
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) terus meneguhkan langkah menuju entrepreneurial university. Salah satunya melalui Inkubator Bisnis Terpadu (IBT), yang menjadi simbol transformasi besar arah riset dan inovasi kampus rumah para juara itu.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Publikasi, dan Pemeringkatan Unesa, Dr Bambang Sigit Widodo, MPd mengatakan, kehadiran IBT memiliki arti strategis bagi posisi Unesa di masa depan. Kehadiran IBT, katanya, sangat penting bagi perguruan tinggi seperti Unesa karena pergeseran perguruan tinggi saat ini dari teaching university menuju research university dan akhirnya ke entrepreneurial university.
Ia menjelaskan, saat ini Unesa memang sedang berada pada fase transisi dari kampus riset menuju kampus wirausaha. Nah, IBT menjadi salah satu faktor penting untuk hilirisasi produk riset dan inovasi dari para dosen maupun mahasiswa. IBT juga berperan sebagai ruang untuk menumbuhkan entrepreneurial mindset di kalangan sivitas akademika, mendorong lahirnya startup kampus berbasis sains dan teknologi, serta menjembatani hasil riset dengan dunia industri.
Bambang menilai, IBT merupakan bukti nyata bahwa dosen tidak berhenti pada penyampaian teori di kelas, tapi dikuatkan melalui riset laboratorium maupun di lapangan dalam rangka menyelesaikan permasalahan masyarakat. Menurutnya, saat ini bukan lagi berapa banyak riset dilakukan, tetapi seberapa besar dampaknya bagi kemanusiaan dan peradaban. “Di sinilah, IBT berperan penting. Jika dilihat dari proses bisnis Unesa, maka outcome dari pelaksanaan Tri Dharma, khususnya penelitian adalah kebermanfaatan bagi masyarakat dan juga industri,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa IBT disiapkan sebagai ruang yang tidak hanya menampung hasil penelitian, tetapi juga membentuk startup berbasis riset yang berdaya saing nasional maupun internasional. “Persiapan IBT di Unesa harus dilihat secara holistik, dari aspek kelembagaan, proses riset, hingga jejaring nasional dan internasional,” ujarnya.
Secara kelembagaan, kata Bambang, IBT akan dikelola di bawah Direktorat Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah melalui Kasi Inkubator Bisnis. Dalam praktiknya, IBT akan menjadi wadah validasi riset yang berdampak luas dan layak secara komersial, atau yang disebut sebagai validation market. “Di IBT, kami akan mengelola riset yang tidak hanya kuat secara inovasi dan novelty, tapi juga memiliki nilai tambah dan potensi pasar yang jelas,” terangnya.
Untuk mencapai hal itu, IBT telah menyiapkan program pendampingan startup yang sistematis agar hasil riset dapat melewati fase kritis antara riset dan komersialisasi produk. Riset yang inovatif harus bisa hidup melewati lembah itu dan menjadi produk yang berkelanjutan.

Bangun Budaya Saintis dan Keilmuan
Selain penguatan IBT, lanjut Bambang, Unesa juga mengembangkan sejumlah kebijakan inovatif untuk memperkuat ekosistem riset, publikasi, dan pemeringkatan. Salah satu yang paling strategis adalah kebijakan One Lecturer One Scopus (OLOS). Riset dan publikasi harus menjadi budaya civitas akademika Unesa. “Untuk mempercepat itu, kami menerapkan kebijakan OLOS dengan sistem reward and punishment yang jelas,” tuturnya.
Menurut dosen kelahiran Kebumen itu, organisasi yang kuat harus memiliki sistem penghargaan dan tanggung jawab seimbang. Punishment bukan hukuman, tapi cambuk motivasi untuk lebih disiplin dalam menjalankan Tri Dharma. “Dosen bukan teacher only, tapi scholar,” tandasnya.
Ia menambahkan, kebijakan ini berhubungan erat dengan target pemeringkatan global. Ia mengatakan, komponen riset dan publikasi menyumbang 45–55 persen dari penilaian. Saat ini, jumlah dokumen Scopus Unesa masih belum maksimal jika dibandingkan dengan perguruan tinggi lain.
“Dengan target peringkat 401–600 dunia pada tahun 2026 di Times Higher Education Impact Rankings (THE IR), Unesa sedang memperkuat SDGs Center sebagai ruang kolaborasi riset, publikasi, inovasi, dan pengabdian yang memberi dampak nyata sekaligus memperkuat posisi di tingkat global,” jelasnya.
