggang Ubi Cilembu Otomatis

Ciptakan Mesin Pemanggang Ubi Cilembu Otomatis

Bisa diceritakan sejak kapan meneliti tentang ilmu perpindahan panas?

Ceritanya bermula ketika dulu, pertama kali saya masuk ke Unesa, waktu itu masih IKIP Surabaya. Oleh ketua jurusan, saya diberikan tugas untuk mengajar atau mengampu mata kuliah praktik motor bensin dan praktik sepeda motor. Kemudian, saya juga mengajar perpindahan panas. Awalnya, saya sempat ragu karena di S1 IKIP lain tidak ada mata kuliah perpindahan panas. Nampaknya di Unesa, sejak dulu sudah lebih mengedepankan mata kuliah-mata kuliah yang bersifat ke murni, ke teknik mesinnya. Dan, justru itu adalah keunggulan kita, termasuk inovatif mengembangkan kurikulum, yang memang beberapa mata kuliah itu mengarah ke bidang murni, ke bidang teknik mesin. Ketarikan saya muncul ketika diserahi tugas mengajar. Ternyata, ilmu ini (perpindahan panas) merupakan ilmu yang menarik, karena mendorong mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan critical thinking, logika, kemudian rasional, karena dasarnya ada matematika dan fisika.

Benarkah llmu perpindahan panas ini sangat penting  untuk teknik mesin?

Ya, sangat penting sekali karena di struktur keilmuan teknik mesin, perpindahan panas itu adalah pilar utama. Ada tiga pilar sebetulnya yang menunjang pengembangan ilmu teknik mesin yakni perpindahan panas, elemen mesin, dan mekanika fluida. Landasannya adalah termodinamika. Ketiganya (perpindahan panas, elemen mesin, dan mekanika fluida) digunakan untuk membangun keilmuan teknik mesin yang komplit dan komprehensif. Selain itu, kita juga ada komunitas keilmuan teknik mesin seluruh Indonesia BKSTM (Badan Kerja Sama Teknik Mesin) sebagai tempat bergabungnya institusi-institusi teknik mesin seluruh Indonesia. Di situ terdapat kebijakan bagi pengelola prodi teknik mesin se-Indonesia untuk  memasukkan mata kuliah perpindahan panas pada kurikulumnya, dengan persyaratan minimal 4 SKS.

Bagaimana tantangan dalam menciptakan alat tersebut?

Idenya dari saya. Waktu itu, saya tawarkan ide, bagaimana kalau kita buat alat trainer yang bisa mensimulasikan perpindahan panas pada kondensor yaitu wire and tube heat exchanger. Perjuangannya tidak main-main, sampai mereka lembur mengerjakan. Saya juga ikut mendampingi, ketika itu memang tidak langsung jadi, penuh perjuangan. Selain itu, namanya juga buat sistem panas (thermal system) yang aplikasinya pada kondensor ini. Nah, kadang itu hambatan atau tantangannya sering bocor. Apalagi, bermain dengan suhu yang tinggi.

Bagaimana cara mengatasi tantangan itu?

Cara mengatasinya adalah harus terus melakukan eksperimen, trial and eror bahannya harus menggunakan ini, diameternya ini, kemudian daya pompa ini, kemudian heater yang menggunakan kapasitas sekian, maka fluidanya harus menggunakan sekian. Nah, kita lakukan juga yang namanya uji coba. Uji coba pertama ternyata bocor, kemudian kita mencari bahan-bahan yang lebih sesuai, yang mampu menahan, kondisi operasi yang terjadi di sana. Salah satunya, menggunakan pipa yang sambungannya lebih baik, akhirnya alat itu bisa digunakan untuk praktik mahasiswa.

Bagaimana perkembangan dari alat tersebut?

Awalnya alat ini digunakan oleh mahasiswa untuk mengambil data terkait penelitian di bidang kondensor atau uji kondensor, kemudian dipatenkan sekalian. Dengan pengembangan yang lebih sempurna, yang fit, dan tahan lama, sehingga bisa digunakan untuk praktik jangka panjang. Ini juga bagian dari publikasi saya selain publikasi-publikasi paper-nya mahasiswa yang setelah menyelesaikan praktikum, menggunakan alat itu, mendapatkan data-data, kemudian dianalisis, itu pun juga kami publish dengan mahasiswa berkolaborasi, sehingga ada mahasiswa yang justru paper-nya publish di Jurnal Internasional Terindeks Kukus Q2.

Bagaimana pengembangan mesin pemanggang ubi cilembu?

Kalau di kajian saya di kampus, yang skala lab itu memang mengarah ke pengembangan peralatan perpindahan panas, media pembelajaran perpindahan panas di kampus, gitu ya. Kemudian saya coba mengaplikasikan ilmu perpindahan panasnya pada teknologi pemanggang ubi cilembu. Waktu itu pulang lewat Karangpilang, saya melihat banyak Ubi Bakar Cilembu. Saya coba mampir dan menyimpatkan ngobrol dengan pedagangnya. Saya mengamati dari produk itu banyak kulit ubi cilembu ada yang terbakar terlalu matang (gosong). Ketika saya buka, di dalamnya ada juga bagian tertentu yang tidak matang. Ini mengindikasikan bahwa ketika proses pemanggangan ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik. Dari hasil pengamatan itu, saya terus melakukan semacam wawancara. Ternyata memang penjual terkendala alat yang kurang bagus. Saya coba dilengkapi dengan pengukur suhu otomatis agar tahu pada suhu berapa dan berapa lama. Saya ajukan ke tim di LPPM, ternyata diterima.

Bagaimana pengembangan alat tersebut saat ini?

Saya memberikan alat itu ke UMKM. Kami lihat apakah ada masalah dari alat itu. Setelah ini, saya sudah mulai lagi menyempurnakan. Ke depan akan lebih banyak lagi alat-alat sejenis yang bisa saya berikan ke masyarakat melalui pengabdian di Indonesia agar bisa diproduksi lebih banyak lagi alatnya. Tapi, sebelum itu kan perlu masukkan dari masyarakat, kira-kira teknologi ini disempurnakan di bagian mana. Dari hasil PKM kemarin itu sudah cukup membantu meningkatkan produktivitas mereka dan tekstur Ubi Cilembu juga matang semua. Kemudian, tampilan dari luarnya tidak ada yang spot-spot hitam karena gosong. Pun omset penjualan bisa meningkat karena ubinya tidak ada yang rusak. Dulu, kan cacatnya cukup lumayan sekitar 25 – 30 persen. Saat ini sudah tidak lagi.

Langkah pengembangan penelitian ke depannya?

Kalau dulu saya lebih mengembangkan alat, sekarang lebih banyak ke eksperimen. Jadi, sedikit beralih ke fokus pengembangan perangkat simulasi komputasi, tidak hanya mengerjakan eksperimen tetapi juga mengerjakan simulasinya sehingga hasilnya akan lebih akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. @azhar

id_IDID