Dari Hollywood ke Shenzhen: Ketika Dunia Mulai Bergeser ke Cina

Ririe Rengganis, Dosen FBS Unesa

Ririe Rengganis

            Selama lebih dari satu abad, dunia hidup di bawah bayang-bayang dominasi Barat. Namun, abad ke-21 memperlihatkan perubahan yang semakin sulit diabaikan. Perlahan tetapi pasti, pusat gravitasi dunia mulai bergerak ke arah Timur. Perubahan ini bukan sekadar perpindahan kekuatan ekonomi. Ia merupakan transformasi geopolitik, budaya, teknologi, dan bahkan peradaban yang sedang berlangsung di depan mata kita. Pertanyaannya bukan lagi apakah Cina sedang bangkit, melainkan seberapa jauh kebangkitan itu akan mengubah wajah dunia?

Shenzhen: Simbol Dunia Baru

            Jika Hollywood menjadi simbol kekuatan budaya Amerika, maka Shenzhen adalah simbol kebangkitan teknologi Cina. Berawal dari desa nelayan kecil di dekat Hong Kong. Kini kota tersebut berdiri perusahaan-perusahaan raksasa seperti Huawei, Tencent, DJI, dan berbagai startup teknologi berkembang di sana.

            Namun strategi Cina tidak berhenti pada manufaktur. Pemerintah Cina memahami bahwa negara tidak akan menjadi kekuatan global jika hanya berfungsi sebagai tempat produksi bagi perusahaan-perusahaan Barat. Oleh karena itu, mereka berinvestasi besar-besaran pada pendidikan, riset, teknologi, dan inovasi. Anggaran penelitian dan pengembangan mereka termasuk yang terbesar di dunia. Akibatnya, Cina mulai bertransformasi dari “workshop of the world” menjadi “laboratory of the world“.

            Perubahan global tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi. Legitimasi moral juga memainkan peran penting. Selama Perang Dingin hingga awal abad ke-21, Amerika Serikat sering memposisikan dirinya sebagai penjaga demokrasi, hak asasi manusia, dan tatanan internasional. Namun berbagai perang, intervensi militer, dan konflik internasional telah memunculkan kritik terhadap klaim tersebut. Di berbagai kawasan dunia, terutama Global South, muncul persepsi bahwa standar moral Barat sering kali diterapkan secara tidak konsisten.

            Dalam konteks inilah Cina tampil menawarkan narasi berbeda. Alih-alih menekankan ekspor ideologi, Cina lebih sering menawarkan kerja sama ekonomi, investasi infrastruktur, dan pembangunan konektivitas internasional melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative. Bagi banyak negara berkembang, pendekatan ini dianggap lebih pragmatis dibandingkan model hubungan internasional yang selama ini didominasi negara-negara Barat.

TikTok, Film, dan Perang Budaya Global

            Pergeseran dunia tidak hanya terjadi di bidang ekonomi. Budaya merupakan medan pertarungan yang sama pentingnya. Pada abad ke-20, dominasi budaya Amerika hampir tidak tertandingi. Film Hollywood, musik pop Amerika, dan berbagai produk budaya Barat membentuk cara dunia berpikir tentang modernitas.

            Kini situasinya mulai berubah. Platform seperti TikTok yang dikembangkan oleh ByteDance menjadi salah satu aplikasi paling berpengaruh di dunia. Jutaan orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari dalam ekosistem digital yang berasal dari Cina. Film, gim, animasi, serta industri hiburan Cina juga berkembang pesat. Pasar domestik mereka yang sangat besar memungkinkan lahirnya industri budaya yang mampu bersaing secara global. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh budaya tidak lagi mengalir satu arah dari Barat ke Timur. Kini arus tersebut semakin bersifat dua arah.

            Jika abad ke-20 ditandai oleh dunia unipolar yang didominasi Amerika Serikat, maka abad ke-21 tampaknya bergerak menuju dunia multipolar, yakni dunia dengan banyak pusat kekuatan sekaligus. Dalam dunia multipolar, tidak ada satu negara yang sepenuhnya menentukan arah sejarah. Pengaruh tersebar ke berbagai kawasan. Kondisi ini membuka peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk memainkan peran yang lebih aktif dalam percaturan global.