Mengintegrasikan IBT dengan agenda besar menuju World Class University (WCU), kata Bambang, tentu bukan hal mudah. Tantangan terbesarnya justru ada pada manusia di dalamnya, yakni bagaimana mengubah mindset civitas akademika dari yang nyaman di zona biasa menjadi terbuka pada hal-hal baru. “Kita agak lama tidur, lalu tiba-tiba dibangunkan karena universitas lain sudah berlari menuju WCU. Sempat kaget juga, tapi sekarang saatnya bersiap, turun dari tempat tidur, lalu ikut berlari,” tegasnya.
Bambang menyadari bahwa perubahan besar selalu memunculkan reaksi beragam. Ada yang sadar dan ikut bergerak, tapi juga ada yang masih ingin tetap nyaman. Itu adalah hal yang wajar. Tapi, ia yakin civitas akademika Unesa mampu beradaptasi dengan cepat. IBT harus menghasilkan riset inovatif dan berdampak nyata bagi masyarakat dan industri, serta kontribusi akademik seperti publikasi tersitasi dan paten yang meningkat.
Bambang menegaskan bahwa IBT bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan simbol gerakan intelektual baru di Unesa untuk melahirkan inovasi berdampak, berkelanjutan, dan berdaya saing global. “IBT adalah langkah nyata menuju masa depan Unesa sebagai kampus yang mandiri, inovatif, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat,” tandasnya.
Bambang berharap para dosen, mahasiswa, dan mitra industri dapat memanfaatkan IBT secara maksimal. Dosen adalah sumber ide dan pengetahuan. IBT bisa menjadi jembatan antara hasil riset dan dunia industri. “Mari kita ajak mahasiswa ikut terlibat untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mereka sejak dini. Dari situlah startup-startup baru akan lahir,” pungkasnya. @shofi

Prof Nadi Suprapto, Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah Unesa
Komitmen Kampus Jembatani Hasil Penelitian
Jika tidak ada aral melintang, Unesa akan segera meresmikan Inkubator Bisnis Terpadu (IBT) sebagai langkah konkret memperkuat ekosistem riset dan inovasi menuju universitas berorientasi kewirausahaan.
Menurut Nadi Suprapto, Direktur Inovasi, Pemeringkatan, dan Publikasi Ilmiah Unesa, IBT menjadi simbol komitmen kampus dalam menjembatani hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat dan dunia industri. IBT Unesa dirancang tidak hanya sebagai ruang pamer produk inovasi, melainkan juga pusat pembinaan bagi tenant, baik dari dosen, mahasiswa, maupun mitra eksternal yang siap mengembangkan hasil riset menjadi produk bernilai ekonomi. “Tenant di sini tidak asal. Mereka harus benar-benar binaan Unesa, seperti kelompok ecoprint yang telah rutin produksi dan berkembang bersama kami,” ujarnya.
Nadi mengatakan, ke depan, produk-produk inovatif dari katalog riset Unesa akan dikelompokkan dalam empat klaster unggulan yaitu pendidikan, olahraga (sport technology), disabilitas, dan seni (art technology). Masing-masing bidang memiliki potensi hilirisasi yang kuat dan relevan dengan karakter Unesa sebagai kampus kependidikan dengan visi inklusif dan kreatif.
“Melalui klasifikasi ini, IBT berfungsi sebagai wadah hilirisasi berkelanjutan. Kita ingin agar hasil riset tidak berhenti di laporan atau jurnal, tetapi bisa terlihat dan dirasakan manfaatnya. Sebab, selama ini banyak proyek inovatif yang sempat ‘mati suri’ setelah pendanaan atau monev berakhir. Dengan adanya IBT, Unesa menargetkan hilirisasi yang berkesinambungan dan berorientasi pada keberlanjutan (sustainability),” jelasnya.
Tantangan Keberlanjutan
Salah satu tantangan besar yang dihadapi dalam pengelolaan inovasi kampus adalah keberlanjutan program setelah proyek riset berakhir. Untuk menghindari yang disebut death valley atau lembah kematian riset karena penelitian hanya berhenti di laporan, IBT hadir untuk memastikan produk riset terus hidup dan berkembang. Ia mencontohkan, beberapa produk seperti sepatu hasil kerja sama dosen Unesa dengan mitra industri, hingga teknologi berbasis robotik dan virtual reality (VR) yang berpotensi besar dikomersialisasikan melalui IBT.
