Salah satu kemampuan yang penting untuk diukur dalam dunia olahraga adalah kelincahan. Terdorong kebutuhan itulah, tim Peneliti Unesa melakukan penelitian berjudul Pengembangan Alat Ukur The Alacrity sebagai Alat Pengukur Kelincahan Berbasis Sensor.
Ketua Tim Peneliti, Dr Nur Ahmad Arief, MPd mengatakan, saat ini, masih banyak pelaku olahraga maupun lingkungan akademik menggunakan metode manual dengan stopwatch yang berpeluang terjadi kesalahan dan kurang objektif. Ketergantungan terhadap keterampilan operator dalam mengoperasikan stopwatch dapat menimbulkan bias data. “Hal itu tentu dapat merugikan atlet maupun pelatih, karena hasil pengukuran tidak selalu mencerminkan kondisi nyata,” ujarnya.
The Alacrity, bisa menjadi solusi karena alat ukur kelincahan ini berbasis sensor. Alat ini, kata Arief, dirancang sebagai pengganti metode pengukuran manual (stopwatch) yang masih dominan digunakan. Dengan memanfaatkan teknologi sensor dan sistem aplikasi komputer, The Alacrity mampu mendeteksi pergerakan atlet secara otomatis dan menampilkan hasil pengukuran dalam bentuk data real-time. “Hasil pengukuran dapat digunakan sebagai dasar analisis performa atlet secara lebih valid, sehingga membantu perencanaan dan penentuan program latihan yang lebih tepat,” terangnya.
Dosen S1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi itu menuturkan, The Alacitry memiliki potensi besar digunakan di seluruh cabang olahraga. Sebab, hampir seluruh cabang olahraga membutuhkan pengukuran kelincahan, mulai dari bulutangkis, bola basket, sepak bola, bola voli, hingga MMA. Potensi pasarnya pun yang sangat besar di Indonesia, mulai dari sekolah olahraga, klub profesional, serta program pembinaan atlet usia dini. “Data digital yang dihasilkan memungkinkan analisis kuantitatif terhadap performa atlet, sehingga dapat mendukung riset di bidang keolahragaan,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Arief, alat ini juga dapat digunakan di pusat kebugaran (fitness center) dan dapat digunakan dalam dunia pendidikan yang memerlukan pengukuran kemampuan fisik ataupun kebugaran peserta didik secara berkala. Penelitian ini juga bertujuan mendorong hilirisasi hasil riset universitas agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat luas.
Arief menjelaskan, dalam proses pembuatan The Alacrity, ada beberapa tahapan yang harus dilalui tim peneliti Unesa beserta mitra. Tahapan dimulai dari perancangan desain alat, manufaktur komponen sensor dan perangkat keras, perakitan (assembly), hingga pengintegrasian dengan sistem perangkat lunak. Setelah prototipe selesai, tim peneliti melakukan uji coba laboratorium untuk memastikan keakuratan dan keandalan alat. “Selanjutnya, dilakukan uji coba lapangan dengan melibatkan pengguna (user trial), hingga sertifikasi produk untuk memastikan standar mutu dan keselamatan, sebelum nantinya akan dikomersialisasikan secara luas,” jelasnya.
Cara kerja The Alacrity sebagai alat pengukur kelincahan menggunakan sistem sensor berbasis IoT (Internet of Things). Sensor-sensor itu ditempatkan pada beberapa titik di lintasan uji kelincahan. Ketika atlet melewati titik-titik tersebut, sensor akan mendeteksi gerakan dan mengirimkan data secara otomatis ke komputer. Selanjutnya, data tersebut diproses dan ditampilkan secara real-time melalui aplikasi komputer berbasis windows. “Dengan cara ini, pelatih serta atlet dapat secara langsung mengetahui hasil pengukuran secara detail, tanpa harus melakukan perhitungan kembali secara manual” tuturnya.
Memiliki Berbagai Keunggulan
Salah satu tim peneliti, Nurhayati mengatakan, dibandingkan dengan stopwatch, The Alacrity memiliki berbagai keunggulan. Pertama, menghasilkan pengukuran jauh lebih akurat. Kedua, proses pengukuran lebih efisien. Ketiga, data yang diperoleh tersimpan dalam bentuk digital dan mudah diolah kembali dalam evaluasi jangka panjang. “Dengan keunggulan itu, The Alacrity berpotensi besar menggeser metode lama dalam pengukuran kelincahan,” ungkapnya.
Selain hasil pengukuran, The Alacrity juga berfokus pada analisis gerakan yang dihasilkan. Menurut Nurhayati, setiap gerakan yang melewati sensor akan memunculkan data secara detail. Tampilan data pada setiap gerakan itu dapat memudahkan pelatih dan tim analisis performa dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan atlet sehingga saran latihan dapat diberikan secara maksimal dan tepat sasaran. “Penerapan sistem ini memberikan manfaat yang besar bagi dunia pendidikan,” imbuhnya.
Penelitian ini juga membuka peluang integrasi dengan teknologi lain seperti wearable devices yang dapat digunakan pelaku olahraga untuk merekam lebih banyak parameter fisik. Pengembangan lebih lanjut juga dapat mengarah pada penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam menganalisis data kelincahan, mendeteksi pola pergerakan, dan memberi rekomendasi program latihan secara otomatis. “Integrasi semacam ini akan meningkatkan nilai tambah produk serta memperluas manfaatnya” tambahnya.
Tim peneliti memiliki berbagai rancangan rencana dalam pengembangan alat ini ke depannya, meliputi penyempurnaan desain alat agar lebih ergonomis dan mudah digunakan, peningkatan kualitas sensor, serta produksi dalam skala lebih besar. Selain itu, tim peneliti Unesa juga merencanakan untuk pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), integrasi dengan aplikasi mobile, dan penyusunan strategi branding produk untuk memperluas jangkauan pasar.
Sementara itu, terkait upaya komersialisasi alat, Arief mengungkapkan bahwa dari segi finansial harga jual alat ini ada pada kisaran Rp 20 juta per unit dengan biaya produksi sekitar Rp 15,5 juta. Dengan target penjualan minimal satu unit per bulan, alat ini dapat memberikan ROI positif.
Tim penliti berharap, The Alacrity dapat menjadi standar nasional dalam pengukuran kelincahan atlet di Indonesia. Dengan demikian, atlet dan pelatih dapat memiliki acuan yang objektif dalam menilai performa fisik. Tim juga berharap produk ini dapat terus berkembang hingga generasi selanjutnya dan dapat diproduksi massal, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan prestasi olahraga di Indonesia.
Untuk diketahui, Tim Peneliti ini terdiri atas Dr Nur Ahmad Arief, MPd (bidang tes dan pengukuran olahraga), Dr Nurhayati, ST, MT (bidang teknik elektro), Testa Adi Nugraha, MPd (bidang ilmu keolahragaan), Dr Andre Dwijanto Witjaksono, MSi. (bidang manajemen dan bisnis) dan Asjrul Hilal, ST (mitra industri CV Sarana Teknologi Industri). @hasna

