Geografi kini menjelma menjadi disiplin ilmu yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga prediktif. Transformasi inilah yang melatarbelakangi lahirnya Program Studi S1 Sains Informasi Geografi (SIG) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya.
Koordinator Program Studi S1 Dr Nugroho Hari Purnomo SP MSi mengatakan, di tengah kompleksitas persoalan wilayah, kebutuhan analisis berbasis data geospasial semakin mendesak. Pemahaman dan pengelolaan ruang permukaan bumi saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi membuat data geospasial menjadi kunci dalam berbagai sektor.
Dari situlah Prodi S1 Sains Informasi Geografi Unesa dirancang bukan hanya untuk mempelajari bumi, melainkan untuk mengolah informasi di dalamnya, menginterpretasikan dinamika ruang, dan menghadirkan solusi berbasis data bagi masyarakat.
“Latar belakang pendirian prodi ini adalah kebutuhan terhadap pemahaman dan pengelolaan ruang permukaan bumi yang semakin kompleks. Teknologi telah menjadikan pengolahan data geospasial sebagai bagian penting dalam berbagai sektor,” ungkap Nugroho.
Pengolahan data geospasial, kata Nugroho, kini menjadi kunci berbagai bidang mulai dari perencanaan wilayah, mitigasi bencana, pengelolaan sumber daya alam, hingga analisis sosial dan kebijakan publik. Tidak heran jika kebutuhan terhadap tenaga ahli di bidang ini terus meningkat.
Nugroho menjelaskan, melalui pendekatan Geo-Artificial Intelligence (Geo-AI), Prodi S1 SIG Unesa mengusung visi pengembangan keilmuan yang tidak hanya analitis, tetapi juga solutif. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami fenomena ruang, tetapi juga merancang solusi berbasis data untuk menjawab persoalan masyarakat.
“Salah satu keunggulan utama prodi ini terletak pada integrasi antara geografi dan teknologi mutakhir. Jika geografi konvensional berfokus pada deskripsi fenomena ruang, maka SIG melangkah lebih jauh yaitu mengolah big data geospasial dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menghasilkan insight yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan strategis,” jelasnya.
Dengan keilmuan itu, terang Nugroho, lulusan tidak hanya memahami peta, tetapi mampu membaca pola di balik data, semisal memprediksi wilayah rawan banjir, menganalisis distribusi penduduk, hingga merancang tata ruang kota yang berkelanjutan. Pendekatan ini menjadikan SIG sebagai disiplin yang lintas sektor: menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, sosial, hingga politik.
Kurikulum Teknis Analitis
Kurikulum Prodi S1 SIG dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis sekaligus analitis. Pembelajaran tidak hanya berlangsung di kelas, tetapi juga melalui praktikum laboratorium, studi kasus, hingga eksplorasi lapangan. Rumpun keilmuan meliputi geografi fisik, geografi manusia, wilayah, dan lingkungan, teknologi informasi, kartografi (ilmu peta), penginderaan jauh (remote sensing), sistem informasi geografi (SIG), basis data geospasial, kecerdasan buatan geospasial, statistik geospasial dan pemodelan geospasial.
“Mahasiswa akan belajar mengolah data dari citra satelit, membuat peta digital interaktif, hingga membangun model prediktif berbasis data spasial untuk menjawab persoalan nyata,” terang Nugroho.
Kenggulan lain prodi SIG juga terletak pada sumber daya manusia. Tim dosen terdiri dari para ahli di berbagai bidang geografi dan geomatika, lulusan perguruan tinggi ternama dalam dan luar negeri. Pun, latar belakang keilmuan yang beragam mulai dari geografi fisik, geografi manusia, hingga geomatika, menjadi kekuatan dalam membangun kurikulum yang komprehensif dan multidisipliner.
“Proses pembelajaran tidak berhenti pada teori, tapi mahasiswa akan terlibat dalam studi kasus berbasis masalah nyata, praktikum laboratorium geospasial, observasi lapangan bentang lahan dan magang industri melalui program Magang Berdampak,” tambahnya.
Pendekatan itu, lanjut Nugroho, dirancang agar mahasiswa terbiasa menghadapi persoalan kompleks sejak dini. Pembelajaran berbasis proyek dan lapangan menjadi kunci agar mahasiswa mampu membaca fenomena ruang secara langsung, bukan hanya melalui data. Dengan demikian, lulusan tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja.
Lulusan S1 SIG memiliki peluang karier yang luas di berbagai sektor. Mereka dapat bekerja di lembaga pemerintah (perencanaan wilayah, lingkungan, kehutanan, kelautan), kementerian agraria dan tata ruang, badan perencanaan pembangunan, perusahaan swasta (perkebunan, pertambangan, logistik), konsultan pemetaan dan riset, organisasi non-pemerintah (NGO), startup teknologi geospasial dan wirausaha di bidang layanan data geospasial.
Selain dilengkapi fasilitas pembelajaran seperti uang kelas dan laboratorium, prodi SIG juga telah merintis kerja sama dengan berbagai institusi strategis, seperti Badan Informasi Geospasial, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Pemerintah Daerah Kota Tual dan National Taipei University.
“Kami sudah mulai menerima mahasiswa pada tahun akademik 2026/2027 melalui berbagai jalur seleksi (SNBP, SNBT, Mandiri) dengan total kuota sekitar 80 mahasiswa,” terang Nugroho sembari berharap prodi S1 Sains Informasi Geografi tidak hanya mencetak lulusan berkualitas, tetapi juga mampu membangun reputasi akademik yang kuat. @TimHumas