“Kalau ada tamu, siswa, atau dosen dari perguruan tinggi lain berkunjung, mereka bisa melihat langsung produk hasil riset Unesa, proses pembuatannya, bahkan bisa membeli,” ungkapnya sembari mengatakan bahwa konsep ini tidak hanya memperkuat promosi inovasi, tetapi juga membuka peluang income generating bagi universitas dan para inovatornya.
Tantangan lainnya, kata Nadi, adalah kemitraan. Selama ini, kemitraan sering dipersepsikan Unesa yang butuh mitra. Padahal, keduanya seharusnya saling membutuhkan. Karena itu, paradigma kemitraan perlu diubah. Ia mencontohkan kasus kerja sama dengan pelaku industri di Sumenep yang berhasil mengolah tanaman kelor menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Keberhasilan kolaborasi harus berdampak bagi dua pihak yaitu mitra memperoleh manfaat ekonomi, sedangkan kampus mendapatkan capaian akademik dan reputasi. Dengan sistem hilirisasi yang terstruktur, kami berharap IBT menjadi jembatan yang mempertemukan kepentingan akademik dan dunia usaha secara seimbang, sehingga kampus dan mitra bisa tumbuh bersama sebagai mitra yang ideal,” jelasnya.
Strategi dan Target
Nadi menambahkan, IBT Unesa dijadwalkan diresmikan pada 11 November 2025 bertepatan dengan momentum ‘angka cantik’ 11–11, yakni satu hari setelah Hari Pahlawan. Setelah peresmian, fokus utama direktorat adalah memastikan operasional berjalan optimal, termasuk pembentukan tim manajemen profesional non-dosen serta pengadaan fasilitas pendukung.
“Dalam jangka pendek, IBT akan difungsikan sebagai pusat promosi inovasi yang terintegrasi dengan kegiatan kampus. Semua produk, souvenir, dan karya sivitas akademika Unesa akan dikonsolidasikan di IBT sebagai pusat kewirausahaan kampus,” bebernya.
Peneliti kelahiran Sidoarjo itu optimistis konsep ini akan menjadi sumber pemasukan baru bagi universitas sekaligus membangun kebanggaan sivitas terhadap produk-produk Unesa. Ia yakin, dari sepuluh orang yang berkunjung, pasti ada yang membeli.
Lebih jauh, Nadi menekankan pentingnya membangun budaya kewirausahaan di lingkungan kampus. Setiap orang di Unesa, baik mahasiswa maupun dosen harus memiliki jiwa wirausaha. Dari situ muncul kemandirian, kreativitas, dan kemampuan menciptakan lapangan kerja. Melalui IBT, dosen dan mahasiswa didorong untuk menyalurkan ide kreatif menjadi produk bernilai ekonomi.
Beberapa inisiatif telah disiapkan, seperti kompetisi desain merchandise berlogo SDGs-Unesa, hingga produksi kain bermotif khas Unesa yang akan menjadi produk hak cipta kampus. Sistem royalti dan pembagian keuntungan antara pencipta, universitas, dan mitra pun tengah dirancang agar mendorong partisipasi lebih luas.
“Lewat IBT ini, kami ingin Unesa jadi kampus yang tidak hanya aktif riset, tapi juga bisa mandiri dan bermanfaat bagi banyak orang. Semua dari Unesa, untuk Unesa, dan akhirnya kembali ke masyarakat dalam bentuk inovasi yang nyata dan berdampak,” tandasnya optimis. @shofi

Dr Mochamad Purnomo, SPd, MKes, Direktur Unesa Science Center
Science Center, Lokomotif Inovasi menuju Kampus Kelas Dunia
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memiliki pusat strategis yang menjadi penggerak utama pengembangan inovasi yaitu Unesa Science Center (USC). Lembaga yang resmi berdiri pada Februari 2024 ini menjadi payung koordinasi bagi berbagai pusat unggulan riset di lingkungan kampus. Science Center akan menjadi lokomotif Unesa menuju kampus kelas dunia (world class university).
Direktur Unesa Science Center, Mochamad Purnomo mengatakan bahwa USC berperan penting sebagai jantung integrasi riset, inovasi, dan hilirisasi produk unggulan Unesa. Ada tiga Pusat Unggulan Iptek (PUI-PT) yang menjadi fokus riset kampus bermotto growing with character ini yakni Sport & Exercise Research Center (SERCH), Disability Innovation Center (DIC), dan PUI Seni Budaya Majapahitan.
