Abraham Johns Evangelista, atau yang akrab disapa Abraham mengukir prestasi membanggakan di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumut 2024. Mahasiswa Prodi Ilmu Keolahragaan angkatan 2022 itu mendulang dua medali perunggu di cabang olahraga kabaddi.
Mahasiswa asal Surabaya yang lahir pada 26 Januari 2004 itu dikenal memiliki semangat luar biasa untuk mengeksplorasi berbagai cabang olahraga. Ia kali pertama menekuni wushu. Setelah itu, mengembangkan diri dalam berbagai cabang olahraga seperti karate, renang, kick boxing, muaythai, rugby, hingga akhirnya menemukan kecintaannya pada kabaddi.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu mengatakan, dukungan keluarga merupakan pilar utama dalam setiap langkah yang diambil. Keluarga selalu mendukung dan memberi semangat di setiap tahap, baik saat kemenangan maupun kegagalan. Selain dukungan keluarga, ia juga termotivasi untuk mewujudkan impian sejak kecil, yakni meraih medali di PON.
Perjalanan Abraham di dunia olahraga penuh perjuangan dan pengorbanan. Pada 2016, ia menjadi bagian dari Puslatcab Kota Surabaya cabang olahraga karate, lalu mengikuti Kejurnas Cabor Wushu di Bangka Belitung pada 2016. Selanjutnya, ia mengikuti POPNAS 2017 di Jawa Tengah, Kejurnas Cabor Wushu 2018 di Yogyakarta, dan menjadi bagian dari tim rugby di Kejurnas 2023 Banten.
Ada satu momen yang membuat Abraham hampir menyerah pada impiannya, yakni saat persiapan menuju PON Aceh-Sumut 2024. Ia mengalami cedera cukup serius patah jari. Meski cedera itu belum sepenuhnya sembuh, ia tetap melanjutkan persiapan PON. Tak lama setelah itu, ia kembali mengalami cedera. Kali ini, lututnya cedera akibat jatuh saat latihan, yang membuatnya mengalami cedera ACL (anterior cruciate ligament).
“Saya mulai overthinking dan berpikir apakah bisa bermain maksimal pada saat PON nanti. Dua minggu sebelum keberangkatan, kaki saya belum pulih sepenuhnya, dan saya masih merasakan nyeri,” kenang Abraham tentang masa-masa sulit yang ia hadapi.
Cedera itu bukan hanya menghambat fisik, tetapi juga membuat mental Abraham diuji. Sering ia merasa ingin menyerah, tetapi semangat juang yang tinggi dan dukungan dari pelatih serta keluarga membuatnya bangkit. Saat di PON, bahkan ia harus bermain dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. “Saya bermain di dua kategori, National Style dan Seven for Five, meski dalam keadaan cedera,” ungkap Abraham penuh semangat.
Pada pertandingan pertama di kategori National Style, pelatih menempatkan Abraham di bangku cadangan karena tahu dalam kondisi cedera. Namun, di kategori Seven for Five, ia terpaksa harus bermain penuh. Saat melawan Kalimantan Timur, ia merasa sangat sakit dan ingin menyerah.

Perjuangan Mental
Keputusan untuk tetap bermain menjadi perjuangan mental yang sangat berat. Di tengah rasa sakit, Abraham memilih untuk tidak menyerah. Ia mengingat doa dan keyakinan akan pertolongan Tuhan. Dalam setiap pemanasan, ia memanjatkan doa agar diberikan kekuatan. “Saya berdoa kepada Tuhan Yesus, minta perlindungan. Saat pertandingan dimulai, saya merasa sangat takut. Tapi, saya yakin bahwa ini adalah permainan untuk kemuliaan Tuhan,” ujarnya.
Kemenangan yang diraih Abraham di PON Aceh-Sumut 2024 bukan hanya tentang medali perunggu. Kemenangan itu melambangkan betapa pentingnya mental yang kuat, keberanian untuk terus maju meski kondisi fisik tidak mendukung, dan keyakinan pada diri sendiri serta Tuhan. Abraham menekankan pentingnya doa, dukungan keluarga, dan usaha tanpa kenal lelah dalam menghadapi setiap rintangan. “Saya hanya bisa bersyukur dan terharu. Rasa takut dan keraguan saya berhasil terlewati dengan bantuan Tuhan,” kata Abraham, mengenang perjuangannya.
Sebagai seorang atlet, Abraham tidak hanya fokus pada pencapaian pribadi, tetapi juga pada pengembangan diri di bidang olahraga. Ia ingin lebih dalam lagi menekuni dunia olahraga, terutama di bidang strength and conditioning coach. Ia berharap bisa menjadi pelatih yang berbeda, yang menguasai berbagai cabang olahraga. “Saya juga memiliki cita-cita untuk berpartisipasi dalam even olahraga internasional, baik sebagai atlet maupun pelatih/official,” ujarnya.
Abraham memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mengembangkan kemampuannya. Apalagi, fasilitas olahraga di Unesa sangat lengkap dan mendukung prestasi atlet. Namun, ia juga menyadari bahwa prestasi tidak datang dengan mudah. Dibutuhkan pengorbanan, kerja keras, dan kemampuan untuk mengatur waktu antara kuliah dan latihan.
Meskipun tidak terlibat aktif dalam organisasi kampus, Abraham lebih fokus pada pengembangan diri melalui latihan dan kompetisi. Ia lebih memilih untuk memperdalam ilmunya di luar kampus, seperti mengikuti penelitian atau pelatihan. “Saya lebih tertarik untuk belajar banyak hal baru yang dapat membantu meningkatkan kemampuan olahraga,” kata Abraham.
Abraham berharap bisa terus berkontribusi di dunia olahraga, baik sebagai atlet, pelatih, atau bahkan di bidang sport science. Ia ingin terus memberikan kontribusi di dunia olahraga, mengedukasi masyarakat bahwa olahraga itu penting bukan hanya untuk kebugaran tubuh, tetapi juga untuk memperbaiki kualitas hidup. “Kunci untuk meraih prestasi adalah tidak mudah menyerah (ulet) dan memiliki mental yang kuat,” ujar Abraham.
Ia memiliki prinsip hidup yang selalu dipegang teguh, yaitu ora et labora yang berarti berdoa dan bekerja. Ia percaya bahwa dengan doa yang tulus dan kerja keras, akan diberikan jalan untuk meraih apa yang diimpikan.@)sir

