Tim PKM Unesa Soroti Maraknya Konten Bertema Kemiskinan di Medsos

PKM Mahasiswa Berdampak

Fenomena konten bertema kemiskinan di berbagi media sosial menjadi sorotan Tim PKM yang diketuai Giovanni Putri Olivia. Mahasiswa Prodi IPS Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unesa itu berkolaborasi dengan Sri Isna Ningsih asal Tuban dan Diah Ajeng Tristanti asal Jombang dengan dosen pembimbing Ali Imron.

Penelitian berjudul Market Poverty: Komodifikasi dan Eksploitasi Kemiskinan melalui konten social care di Media Sosial dari perspektif pancasila” itu menyoroti maraknya konten bertema kemiskinan, mulai dari video berbagi kepada masyarakat kurang mampu, konten prank sosial, hingga narasi self improvement yang dibangun dari kesenjangan sosial.

Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis konten dan studi kasus pada sejumlah akun media sosial, mereka mencoba membedah bagaimana kemiskinan dikemas menjadi tontonan yang menarik secara visual dan emosional. Selain itu, penelitian ini juga menggali motif di balik pembuatan konten, termasuk upaya kreator membangun citra sebagai sosok dermawan, inspiratif, atau dekat dengan realitas masyarakat.

Giovanni mengatakan, ide penelitian itu bermula dari keresahan terhadap fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat itu. Apalagi, dampak sosial yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan oleh audiens, tetapi juga oleh individu yang menjadi objek dalam konten tersebut.

Dari hasil pengamatan awal melalui analisis konten dan diskusi, Giovanni dan tim menemukan bahwa fenomena “market poverty” cenderung mengarah pada komodifikasi kemiskinan. Dalam banyak kasus, kemiskinan dijadikan alat untuk meningkatkan engagement dan popularitas kreator. Namun, di sisi lain, konten tersebut juga berpotensi meningkatkan kesadaran sosial. “Temuan ini menunjukkan adanya ambiguitas antara empati dan eksploitasi di ruang digital,” ujarnya.

Bagi Giovanni dan tim, pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga. Mereka belajar pentingnya kerja sama, konsistensi, dan keberanian mengangkat isu-isu kritis. Selain itu, juga membentuk pola pikir yang lebih terbuka dan tangguh.

Meski awalnya pesimis karena merasa masih mahasiswa baru dan takut bersaing dengan yang lebih berpengalaman, tapi setelah dijalani, sering latihan, dan peran dosen pembimbing menjadi faktor penting dalam perjalanan mereka. Giovanni berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mencoba Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Menurutnya, memilih topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru dapat menghasilkan ide yang lebih kuat dan relevan.

Baginya, PKM bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang proses belajar dan pengalaman yang membentuk cara berpikir mahasiswa. Dari keresahan sederhana di media sosial, lahirlah gagasan kritis yang mampu membuka ruang diskusi lebih luas tentang makna empati di era digital. @TimHumasUnesa

FARMORA Solusi Atasi Persoalan Lingkungan Kawasan Pesisir

Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang mengancam kawasan pesisir, Tim PKM Program Studi S1 Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya yang terdiri atas Oktavia Dwi Kasmadi (Ketua), Karna Abadi, Tri Murdihafan, Dinas Galih Saputra, dan Muhammad Hildan Saputra menghadirkan solusi melalui gagasan bertajuk FARMORA (Smart Aquaponic Reservoir).

Gagasan itu pun berhasil meraih medali perunggu dalam kategori poster pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Kreatif (PKM-VGK). Di balik capaian tersebut, tersimpan kegelisahan sekaligus harapan besar terhadap kawasan pesisir Morokrembangan Surabaya.

Ketua tim, Oktavia Dwi Kasmadi, menjelaskan bahwa ide FARMORA lahir setelah tim melakukan kajian langsung mengenai kualitas air di Bozem Morokrembangan melalui salah satu mata kuliah konservasi dan sumber daya alam lingkungan. Dari penelitian tersebut, mereka menemukan kenyataan bahwa kawasan itu mengalami pencemaran cukup serius.

Penurunan kualitas air menjadi penyebab utama memburuknya kondisi budidaya ikan di kawasan itu. Ikan-ikan rentan terserang bakteri Aeromonas hydrophila akibat kondisi perairan yang tercemar. Situasi tersebut menjadi titik awal lahirnya FARMORA, sebuah konsep yang menggabungkan teknologi, pertanian, dan pemulihan lingkungan dalam satu sistem terpadu.

Nama FARMORA menyimpan filosofi mendalam. Oktavia menjelaskan bahwa kata “FARM” merujuk pada pertanian, sementara “ORA” dimaknai sebagai waktu yang tepat dan harapan bagi kehidupan. FARMORA hadir sebagai simbol harapan bagi pertanian yang berkelanjutan, bagi kehidupan yang lebih sehat, dan bagi masa depan yang tumbuh dari keseimbangan antara manusia dan alam.

Dalam pengembangannya, tim memilih pendekatan Smart Aquaponic Reservoir. Sistem ini mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Selain itu, FARMORA juga diperkuat teknologi berbasis AIoT (Artificial Intelligence of Things) yang memungkinkan seluruh kondisi reservoir dipantau secara real-time.

Melalui berbagai sensor, sistem mampu membaca kualitas air, kadar pH, suhu, oksigen, hingga nutrisi. Data tersebut kemudian dikirim ke server digital untuk dianalisis secara otomatis. Jika ditemukan kondisi yang tidak sesuai, sistem dapat langsung memberikan respons melalui aktuator seperti pompa, aerator, maupun filtrasi air.

Konsep tersebut membuat pengelolaan budidaya menjadi lebih presisi dan efisien. Menurut Oktavia, keberadaan reservoir sebagai pusat pengelolaan air juga memungkinkan distribusi nutrisi berjalan lebih merata sehingga produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan.

Namun yang paling membedakan FARMORA dibanding sistem smart farming lain adalah pendekatan bioremediasi sebagai inti utama inovasi. Kalau sebagian besar sistem akuaponik modern itu hanya berfokus pada peningkatan produksi, FARMORA justru dirancang sekaligus untuk memperbaiki kualitas lingkungan pesisir.

Bagi tim FARMORA, masyarakat pesisir menjadi pihak yang paling diharapkan menerima manfaat dari inovasi ini, terutama kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pertanian skala kecil masyarakat pesisir. @TimHumasUnesa

id_IDID