“Melalui ketiga pusat unggulan ini, Science Center menggabungkan ilmu keolahragaan, pendidikan disabilitas, dan seni budaya dalam satu atap kolaboratif. USC bukan sekadar pusat riset, tetapi juga penggerak ekosistem inovasi kampus. Kami mengintegrasikan riset, pendidikan, dan pengabdian masyarakat dalam satu sistem kerja yang terarah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Purnomo menjelaskan USC tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Misalnya dalam bidang olahraga, USC menyediakan layanan berbasis sport science untuk meningkatkan prestasi atlet nasional dan menceyak pelatih profesional.
Adapun di bidang disabilitas, lanjutnya, Science Center hadir sebagai inovasi teknologi untuk mempermudah akses pendidikan dan kehidupan penyandang disabilitas. Sementara di bidang seni budaya, USC aktif mendukung pelestarian budaya lokal majapahitan.
“Berbagai fasilitas penunjang telah disiapkan untuk mewujudkan misi tersebut, mulai dari kolam renang berstandar nasional, SSFC Gym, driving range golf, Unit Layanan Anak Berkebutuhan Khusus (ULABK), hingga akademi keolahragaan. Kami ingin USC menjadi rumah bersama bagi masyarakat, tempat belajar, berlatih, dan berkolaborasi,” ungkap Purnomo.
Kolaborasi Global dan Terus Berinovasi
Purnomo menambahkan, salah satu program unggulan Science Center yang mendapat sambutan luas adalah Weight Loss Challenge, yakni inisiatif untuk membentuk kebiasaan hidup aktif dan sehat di kalangan masyarakat. Selain itu, USC juga memperluas jangkauan dengan menjalin kerja sama strategis dalam berbagai institusi global.
“Sepanjang tahun 2025, kami sudah bekerja sama dengan Curtin University (Australia) dalam bidang sport science, Federation Internationale de Basketball (FIBA) untuk pengembangan olahraga basket nasional, dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dalam mendukung pembinaan generasi emas sepak bola Indonesia. Kami juga bekerja sama dengan Bali United dan Universitas Pendidikan Ganesha untuk mencetak pelatih handal,” jelasnya.
Bagi Purnomo, pencapaian terbesar Unesa Science Center adalah tatklala mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari pemerintah terkait tiga Pusat Unggulan Iptek Unesa. Hal ini menjadi pijakan penting untuk langkah selanjutnya. Ke depan, pria kelahiran Kota Surabaya ini berharap lembaga yang dipimpinnya menjadi lokomotif utama mewujudkan visi besar Unesa sebagai kampus riset terdepan berkelas dunia.
Meski telah meraih berbagai capaian, Purnomo mengungkapkan masih banyak tantangan yang dihadapai. Salah satunya mempertahankan status Pusat Unggulan Iptek (PUI) agar tetap diakui oleh pemerintah bahkan dunia. “Kami harus terus berinovasi dan membuktikan diri bahwa Unesa mampu bersaing di tingkat internasional,” harapnya.
Lebih jauh, Purnomo berharap USC menjadi pintu gerbang transformasi Unesa. Dengan riset yang kuat, inovasi nyata, dan kolaborasi yang luas. Kampus berjuluk ‘Rumah Para Juara’ ini akan melangkah lebih cepat menuju kampus berstandar internasional. @ja’far

PUI Seni Budaya Majapahitan Unesa Perkuat Inovasi dan Pelestarian Nilai Lokal Berbasis Riset
Universitas Negeri Surabaya terus memperkokoh kiprahnya dalam pengembangan seni dan budaya berbasis riset. Melalui Pusat Unggulan Iptek (PUI) Seni Budaya Majapahitan (PUI-SBM), yang berada dalam koordinasi Direktorat Unesa Science Center bertekad menjadi wadah pelestarian budaya dan pusat inovasi yang mengintegrasikan penelitian, pendidikan, dan praktik berkarya seni dalam konteks digital dan global.