Indonesia di Persimpangan Sejarah: Menjadi Penonton atau Pelaku?

            Perubahan geopolitik global sedemikian besar membuka ruang bagi negara-negara berkembang untuk meningkatkan posisi tawarnya dalam sistem internasional. Indonesia berada tepat di tengah proses perubahan tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, Cina telah menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia sekaligus salah satu sumber investasi asing yang paling aktif. Hal ini memberikan peluang besar bagi percepatan pembangunan nasional yang selama ini terkendala oleh keterbatasan pendanaan dan teknologi domestik.

            Namun demikian, peluang tersebut tidak datang tanpa risiko. Dalam sejumlah kasus, negara penerima investasi justru terjebak dalam ketergantungan baru, menjadi pemasok bahan mentah, pasar konsumsi, atau lokasi produksi berbiaya murah tanpa pernah berhasil mengembangkan kemampuan teknologinya sendiri. Di sinilah tantangan terbesar Indonesia berada. Indonesia perlu memastikan bahwa setiap investasi asing menghasilkan transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan industri nasional, dan penciptaan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri.

            Oleh karena itu, agenda pembangunan Indonesia tidak boleh berhenti pada pembangunan jalan, pelabuhan, atau kawasan industri semata. Yang jauh lebih penting adalah pembangunan kapasitas intelektual bangsa. Pendidikan harus menjadi prioritas strategis, bukan sekadar program administratif. Universitas perlu diperkuat sebagai pusat produksi pengetahuan, bukan hanya lembaga pengajaran. Riset harus diposisikan sebagai investasi jangka panjang, bukan pengeluaran yang dapat dikurangi ketika anggaran mengalami tekanan.

            Dalam hal ini, pengalaman Cina memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kebangkitan Cina bukanlah hasil dari keajaiban ekonomi yang terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil dari strategi pembangunan yang konsisten selama puluhan tahun. Sejak era reformasi ekonomi pada akhir 1970-an, Cina secara sistematis membangun fondasi pendidikan, memperluas akses sains dan teknologi, mengirim jutaan mahasiswa belajar ke luar negeri, serta menginvestasikan dana dalam jumlah sangat besar untuk penelitian dan pengembangan. Hasilnya baru benar-benar terlihat beberapa dekade kemudian ketika Cina mulai memimpin dalam berbagai bidang teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, kendaraan listrik, dan lain-lain.

            Pelajaran penting yang dapat diambil Indonesia adalah bahwa transformasi nasional memerlukan visi jangka panjang. Selain itu, Indonesia juga harus memperkuat industri kreatif dan ekonomi berbasis pengetahuan. Pada abad ke-21 nilai ekonomi semakin banyak dihasilkan melalui produksi gagasan, informasi, data, budaya, dan teknologi. Dalam konteks ini, sastra, film, seni, media digital, dan berbagai bentuk produksi budaya tidak lagi dapat dipandang sebagai sektor pinggiran. Mereka merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang semakin menentukan citra dan pengaruh suatu bangsa di tingkat global.

            Korea Selatan contoh nyata budaya populer dapat menjadi instrumen diplomasi sekaligus sumber kekuatan ekonomi. Cina sendiri kini sedang berupaya melakukan hal yang sama. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan kekuatan budaya semacam itu, tetapi potensi tersebut memerlukan dukungan kebijakan yang serius dan berkelanjutan.

            Pada akhirnya, kebangkitan Cina merupakan cermin yang memperlihatkan apa yang dapat dicapai oleh sebuah bangsa ketika pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi ditempatkan sebagai prioritas nasional. Pertanyaan yang harus dijawab Indonesia adalah apakah Indonesia mampu memanfaatkan perubahan global tersebut untuk memperkuat dirinya sendiri?. Dan apakah Indonesia memilih menjadi penonton yang menyaksikan lahirnya tatanan dunia baru, atau menjadi pelaku yang ikut menentukan bentuk masa depan Asia dan dunia? @TimHumasUnesa

id_IDID