Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi perikanan dan peternakan melimpah. Hanya saja, untuk mengoptimalkan potensi itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang selain paham biologi hewan, juga mampu menghadirkan inovasi berbasis teknologi untuk memperkuat penyediaan protein hewani.
Di sinilah, Program Studi S1 Biosains Hewan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa mengambil peran strategisnya. “Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya mencintai hewan ternak, tetapi juga mampu mengolah ilmu dan teknologi untuk ketahanan pangan bangsa,” ujar Prof Dr Nur Ducha, MSi, Koordinator Program Studi S1 Biosains Hewan.
Didirikan dengan semangat untuk bisa memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional, Prodi Biosains Hewan hadir sebagai bentuk nyata komitmen perguruan tinggi menjawab kebutuhan zaman.
Nur Ducha mengatakan, jumlah penduduk setiap tahun terus meningkat. Dengan demikian, kebutuhan pangan, terutama protein hewani juga ikut melonjak. Karena itu, diperlukan inovasi untuk meningkatkan populasi dan kualitas ternak secara cepat, sehat, dan berkelanjutan.
Guru besar bidang Ilmu Biologi Rekayasa Reproduksi Hewan itu menyampaikan, meski memiliki rumpun keilmuan yang mirip dengan progam studi di kampus lain, Biosains Hewan Unesa memiliki ciri khas tersendiri, yakmi menekankan pendekatan rekayasa teknologi untuk pengembangan budidaya ternak. “Prodi ini berfokus pada penguasaan bioteknologi, bioinformatika, serta penerapan keilmuan masa kini yang menggabungkan aspek biologi hewan dengan teknologi modern,” ujarnya.
Pendekatan rekayasa teknologi itulah, terang Nur Ducha, menjadikan prodi ini berbeda dengan prodi-prodi sejenis. Prodi Biosains Hewan Unesa, tidak hanya bicara soal beternak, tetapi juga bagaimana menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan industri ternak.
“Dengan semangat kolaboratif lintas disiplin, mulai dari biologi, teknik, hingga informatika, Prodi Biosains Hewan berkomitmen menjadi pionir dalam inovasi hewan ternak unggul yang berdaya saing global,” ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakan, mahasiswa Biosains Hewan tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung berhadapan dengan praktik, penelitian, dan industri. Kurikulumnya dibangun berdasarkan capaian pembelajaran yang komprehensif, mulai dari ilmu dasar biologi dan kimia, rekayasa nutrisi dan reproduksi ternak, hingga teknologi hasil ternak. “Mahasiswa akan belajar banyak hal, mulai dari genetika dan bioteknologi, hingga rekayasa limbah ternak yang bernilai guna,” ujar dosen kelahiran Lumajang itu.

Kewirausahaan Berkelanjutan
Selain itu, prodi ini juga menanamkan nilai kewirausahaan berkelanjutan agar lulusan tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja baru di bidang peternakan. Kurikulum juga memperhatikan kearifan lokal dengan memanfaatkan potensi daerah untuk pengembangan ternak yang ramah lingkungan dan efisien.
Dari sisi sumber daya manusia, prodi ini telah memiliki komposisi dosen yang kuat dan kompeten. Tercatat, terdapat satu guru besar di bidang Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, satu doktor di bidang Nutrisi Ternak, dan empat dosen yang sedang menempuh studi doktoral baik di dalam negeri maupun luar negeri.
“Selain itu, prodi ini juga berkolaborasi lintas fakultas seperti FMIPA dan Teknik Informatika, khususnya untuk pengajaran mata kuliah biomolekuler, bioinformatika peternakan, hingga rekayasa lingkungan. Kami tidak berdiri sendiri. Prinsipnya, ilmu harus saling menguatkan,” tegasnya.
Proses pembelajaran pun dirancang dengan beragam metode inovatif, seperti kuliah interaktif, praktikum laboratorium, magang, hingga proyek kolaboratif berbasis riset. Metode seperti problem-based learning, project-based learning, dan diskusi kolaboratif diterapkan untuk membentuk karakter ilmiah dan komunikatif mahasiswa. “Mahasiswa kami terbiasa berpikir kritis dan berani berpendapat. Mereka dilatih untuk aktif berdiskusi, bahkan dengan praktisi dan peneliti dari industri maupun BRIN,” ungkap Nur Ducha.
Prospek lulusan Biosains Hewan pun sangat luas baik di dunia akademik, industri, maupun kewirausahaan. Mereka bisa menjadi asisten peneliti, profesional industri peternakan, konsultan peternakan, pengusaha ternak, atau bahkan ASN dan pegawai BUMN. Menariknya, mahasiswa juga dibekali kemampuan data analis dan konten digital. “Jadi, mereka bisa menjadi content creator atau data analis di bidang peternakan modern,” tambahnya.
Sebagai prodi baru, fasilitas fisik memang masih terus dikembangkan. Saat ini, terdapat satu ruang kelas dan satu laboratorium. Namun, ke depan, Unesa telah menargetkan pembangunan laboratorium terbuka (kandang ternak) dan ruang riset tematik untuk mendukung kegiatan perkuliahan dan penelitian mahasiswa. “Kami sedang mengupayakan penambahan fasilitas laboratorium agar riset mahasiswa dan dosen bisa lebih optimal,” imbuhnya.
Kekuatan prodi ini juga terletak pada jejaring kerja sama. Hingga kini, Biosains Hewan telah menjalin kemitraan dengan berbagai institusi, antara lain Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Universitas Putra Malaysia, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, PT Sinta Prima, PT Mertani dan berbagai kelompok tani serta koperasi di Jawa Timur. “Kami ingin memastikan mahasiswa bisa belajar langsung dari dunia nyata, baik di kampus, industri, maupun masyarakat,” tegasnya.
Meski baru berdiri, antusiasme mahasiswa prodi ini patut diacungi jempol. Sudah ada 64 mahasiswa yang terbagi dalam dua kelas. Mereka aktif mengikuti kuliah, seminar, hingga kegiatan guest lecture dari praktisi nasional dan internasional. Selain itu, telah terbentuk sejumlah kelompok studi tematik seperti Cattle Buffalo Club, Poultry Club, Pets Science Club, dan Tourism Animal Club, yang menjadi cikal bakal Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP).
Nur Ducha menegaskan bahwa peningkatan fasilitas menjadi prioritas utama pada 2026. Ia ingin memiliki laboratorium yang lengkap, kandang penelitian, dan ruang riset interdisipliner. “Dengan itu, kami bisa menghasilkan inovasi nyata bagi dunia peternakan Indonesia,” pungkasnya. @prisma