Dr Tri Sakti, MSi, Kasubdit PUI Seni Budaya Unesa mengatakan bahwa PUI Seni Budaya Majapahitan dibentuk sebagai respons atas kebutuhan strategis nasional untuk menghadirkan pusat keunggulan yang mampu menjembatani seni, riset, dan teknologi. Menurutnya, sejak masih bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya, seni telah menjadi marwah keilmuan instutusional. “Melalui PUI ini, seni tidak hanya dilihat sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai instrumen transformasi sosial, media diplomasi budaya, dan wahana pembelajaran lintas budaya,” ujarnya.
Dosen Pendidikan Seni Budaya itu menerangkan, PUI-SBM Unesa berfokus pada tiga pilar utama yakni pelestarian seni budaya, pengembangan inovasi berbasis riset, dan hilirisasi produk seni. Adapun kegiatan utama saat ini adalah penelitian dan publikasi ilmiah, digitalisasi ekspresi budaya Indonesia, pelatihan seni tradisional dan kontemporer, hingga pementasan dan pameran karya berbasis riset lokal.
“Selain itu, forum diskusi kebudayaan dan pengembangan media pembelajaran berbasis budaya juga menjadi bagian penting dalam upaya PUI-SBM ini memperkuat ekosistem dan budaya di lingkungan kampus dan masyarakat,” ungkapnya.
Tri Sakti membeberkan bahwa cikal bakal lembaga ini dimulai pada 2019 melalui inisiatif pendirian Pusat Seni dan Budaya di bawah LPPM Unesa bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni. Seiring berkembangnya arah kebijakan riset dan inovasi, lembaga ini bertransformasi menjadi PUI Seni Budaya pada 2023. Kemudian, tahun 2025 memperoleh status resmi sebagai PUI Seni Budaya Majapahitan (PUI-SBM) melalui hibah PUI-PT dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemdikbudristek.
“Ciri khas utama PUI-SBM terletak pada pendekatan interdisipliner yang memadukan riset kebudayaan, penciptaan seni, teknologi digital, serta pendidikan berbasis komunitas. Kami ingin menjadi labotarium kreatif dan inkubator inovasi budaya yang kontekstual, aplikatif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” jelas Tri Sakti.
Saat ini, kata Tri Sakti, PUI-SBM Unesa menjalankan tiga program strategis, yakni program pengembangan institusi untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, tata kelola, dan jejaring kolaborasi nasional maupun internasional. Selanjutnya, program penelitian dan pengembangan yang mendorong lahirnya gagasan dan karya seni berkelanjutan serta adaptif terhadap dinamika global. “Dan, yang terakhir, program desiminasi dan kolaborasi yang berperan menyebarluaskan hasil riset dan praktik terbaik kepada masyarakat, lembaga pendidikan dan komunitas kreatif,” bebernya.
Dalam pengembangannya, PUI-SBM menjalin kerja sama dengan berbagai institusi seni budaya baik dalam maupun luar negeri. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat jejaring keilmuan, tetapi juga memperluas jangkauan desiminasi hasil riset dan karya kreatif.
Meski demikian, Tri Sakti mengakui bahwa masih ada tantangan yang dihadapinya, seperti keterbatasan sinergi antara akademisi dan praktisi industri kreatif serta pemanfaatan teknologi digital yang belum maksimal dalam dokumentasi dan penyebaran karya seni. “Tantangan ini mendorong PUI-SBM untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.
Ke depan, melalui riset unggulan, kolaborasi internasional, dan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal, PUI-SBM diharapkan menjadi motor penggerak transformasi ilmu pengetahuan dan seni budaya Indonesia. “Kami ingin PUI-SBM berkontribusi dalam mewujudkan visi Unesa sebagai universitas berkelas dunia yang berbasis riset dan kearifan lokal,” tutupnya. @ja’far

Menuju Kampus Hijau dan Berkelanjutan melalui Smart Eco Campus
Komitmen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menuju kampus hijau dan berkelanjutan terus diperkuat melalui berbagai langkah nyata. Salah satunya diwujudkan melalui kiprah Direktorat Smart Eco Campus.
Direktur Smart Eco Campus Unesa, Prof Dr Abdul Rachman Syam Tuasikal mengatakan, Smart Eco Campus bertujuan menciptakan kampus yang lebih hijau dengan pembangunan berkelanjutam berbasis teknologi digital, energi terbarukan, dan pengelolaan sampah lingkungan ramah dan bernilai ekonomis. “Konsep yang diusung tidak sekadar mempercantik lanskap, tetapi juga menanamkan kesadaran ekologis di seluruh civitas akademika,” ujarnya.
