Baginya, jabatan adalah amanah dan tanggung jawab besar yang tidak untuk dikejar. Tetapi untuk diemban dengan hati, disyukuri, dan sebagai media berkontribusi. Sosok yang dikenal tidak neko-neko dan sederhana, berhasil membuktikan bahwa mimpi besar diraih dengan perjuangan panjang dan doa, dan diwujudkan untuk bermanfaat bagi sesama.
Sosok alumni inspiratif tersebut adalah Prof Drs Yoyok Soesatyo, SH MM PhD. Ia merupakan alumni Program Sarjana Muda Ekonomi Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Surabaya angkatan 1971 yang lulus pada 1975.
Awalnya, pria yang akrab disapa Yoyok itu berencana mengabdikan diri di kantor dinas kota atau daerah. Namun, takdir berkata lain. Ia justru mendapat beasiswa dan diminta menjadi asisten dosen pada 1976 atau satu tahun setelah lulus kuliah. Sebenarnya, waktu itu, ia mau keluar, tapi oleh Rektor, Prof Slamet Dajono justru diberikan beasiswa kader dosen. “Saya diangkat sebagai asisten dosen waktu itu sambil menjalani kuliah lanjutan,” terangnya mengingat momen titik balik tersebut.
Setelah belajar sembari mengajar, Yoyok diberikan amanah menjadi kepala bagian Biro Registrasi (cikal bakal BAAK). Amanah jabatan tidak berhenti sampai di situ, setahun kemudian, ia dipercaya sebagai bendahara program Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) dan Program Sekolah Lanjutan Atas (PGSLA). “Pagi sampai malam, saya tidak pernah pulang karena pagi mengajar dan belajar, siangnya mengurus PGSLP dan PGSLA,” ucapnya mengingat kembali masa penuh pengabdian pada lembaga.
Berturut-turut kemudian, Yoyok diberikan amanah mulai dari Kepala University Press (UNIPRES), Kepala Prodi (Kaprodi) Pendidikan Ekonomi, dan Pembantu Dekan 2 selama dua periode. Terkait jabatan, Yoyok mengaku tidak perlu dikejar. Sebab, jika sudah garisnya maka akan sampai juga. “Yang penting kita ikhlas, lillahi taala dalam melaksanakan amanah, jangan korupsi, dan sesuai SOP, tidak aneh-aneh,” ujarnya.
Karier Yoyok semakin mentereng. Setelah mengemban amanah sebagai Pembantu Dekan 2, pada 1990, ia diberikan amanah menjadi dekan. Ia juga berkesempatan melanjutkan kuliah S-3 di Malaysia, tepatnya di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia. Lulus kuliah dari luar negeri, Yoyok kembali lagi ke almamater Unesa dan tetap mengabdikan diri.
Pada masa Prof Muchlas menjadi Rektor Unesa, sekitar tahun 2014, ia berhasil menjadi Guru Besar Ilmu Pendidikan Ekonomi. Ia mengaku idak pernah menyangka bisa menjadi guru besar. Tak lama setelah mendapat gelar Guru Besar, ketika Rektor Unesa dijabat Prof Warsono, Yoyok kembali diberi tantangan. Ia diminta membuka Badan Pengelola Usaha (BPU) pada 2016 sebagai motor penggerak agar setiap unit kerja di Unesa memberikan kontribusi dan keuntungan. Begitupun dengan fakultas yang bisa memberikan kontribusi dengan efisiensi. “Dengan membuka BPU menjadi bukti nyata kecintaan saya pada ilmu ekonomi dan saya terapkan untuk berkontribusi ke almamater,” bebernya.

Tantangan Mengubah Mindset
Kiprahnya tersebut tentu bukan tanpa tantangan. Waktu itu tantangan terbesar yang dihadapi adalah mengubah mindset bahwa setiap unit usaha harus semaksimal mungkin memberikan keuntungan pada Unesa. Ia mencontohkan jika unit usaha A merekrut tenaga kerja luar, maka harus ada keuntungan yang didapatkan Unesa. Kemudian, jika unit usaha B diberikan modal maka harus tahu keuntungannya. “Jika tidak bisa memberikan untung, ya akan dihentikan,” tutur Yoyok.
Pada awal pendirian BPU tahun 2016, Yoyok bersama tim bekerja dengan fasilitas yang masih sederhana di kampus Ketintang. Namun, hal itu tidak menyurutkannya untuk terus berkontribusi. Pada 2017, Yoyok dan tim membuat pedoman yang harus dilaksanakan oleh unit usaha di seluruh Unesa agar sesuai aturan dengan merujuk peraturan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemen PAN) untuk memberikan kontribusi kepada lembaga.
Sukses mendirikan BPU, Yoyok kembali mendapatkan tantangan baru. Kali ini, ia mendapatkan amanah sebagai Ketua Senat karena waktu itu Unesa berubah dari Perguruan Tinggi Negeri Satuan Kerja (Satker) menjadi Badan Layanan Umum (BLU) pada 2018. Ia terpilih menjadi ketua senat periode 2018-2020. “Belum sampai habis karena pada 2019, saya sudah pensiun” ujarnya.
Sebagai Ketua Senat, Yoyok selalu memegang prinsip bekerja dengan amanah, lillahitala, jujur dan tidak aneh-aneh. Hal ini pula yang ingin disampaikan kepada para generasi muda di era sekarang. Apalagi, zaman sekarang sudah serba enak. Semuanya tersedia. Ia juga menegaskan bahwa pintar saja belum cukup, tapi harus dibarengi adab dan berbakti kepada orang tua.
Dosen yang Juga Wirausahawan
Sebagai dosen Ekonomi, Yoyok tidak hanya berbicara teori, tapi juga mempraktikkan dengan membuka berbagai usaha. Sembari menjadi dosen, ia telah membuka 10 usaha dalam bentuk CV, PT, dan sekolah. Ia juga mendirikan 12 Perguruan Tinggi di Jawa Timur melalui Yayasan Pendidikan Sosial. Visi misi yayasan ini sangat mulia yakni agar rakyat Jawa Timur tidak menjadi “pispot” orang asing. “Salah satunya Universitas Bangkalan yang kini menjadi Universitas Trunojoyo Madura (UTM),” jelasnya.
Selain itu, ia juga pernah menjadi direktur PT bergerak dalam film bersama Ratno Timoer dengan film “Si Buta dari Goa Hantu.” Tak berhenti di situ, mantan Ketua Umum Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) selama 10 tahun juga mendirikan 2 sekolah SMA yaitu SMA Generasi Muda dan SMA Candra Kartika.
Konsep sekolah ini terbilang unik karena mewadahi masyarakat miskin dan yang sudah berpenghasilan. Murid SMA siang sebagaian besar anak tidak mampu, seperti pedagang koran, tukang semir, tukang becak, pedagang asongan sehingga bayarnya SPP semampu mereka, kekurangannya ditutup dari beberapa bisnis. Sementara, murid SMA malam semuanya pegawai seperti Brimob Ngindep, marinir, pegawai RS Dr Sutomo, pelabuhan perak dan pemda.
Untuk berwirausaha, pendiri lembaga pengembangan pendidikan Indonesia (LP2I) dan Dewan Pengawas Gabungan Pengusaha UMKM Rakyat Indonesia (GAPURA) itu berpesan agar menata niat dulu, karena niat adalah kunci berwirausaha. “Jika sudah ada keinginan berwirausaha maka ikhtiar, realisasikan, apapun hasilnya tetap harus bersyukur,” pungkasnya. @azhar

