Di balik kesibukan sebagai Wakil Dekan bidang II Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Ketua Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APSTPI), Andi Kristanto menyimpan sisi lain yang jarang diketahui banyak orang. Pria kelahiran Nganjuk, 2 April 1981 ini memiliki hobi mengoleksi barang-barang antik serta menekuni dunia bisnis.
Ketertarikan profesor bidang model pembelajaran online ini pada barang antik berawal sejak sepuluh tahun lalu, tepatnya pada 2015 silam. Awalnya, ia melihat barang antik itu kok unik dan di era sekarang jarang ditemui. Akhirnya, ia mulai suka mengoleksi barang antik. “Dari situ kecintaan terhadap barang antik muncul sampai sekarang,” ujarnya.
Andi Kris-sapaan akrabnya-menceritakan berbagai koleksinya yang semakin beragam. Mulai dari keris, meja kayu besar yang kokoh dari pohon jati, bufet tua, sepeda onthel klasik, hingga motor jadul seperti Honda CB Dilan tahun 1973 dan Honda Prima. Selain itu, ia juga menyimpan radio, telepon jadul, jam dinding, jam meja, hingga berbagai koin kuno yang sudah jarang beredar. Tentunya masih banyak barang klasik yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
“Setiap benda punya ceritanya sendiri. Bahkan, ada yang saya dapatkan dari pasar loak, ada pula dari teman yang pulang kampung, ada yang saya pesan khusus sampai ke Solo, hingga beli lewat online,” jelasnya.
Saking cintanya pada koleksi barang antik, rumahnya dipenuhi sentuhan antik di berbagai sudut. Dari ruang tamu hingga teras, koleksi itu terpajang rapi dan menunjukkan sisi estetika. “Kalau masuk ke rumah saya, seperti masuk museum,” guraunya.
Lebih dari sekadar koleksi, ia menilai barang-barang antik ini menyimpan filosofi mendalam sebagai nguri-nguri budaya atau melestarikan peninggalan masa lalu. Rumah di kampungnya, bahkan masih memiliki rumah joglo kayu berarsitektur tradisional Jawa dengan empat pilar penyangga. Itu adalah warisan dari keluarganya.
“Barang antik itu ibarat investasi. Semakin lama, nilainya semakin mahal. Namun, bagi saya yang utama tetap suka dan kebanggaan bisa merawatnya,” kata guru besar yang menahkodai Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APSTPI) itu.
Di ruang kerjanya di kampus pun, ia tata dengan tema serupa. Di ruangannya terpajang gitar lama, kursi tahun 90-an yang sengaja ia pertahankan, telepon jadul, televisi tabung, hingga radio klasik yang masih menyala. Semua itu berpadu menciptakan nuansa seakan siapa pun yang masuk kembali ke masa lampau.
Baginya, ruang kerja bukan sekadar tempat menyelesaikan administrasi dan urusan akademik, melainkan juga ruang personal yang mencerminkan dirinya. Ia ingin menghadirkan rasa nyaman, sekaligus pengingat bahwa sejarah dan kenangan masa lalu selalu punya tempat di tengah kesibukan hari ini. “Saya ingin suasana kerja terasa seperti rumah sendiri. Kampus adalah rumah kedua saya,” ujarnya.

Tekuni Bisnis
Selain koleksi barang antik, Andi Kristanto juga memiliki hobi lain yang tak kalah menarik, yakni jual beli motor dan mobil bekas. Berbeda dengan ketertarikannya pada barang antik yang sudah ia tekuni sejak sepuluh tahun lalu, dunia otomotif ini baru benar-benar digeluti sejak setahun terakhir.
Awalnya, kegiatan ini lahir dari hobi sekaligus pengetahuannya tentang mesin sejak SMA. Saat itu, ia banyak bergaul dengan teman-temannya yang memiliki bengkel. Dari situlah ia belajar mengenal kondisi mesin dan seluk-beluk kendaraan. “Kalau laki-laki dulu kan sering kumpul bahas motor. Dari teman-teman bengkel itu, saya jadi tahu soal mesin dan kendaraan,” kenangnya.
Dosen kelahiran 1981 ini tidak pernah menyangka hobi yang semula hanya sebatas obrolan ringan semasa sekolah, kini berkembang menjadi usaha nyata. Setiap akhir pekan, ketika tidak ada aktivitas di kampus, Andi memanfaatkan waktunya untuk berbisnis kendaraan. “Kalau hari Senin sampai Jumat saya fokus penuh di kampus. Sabtu-Minggu saya gunakan untuk menyalurkan hobi ini. Jadi tetap seimbang dan produktif,” ceritanya.
Menariknya, usaha ini dijalankan bersama sang istri. Ia lebih banyak menangani urusan teknis kendaraan, sementara sang istri mengambil peran di bidang pemasaran. Keduanya berkolaborasi dengan baik, sehingga usaha tersebut ternyata mampu menghasilkan penjualan yang sangat banyak.
Dalam menjalankan bisnisnya, Andi Kris dan sang istri juga memanfaatkan jaringan pertemanan dan komunitas, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Kendaraan ia dapatkan dari relasi-relasi yang sudah terbentuk, lalu dipasarkan kembali kepada pembeli. “Namanya jual beli ya pasti beli, kemudian dijual lagi. Dari relasi itu akhirnya banyak yang terjual,” tambahnya.
Ia mengungkapkan bahwa bisnis yang ia tekuni selaras dengan visi Unesa sebagai entrepreneurship university, di mana siapa saja bisa memiliki semangat kewirausahaan tanpa harus meninggalkan profesi utama. Baginya, dosen tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga dapat menjadi teladan dalam mengembangkan jiwa usaha.
Menurutnya, usaha ini sekaligus menjadi bentuk learning by doing. Dari pengalaman langsung, ia belajar bagaimana membangun jaringan, memahami pasar, hingga mengelola pemasaran bersama orang terdekat. “Minimal kita bisa memulai dari hal kecil. Dari situ, harapan ke depannya bisa memberikan manfaat lebih luas, misalnya dengan memberi kesempatan kerja bagi orang lain,” tutupnya. @Ja’far