Sejauh ini, Direktorat Smart Eco Campus telah melaksanakan berbagai program strategis. Salah satunya adalah gerakan penanaman terpadu bunga tabebuya di Kawasan Kampus 5 Unesa Magetan, yang menjadi langkah awal penghijauan berkelanjutan. Selain itu, juga mengadakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang menghadirkan narasumber Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Magetan.
Selain itu, smart eco campus juga menginisasi pemilihan duta eco campus sebagai wadah bagi mahasiswa menjadi agen perubahan dalam gerakan hijau kampus. Melalui paguyuban ini, mahasiswa diharapkan berperan aktif sebagai motor penggerak dalam menyukseskan program direktorat. “Para duta diharapkan mampu menjadi contoh bagi mahasiswa lain dalam menjaga kelestarian lingkungan kampus dan bersama mewujudkan kampus hijau berkelanjutan,” harapnya.
Program unggulan yang menjadi sorotan adalah pengelolaan sampah terpadu dan terintegrasi. Melalui sistem ini, kata Prof Syam – demikian panggilan akrabnya, sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas sivitas akademika tidak lagi dianggap sebagai limbah semata, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali.
Melalui pusat pengelolaan sampah, kata Prof Syam, seluruh sampah dari lingkungan kampus dikumpulkan, dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian dikelola secara profesional. Sampah anorganik seperti plastik dan kertas dijual kembali untuk menambah nilai ekonomi, sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang digunakan untuk kebutuhan penghijauan kampus.
Guru Besar Fakultas Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) itu menjelaskan, selain pengelolaan sampah, Unesa juga mulai menerapkan sistem hemat energi dan penggunaan energi terbarukan. Salah satunya di gedung kuliah bersama FIKK yang telah mengadopsi desain saving energy sehingga memungkinkan pencahayaan alami tanpa ketergantungan listrik pada siang hari. “Ke depan, penggunaan panel surya mulai diujicobakan untuk mendukung kebutuhan energi bersih kampus,” imbuhnya.
Meski demikian, berbagai tantangan untuk mewujudkan kampus Eco Green Office dan Eco Green Park tidaklah sederhana. Menurut Prof Syam, tantangan terbesar justru datang dari kondisi Unesa yang berada di kawasan perkotaan dengan tingkat mobilitas tinggi. “Kita tahu sendiri, lingkungan perkotaan membawa tantangan besar, terutama soal polusi udara yang disebabkan kendaraan bermotor. Ini menjadi pekerjaan rumah utama kami,” ungkapnya.
Selain persoalan polusi, tantangan lainnya adalah menumbuhkan kesadaran dan konsistensi seluruh sivitas akademika untuk menerapkan gaya hidup hijau dalam aktivitas sehari-hari. Upaya seperti efisiensi energi, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, serta disiplin dalam memilah sampah masih memerlukan pembiasaan dan dukungan bersama. “Untuk menjawab tantangan itu, berbagai pengembangan inovasi kami siapkan melalui sistem pemantauan jumlah kendaraan dan tingkat emisi karbon di area kampus,” jelasnya.
Unesa juga berencana menghadirkan transportasi ramah lingkungan di area kampus, seperti mobil listrik keliling dan sistem parkir terpusat. Dengan begitu, mahasiswa dapat berjalan kaki, bersepeda, atau memanfaatkan mobil listrik antargedung tanpa harus membawa kendaraan pribadi. “Upaya lainnya adalah memperluas ruang terbuka hijau dan memperbanyak penanaman pohon di berbagai titik kampus,” bebernya.
Untuk mengembangkan berbagai inisiatif tersebut, Direktorat Smart Eco Campus menjalin kolaborasi dengan banyak pihak. Di antaranya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya dan lembaga pengelola satwa untuk melakukan pendataan dan pemantauan hewan yang berada di kawasan kampus. Kerja sama tersebut salah satunya berkaitan dengan pengelolaan satwa di Laboratorium Merdeka Belajar Unesa yang memang memiliki beragam jenis hewan.
Prof Syam menegaskan, keberhasilan mewujudkan Smart Eco Campus tidak dapat dicapai secara parsial. Dibutuhkan dukungan dari semua direktorat dan sivitas akademika Unesa, mulai dari dosen, tendik, hingga mahasiswa. “Semua harus terlibat aktif dalam gerakan ini,” pungkasnya. @ja’far
